Puisi

Yang Merangsang Antologi Puisi Indrha Gamur

Kau tak perlu meresah desah Lakukan itu dengan hati gembira Sebab itu akan lebih nikmat. Itu yang Dia inginkan darimu, kita.       

(Indrha Gamur)

Yang Merangsangmu

Sore ini aku memesan kesabaran
Pada sebuah gubuk hati.
Di sana ada berbagai variasi rasa.
Hitung-hitung gratis selagi ada kesempatan.
Mengapa tidak?
Asiklah, menggoyang lidah penuh gairah.
Cinta selalu merangsangmu ilusi untuk pulang
Memeluk pelik dan luka pada tubuhmu.

Kekasih, boleh minta alamatmu?
Aku ingin mengirim surat.
Sepertinya pesan Whatsapp itu tidak ada artinya bagimu.
Oh, kutau tubuhkulah yang paling kau butuh seutuhnya.
Oke, begini saja kau kawinkan dulu rindumu dengan lukaku.
Setelah itu kita sah.
Sebelum semuanya becek dan basah di ranjang puisi masing-masing, sayang.

Baca Juga :   Puisi-Puisi Alexander W. Wegha

(Surabaya, Januari 2021)

Baca juga : Aku Masih Mencari Bayanganmu Antologi Puisi Paulus Lunga
Baca juga : Samudra Kasih Ibu Antologi Puisi Wandro J. Haman

Aroma Tubuhmu

Sudah petang, kau tak kunjung datang
Kopi hampir habis
Lipstik di bibir cangkir itu kini hilang.
Kukira, kau yang akan datang menghapusnya langsung tepat di bibirku.

Aku telah menyiapkan waktu untukmu
Sekaligus merapikan rindu kita yang kadang terbengkalai.
Juga sebagian dari aroma tubuhmu
Telah kujadikan pewangi malam kelam

Baca Juga :   Kembang Api Perjumpaan Antologi Puisi Yohan Matabuana

Besok Minggu, kamu bisa datang ?
Kalau bisa, kabari aku.
Jangan tunggu dikabari terus.
Kita saling membutuhkan, bukan.

Tuhan mengatur segala temu.
Yang perlu kau lakukan adalah
Rajin-rajinlah datang ke kamarnya tiap malam.
Ajak Dia bicara.

(Surabaya, Januari 2021)

Baca juga : Rimbun Kepala Antologi Puisi Maxi L Sawung
Baca juga : Rindu yang Sempat Riuh

Tak Perlu Meresah Desah

Di paragraf terakhir ini,
Aku ingin mengatakan, waktu kita adalah pagi hingga malam.
Kalau malam ini, kau mengalami sebuah sepi.
Selamat merayakan itu.
Sebab di sana kau menemukan diriku lebih lama dari biasanya.
Lebih lembut dari malam Minggu yang sebelumnya.

Baca Juga :   Keping-keping Rahasia

Kita akan mengecan satu persatu kata-kata
Mencium bait-bait hingga letih untuk merayu tanpa merajuk
Memeluk syair penuh romantis
Ahh, pokoknya kuserahkan diriku pada puisi paling intim malam ini

Aku lupa kata apa yang kupakai nanti.
Kau yang tak suka dengan segala keseksian kata-kata.
Tapi tenang , kau tak perlu meresah desah.
Lakukanlah dengan hati yang gembira
Sebab itu akan lebih nikmat.
Dia, menginginkan itu darimu, dari kita
Jangan kwatir. Percayalah.

(Surabaya, Januari 2021)

Indrha Gamur

Penulis buku antologi puisi ” Rasanya seperti rindu tetapi entah apa namanya dan sebagai pemimpin redaksi Banera.Id


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button