cerpen

Usap Air Matamu dengan Ujung Jubahku

Foto: Nusantaranews

Penulis: Yogi Djuharyono

Mentari kembali membias menghadirkan pagi yang baru. Matahari mulai bermunculan menawarkan senyuman sumringah cahayanya bagi dunia. Melalui sela-sela kecil menerobos dinding menjadikan semuanya terlihat amat jelas. Hiruk pikuk pagi hari terasa lebih menarik, selimut-selimut kembali dirapikan, taman-taman kembali dibasahi air karena sejak seminggu hujan tidak turun, lantai-lantai bergemilang bagaikan cermin, asap-asap kembali mengepul, aroma-aroma jagung bakar memantik hidung bagaikan seekor anjing mencium bau daging, anak-anak kecil merengek meminta selembar uang karena kios-kios kembali mengantungkan barang-barang mainan dan makanan. Hari itu berbeda dengan suasana yang dirasakan hari-hari biasanya.

Tepatnya hari Minggu. Hari Minggu menjadi hari yang istimewa. Selain tentang ke gereja, tetapi banyak juga orang menjadikan hari Minggu sebagai wahana untuk menjalin silahturami antar sesama dengan saling mengunjungi, berkumpul-kumpul berbagai cerita takkala perayaan atau ibadat di gereja selesai. Ada pula yang diwarnai dengan mengisi Natas (halaman tengah kampung) dengan permainan bola voli ataupun hanya sekadar menghabiskan canda di tengah cengkrama. Menjadi bagian dari penghuni kampung kecil jauh dari kebisingan kota memang tidak pernah luput dari perhatian rindu. Ada-ada saja aktivitas yang terjadi. Pun pemandangan yang semakin memanjakan mata. Semua orang terlihat sibuk dengan berbagai aktivitasnya masing-masing. Ada yang mengambil bagian dalam permainan, ada yang hanya sebagai pemberi semangat. Bermodalkan tepukan tangan, semakin meriahkan suasana. Tak berani ke dalam garis lapangan. Sudah cukup jika menjadi penghuni garis luar lapangan. Namun, bertindak ibarat pemain handal. Demikianlah yang terjadi. Tentu, suasana ini sangat dirindukan disaat semua orang kembali menjalankan aktivitas hariannya. Ada anak-anak pergi sekolah, orang muda dan orang tua kembali berkerja ke ladang atau pun merantau dan itu yang membuat suasana kampung menjadi seperti kuburan, amat sepi.

Jam menujukkan pukul 08.30 pagi itu, semua orang mempersiapkan diri untuk mengikuti misa hari minggu. Kebetulan misa hari itu akan ada kunjungan dari Romo Pastor paroki untuk merayakan perayaan ekaristi. Biasanya, kunjungan seperti itu dilaksanakan oleh Romo Pastor Paroki setiap bulan sebagai bentuk pelayanan bagi umat di Stasi.

Tepat pukul 09.00 suasana kampung untuk sementara terlihat sepi karena semua orang telah beralih tempat, menaiki anak tangga, menelusuri jalan menuju Gereja. Aku adalah seorang Frater yang baru saja datang untuk berlibur, namaku Dino. Hari ini menjadi minggu pertamaku merayakan ekaristi di kampung. Seperti biasa menjadi seorang Frater segala keperluan yang menyangkut ekaristi menjadi bagiannya karena itu merupakan bidang yang mesti menjadi tanggungjawabnya. Ekaristi minggu itu berlangsung dengan khidmat. Partisipasi yang ditujukkan oleh umat sangat terasa dan benar-benar sebuah perayaan penyelamatan. Selesai misa, di sakristi saya bertemu dengan pastor paroki. Perbincangan di ruangan kecil, tidak berlangsung begitu lama karena romo mesti minggat untuk merayakan ekaristi di paroki. Di depan Gereja saya bediri memandangi arah kampung yang amat ramai dipenuhi orang-orang yang baru pulang merayakan ekaristi. Aku pun tak mau meninggalkan suasana menyenangkan itu. Ku-stater motor dan memacunya menyusuri jalan sempit menuju perkampungan. Aku berjalan sendiri tanpa ada yang kuboncengi di motorku. Sesampainya di pertigaan tidak jauh dari Gereja, aku dikagetkan, teryata ada suara yang membuntutiku dan memanggil namaku. Kuinjak rem segera dan memandang ke arah suara. Saat kupandang teryata seorang gadis yang memanggilku. Ia berlari kecil menuju ke arahku dan sesaat aku kaget memandang parasnya yang begitu indah dan menawan. Bagaikan seorang permaisuri yang berlari-lari kecil mendapatkan pangerannya di taman istana, ditemani bunga-bunga yang menawarkan senyumnya, angin sepoi membuat rambut si permaisuri terurai tebang mengikuti angin. Sungguh cantik dan anggun parasnya. Seketika aku tertegun, kata pun tak berani keluar. Membisu tanpa memejamkan mata. Memang Tuhan sungguh baik, bisa menciptakan bidadri secantik ini. Atau ketika bisa kugombalinya, ‘lelaki yang paling bodoh di dunia ini adalah mantan, karena bisa meninggalkan bidadari secantik dia.”

“Hai, Kak”, menyapaku sedikit tersipu malu.
“Hai”, balasku tanpa memejam mata, memandang matanya, bibirnya yang mungil dibalut senyum begitu menawan. Namanya Mona. Adik kelasku dulu waktu SMP. Rumahnya tidak jauh dari rumahku, hanya diselingi oleh tiga rumah. Dia sudah kukenal sejak lama. Di mata banyak orang, Mona dikenal sebagai wanita yang pandai dan suka membantu, cantik dan bijaksana. Pernah suatu ketika, orang-orang di sekitar rumahku menceritakan dia pernah membopong seorang gila yang jatuh terpeleset hingga kakinya patah akibat terkena batu. Orang-orang di kampung sangat jijik melihat orang gila itu, karena ia jorok dan suka bermalas-malasan. Tanpa memikirkan banyak hal, dia menarik lengannya dan menggendongnya ke rumahnya. Sampai di rumah dia membalut lukanya dan memberi dia makan. Orang tua Mona sempat melarang untuk membantu orang gila itu. Tetapi dia berkata, “bapa, mama, dia juga manusia seperti kita. Dia sedang membutuhkan pertolongan kita. Dia pantas dilayani seperti kita manusia normal karena dia juga mempunyai harga diri. Yesus saja datang untuk bergaul dengan orang-oranga gila, kenapa kita tidak baik seperti Yesus? Hidup di dunia ini bukan untuk memikirkan diri sendiri tetapi perlu juga memperhatikan mereka yang menderita. Mendengar cerita tersebut aku sangat termotivasi.

“Mona kamu mau kemana?”, tanyaku singkat.
“Ini kak, tadi aku ditinggalin sama teman-tamanku di depan Gereja, bolehkah saya nebeng dengan kaka? Pikiranku langsung melayang. Aku melihat seperti ada bayangan-bayangan cinta di matanya yang siap untuk diungkapkan. Dia membuatku tersipu. Aku sebenarnya malu untuk mengaminkan permintaannya, karena biar bagaimanapun juga saya tetap menjaga status saya sebagai seorang Frater. Tapi tak apalah, lagian ini juga boncengan gratis, apa salahnya aku memboncenginya lagi pula dia tetanggaku dan saya juga sudah mengenalnya sejak lama meskipun baru kali ini saya berpapasan langsung dengannya, memandang matanya, senyumnya. Dia masih mematung di hadapanku, menunggu kepastianku. “Baiklah Mona, lagian aku juga mau langsung ke rumah”. Dia kembali menebarkan senyumnya, membuat aku lupa diri dan ingin menyampaikan apa yang saya rasakan saat itu. Andai aku bisa membaca pikirannya, mungkinkah perasaanya sama seperti yang kurasakan. Ataukah dia melakukan ini, hanya mau menyelamatkan diri dari jalan kaki dan takut berkelana di bawah panas terik matahari yang menyengat siang itu? Ingin hati kecilku berbicara mengatakan semuanya. Tapi aku belum tahu bagaimana perasaanya kepadaku. Saya harus tau diri dan tidak boleh tepengaruh. Sepanjang perjalanan tidak ada suara sedikitpun yang keluar mewarnai penjalanan siang itu. Hanya terdengar bunyi mesin motor menyusuri naik turunya jalan. Saat aku pun menurunkannya di depan rumahnya, aku tak berani mengatakan apa-apa. Benar-benar hanya menumpang. Begitupun sebaliknya dia enggan untuk bersuara. Yang saya harapkan sebelumnya mungkin hanya akan menjadi khayalanku sepanjang hidup. Aku pun melupakan kisah saat boncengan tak disengajakan itu. Di tanganku kupegang ponsel pintarku dan mulai memainkan jari-jariku di atas layarnya. Betapa kagetnya saat kulihat ada pesan masuk di messenger darinya.

“Kak, apa kabar? Maaf menganggu. Saya hanya mau ucapkan terima kasih untuk boncengannya kemarin”. Begitulah awal ia memulai percakapan. “Iya, sama-sama, Mona. Saya baik-baik saja”, tukasku pelan-pelan. Saya pikir dia hanya mau mengatakan itu. Sebaliknya aku tidak berani membahas suatu yang baru.
“Aku Sayang Kaka”. Kata-kata yang begitu memukul mentalku dan betapa kagetnya dia memulai mengeluarkan kata romantis itu. Saya tak tahu harus menjawab bagaimana, bahkan tak berani membalas pesan itu. Adalah lelaki egois ketika saya membiarkan wanita telah mencurahkan perasaanya dan saya begitu mudah mengabaikannya. Tetapi itu takkan menjadi masalah, memang perasaan tak pernah dibohongi. Sebagai manusia saya pun memiliki rasa untuk mencintai. Bisakah seorang Frater mencintai sekaligus memiliki? Mencintai tak harus memiliki, dan aku hanya boleh mencintainya tanpa memilikinya. Tetapi bagaimana dengan perasaanya? Bukankah mencintai itu juga bagaimana aku menghargai perasaan seseorang. Aku benar-benar bermain dengan pikiranku sendiri. Aku memutuskan untuk menjawabnya.

“Mona, memang perasaan tak bisa dibohongi. Tapi kau tau, aku bukan seperti lelaki biasa di luar sana. Saya mempunyai status sebagai seorang frater. Bisakah kau mencintai seorang Frater?”, tanyaku padanya.
“Itu tak menjadi masalah buat saya, Kak, asalkan saya mencitai seorang yang sudah mengerti segalanya dan saya tidak salah mencintai kakak. Tolong hargai perasaan saya, Kak”, mulutku pun terbungkam. Perkataan sekaligus permohonannya mampu menjebakku untuk keluar dari diriku sendiri. Aku pun teringat ketika aku memakai jubah, saat merayakan ekaristi di hari Minggu. Jubah itu sangat berarti bagiku dan aku tak boleh menodainya, meskipun aku sedikit terjatuh dan goyah oleh perasaan yang berkecamuk dalam diri. Aku tak boleh meninggalkan jubah hanya karena tidak mampu menahan godaan. Jika aku tetap ingin memakai jubah itu, jangan pernah memiliki seseorang. Boleh mencintainya hanya dengan memilikinya dan mengaguminya dari jauh. Aku benar-benar mengerti apa artinya sebuah pilihan. Pilihan yang menjadi titik tolak untuk tetap berpegang teguh terhadap apa yang menjadi tekadku. Mau tidak mau, yang sudah menjadi pilihanku tak boleh diganti oleh pilihan lain. Karena lama tak membalas, akhirnya dia menelponku, dan aku tak tahu dari mana dia mendapatkan nomor ponselku.

“Kakak, aku sayang sekali pada kakak”, katanya. Aku pun menjawabnya dan membuatnya mengerti,
“Mona, kau lihat jubah yang saya pakai hari Minggu? Jika aku memiliki seseorang, berarti aku menodai jubah itu, dan sama halnya mengkianati Tuhan. Cinta tak harus memiliki, Mona. Maaf aku tak bisa memilikimu. Sebelum kau mencintaiku, Tuhan telah memilikiku sejak pertama. Dan jika kau mau, berteman adalah pilihan terbaik untuk kita. Sekali lagi, maaf”. Entah mengapa aku begitu bijaksana mengatakan itu, sampai aku tak memikirkan bagaimana perasaannya ketika mendengar kata-kataku. Dia menangis dan langsung menutup telpon, tanpa mengakhirinya dengan kata-kata. Aku benar-benar tidak kecewa, karena lebih baik aku menyakiti hatinya sekarang, ketimbang nanti di saat dia sedang sayang-sayangnya, terus meninggalkannya. Aku bukanlah yang terbaik untuknya. Aku yakin di luar sana masih ada laki-laki yang bisa membahagiakannya dan mencintainya lebih daripadaku. Dia akan bahagia ketika ada orang yang memberi sapu tangan untuk mengusap air mata kesedihannya dan mencintainya dengan tulus dan setia. Aku pun akan bahagia ketika aku mengusap air mata banyak orang dengan ujung jubahku.

Baca Juga :   Pilkada

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Periksa Juga
Close
Back to top button