Puisi

Yang Meracuni Antologi Puisi Indrha. Gamur

Selamat jalan, pergilah dalam damai, kenangan. Kau harus tau bahwa mulut yang menguyah puisi adalah darah yang kau jilat di antara diksi dan aksara rindu yang paling anjing, kadang kita harus seganas itu, untuk menikmati luka.

     Indrha. Gamur

Yang Meracuni


Di sudut ruang kerja sore itu
Sepasang bahu bersander pada tembok
Sambil berkaca, kulihat sepasang mata sedang berkaca-kaca, seperti menahan gelombang deras hujan di retinanya.

Tangan, gemetar untuk mengeja ini dengan jelas.
Kepala yang dipenuhi kata-kata
Pikiran yang begitu kacaunya.
Kugigit sesak itu dalam-dalam diam-diam
Ingin kutampar, yang ada setumpuk pikiran memukul sebagian dari tubuhku.

Baca Juga :   Kekasih Antologi Puisi Erlin Efrin

Semesta, bisakah kau baca kata di mataku?
Bisakah kau dengar lirih dalam diamku.
Bisa jugakah kau melihat duri di tubuhku?

Kuinjak sekali lagi air mata
Namun, sepertinya nafasnya panjang
Muak dengan segala tingkah
Tapi rindu meracuniku
Iya rindu,….
Sekali lagi rindu…memelukku erat

Apa kau tau itu???
Ini rindu, yang bukan main-main
Untuk kau main-mainkan
Asmara kadang seanjing ini.
Muak.

(Surabaya, Januari 2021)

Baca Juga : Hujan Di Pertengahan Januari Antologi Puisi Erik Bhiu
Baca Juga : Bangku-Bangku di Gereja


Selamat Jalan


Sebelum senja merengsek pulang
Dengan segala kegaduhan di dada
Kumengemas sebagian cemas
Untuk kukeramas, barang membasuhnya adalah keteduhan malam.

Baca Juga :   Tuhan ada Dimana ?

Pada paragraf ini, dengan segala keberanian aku mengatakan ini.
Selamat jalan, selamat berbahagia
Damai dengan tenang di rumahnya.
Kenangan, sekali lagi selamat jalan.

Pergilah dalam damai.

(Surabaya, Januari 2021)

Baca Juga : Perihal Rindu Antologi Puisi Ella Mogang
Baca Juga : Ina Ada yang Patah Selepas Mengenalmu

Rindu yang paling Anjing

Di Suatu kesempatan nanti, aku berjanji
Pada senja yang sama, aku mengunjungi pusaramu
Membawa kembang sebagai lambang kasihku padamu
Kepada kenangan dan kata-kata yang penuh romantis di punting asmara
Terimakasih, sudah membuat puisiku
birahi menyetubuhimu seutuhnya

Baca Juga :   Bukan Asu Antologi Puisi Maxi L Sawung

Aku telah mati bersamamu
Ragaku ini hanya tersisa serpihan luka
Yang teramat lama sembuhnya.
Kamu yang tenang, itu bukan menghantuimu
Tapi rasakan bahwa mulut yang mengunyah puisi adalah darah yang kau jilat di tiap diksi dan aksara rindu yang paling anjing.
Tenanglah, kadang kita perlu seganas itu untuk menikmati luka.

(Surabaya, Januari 2021)

Baca Juga : Dalam sepi yang masih terlalu dini Antologi Puisi Yofri
Baca Juga : Tak Bisa Membohongi Rasa

Indrha. Gamur

Penulis buku antologi puisi ” Rasanya seperti rindu tetapi entah apa namanya” dan juga sebagai ketua pemimpin redaksi Banera.Id.


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button