cerpen

Untukmu Pahlawan Nian Tanah

Foto:Blogspot.com

Penulis: Agustina Dalima
(Guru SDK Mauloo,Sikka)

Malam gelap membekas di bumi Nian Tanah tercinta
Kabut menyelimuti diiringi angin sepoi basah
Akhirnya membawa rintik hujan
Yang menerpa di malam nan gelap

Engkau berada di antara semua orang
Dimatamu terlihat semangat membara jiwa
Kau pahlawan Nian Tanah tercinta
Jasamu takkan usai dicerita generasi

Kau pertahankan ketentraman warga
Dari Covid 19 yang mewabah di seantero jagat
Rasamu tak ingin melihat rakyat Nian Tanah
Terpuruk,menjerit dan tercekik

Engkau bulatkan tekad pada tujuan
Kesejahteraan dan keselamatan jiwa
Adalah gambaran sosok pribadimu yang merakyat
Jiwamu tak dapat berdusta oleh kobaraan semangat jiwa
Demi tanah Nian Tanah tercinta

Baca Juga :   Perempuan-Ku

Pengorbananmu yang begitu luhur
Semesta dan leluhur memelukmu dalam restu
Terima kasih wahai pahlawan Nian Tanah
Bapak Fransiskus Robertus Diogo

Goresan Cinta untuk Ayah

Hari berlarut dalam waktu
Memisahkan daku darimu
Kini dalam dian dan termangu seakan hadir
Sosokmu yang menggeterkan kalbu

Kau yang mengajariku akan arti hidup
Kau yang pertama mengajariku berbicara dan menyapa
Kua adalah tiang penyangga dalam keluarga
Yang tak perna lelah apalagi mengeluh dalam bekerja

Baca Juga :   Duapuluh Sembilan November

Engkau yang merenda hari-hariku
Engkau yang merajut makna hidup dan cinta
Kini memilih pergi sebagai akhir petualangan
Tercatat goresan kisah tak lekang oleh cerita

Ayah,
Engkau adalah guru perihal makna hidup
Perihal cinta pernah pula kau lantunkan
Kau merenda tapak-tapak kecilku hingga aku tahu
Dan aku meski paham
Engkau adalah utama dan berarti bagi petualangku

Kini,
Semua sebagai cerita
Namun guratan wajahmu dan sosokmu ayah
Seakan hadir dalam setiap banyanganku
Kau adalah nafas hidupku,kau adalah pahlawanku

Baca Juga :   Tentang Sebuah Kisah

Ayah,
Dalam sujud doaku
Tenanglah dalam keabadian
Tersenyumlah untuk semua cinta

Suara Hatiku

Suara hatiku membara
Jangan kau kenang cerita itu
Jangan kau simpan gamerbak itu
Tak perlu kau lukis di hatimu

Itu hanyalah fatamorgana
Itu hanyalah sandiwara semata
Yang pernah terlintas hanya sesaat
Yang mengumbar senyuman paksaan

Suara hatiku berkata
Tak usah terlena dengan rayuan
Tak usah percaya dengan puitisnya kata
Pun terjebak dalam pelukan

Akhirnya semua berlalu
Dan kau hanya terpaku
Menatapnya yang sudah berlalu
Dan akhirnya menjauh

Editor: Edid Teresa

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button