Opini

Tuhan yang Tertuduh

Foto: Pinterest

Penulis: Hironimus Edison
(Mahasiswa STF Widya Sasana Malang)

Ketakutan dan kecemasan manusia berhadapan dengan Covid-19 akan terus berlangsung dalam sejarah ke depan. Tidak ada yang dapat memprediksi kapan pandemi ini akan berakhir. Semua orang di berbagai belahan bumi akan terus mengadu dan mengeluh tentang keganasan virus ini.

Selain berpasrah pada penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilakukan oleh pihak medis, manusia mencoba menghadirkan Tuhan dalam wabah ini. Tuhan juga turut serta dalam pengaduan itu. Dimanakah Tuhan dalam pandemi covid-19 ini? Inlah pertanyaan keterbatasan manusia di hadapan pandemi ini. Untuk itu, tulisan ini tidak hendak mengabsolutkan paradigma keterlibatan Tuhan untuk menyelesaikan pandemi ini. Ini adalah gugatan nurani sebagai orang beriman sambil terbuka pada ilmu pengetahuan.

Allah vs Penderitaan Manusia

Pertanyaan-pertanyaan yang senantiasa memersoalkan eksisteni Tuhan lahir dari fakta penderitaan yang dihadapi manusia. Keberadaan Tuhan senantiasa dipersoalkan ketika sakit dan penderitaan belum juga hilang dari peradaban manusia. Berhadapan dengan fakta penderitaan, manusia selalu bertanya apakah Tuhan ada? Jika Ia ada, mengapa semua penderitaan dan sakit yang dialami manusia belum berakhir?

Kemaharahiman dan Kemahakuasaan Tuhan tidak luput dari perhatian dan pertanyaan manusia. Jika Tuhan Maharahim, mengapa Ia membiarkan manusia mengalami penderitaan? Bukankah penderitaan mengungkapkan kemurkaan atau kemarahan Tuhan? Meskipun Kemaharahiman-Nya tetap diakui, namun kemahakuasaan-Nya pun tidak luput dari serangan. Jika Ia mahakuasa, mengapa Ia tidak mau melenyapkan penderitaan yang ada dan dialami manusia? Ketika semua penderitaan dan sakit ini tetap merajalela, bukankah itu mengungkapkan bahwa Ia tidak lagi menyandang predikat Mahakuasa?

Baca Juga :   Indonesia Surga Kita Bersama

Rangakaian dan deretan pertanyaan di atas masih bisa ditambah. Litani gugatan eksistensial akan Tuhan pun masih bisa diperpanjang. Semuanya akan semakin tidak tertampung ketika peradaban manusia tengah menghadapi wabah covid-19. Suatu wabah yang bahkan tidak pernah terprediksi atau terpikirkan sebelumnya. Hempasan wabah ini sungguh-sungguh mengubah sejarah dan peradaban manusia. Agenda-agenda terbaik yang direncanakan bagi peradaban dan perkembangan planet bumi ini pun menjadi beku dihadapan wabah pandemi ini.

Segala lini kehidupan manusia menjadi lumpuh. Jabat tangan, perjumpaan, saling sapa, saling cerita, kebaktian agama sebagai ekspresi iman, kini menjadi ‘mati’ dan tidak punya arti lagi. Relasi antarmanusia kini terdikte di bawah narasi agung ‘jaga jarak’. Relasionalitas dan solidaritas yang menjadi kodrat manusia kini direduksi ke dalam dokrtin ‘tetap di rumah’. Predikat ens sociale yang dikenakan pada manusia, untuk sementara tidak mendapatkan ungkapan praksis. Perjuampaan di media sosial menjadi salah satu alternatif, walaupun kadang-kadang kurang efektif. Namun, itulah situasi yang menuntuk kita hari-hari darurat ini.

Peradaban manusia dan dunia seolah berjalan mundur, Tuhan pun kini dipertanyakan. Ia menjadi yang tertuduh berhadapan dengan risiko yang dibawa oleh wabah covid-19 ini. Apakah Dia yang menghendaki semua ini? Jika bukan Dia yang menghendakinya, mengapa Ia tetap diam dan tidak menghalau semua penderitaan ini dengan kuasa-Nya? Singkatnya, di hadapan semuanya ini, berkeluh kesah kepada Dia yang Tertinggi ternyata tidak ada gunanya. Yang layak bagi-Nya ialah menjadi yang tertuduh.

Baca Juga :   Meredam Politik 'De Vide Et Impera' di Era Globalisasi

Tuhan Tidak Diam

Tuhan seolah sedang diam. Dia seolah-olah sedang mengafirmasi dirinya sebagai yang terdakwa. Semua tuduhan kini diarahkan pada-Nya. Dia sungguh-sungguh menjadi “yang tertuduh”. Apakah Tuhan benar-benar sedang diam? Apakah Ia tidak peduli dengan nasib dan penderitaan manusia abad ini? Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini secara afirmatif (ya) tentu ada benarnya. Namun itu tidak berarti bahwa semuanya benar.

Tuhan pastinya tidak sedang diam. Dia juga tidak sedang acuh terhadap nasib manusia. Ia tetap bekerja dan memedulikan apa yang sedang dialami manusia saat ini. Ini tidak berarti bahwa jawaban yang melulu spiritual dapat dibenarkan begitu saja. Misalnya, orang dengan mudah menjawab bahwa Tuhan mengajari manusia lewat covid-19 untuk bersikap baik terhadap alam semesta. Dia sedang mengajari manusia untuk beriman dan bertobat.

Covid-19 tentu dengan sendirinya tidak mematikan kasih dan solidaritas antarmanusia. Di berbagai belahan bumi kita saksikan masih ada banyak orang yang menghayati perintah cinta kasih dan solidaritas kemanusiaan. Mereka adalah saksi dari kebaikan Tuhan itu sendiri. Mereka semua, dengan penuh kehormatan, saya juluki sebagai saksi ulung cinta kasih. Dengan penuh keberanian, tanpa takut, dan bahkan bertarung nyawa, mereka berjuang bagi kesembuhan dan keselamatan hidup orang lain. Mereka itulah yang menjadi saksi bahwa Tuhan tidak sedang diam. Dia turut bekerja melalui mereka. Dia masih tetap peduli dengan nasib manusia.

Baca Juga :   Paradoks di Wajah Kaum Muda

Kehadiran wabah covid-19 ini mungkin menjadi peringatan bagi manusia bahwa revoluis industri 4.0 ini dengan segala kecerdasan artifisialnya bukanlah satu-satunya menjadi jawaban bagi kemajuan peradaban. Manusia tidak akan pernah menjadi Homo Deus sejati. Manusia kapan dan di mana pun tetap menyandang predikat sebagai ciptaan Allah. Artinya, manusia tidak akan pernah menjadi Allah kapan dan di mana pun. Manusia tetaplah manusia dan Allah tetaplah Allah. Segala kreasi dan inovasi yang dihasilkan oleh manusia di era revolusi 4.0 ini hanyalah ungkapan dari partisipasinya pada rencana agung Allah demi kemajuan dunia dan keselamatan manusia. Allah tentu tidak menghendaki bahwa demi perwujudan revolusi industri 4.0 manusia harus dikorbankan. Karena itu. di tengah segala perjuangan bagi perwujudan revolusi industri 4.0 ini, manusia tidak boleh mengabaikan Allah, manusia dan ciptaan lainnya.

Bukti dari Allah yang tidak diam dalam situasi sekarang pasti bisa ditambahkan. Namun dalam tulisan ini, saya membatasi diri hanya pada uraian di atas. Semua itu menjadi wakil yang representatif guna menjawab pertanyaan di awal. Meskipun manusia menuduh Allah namun Ia tidak boleh menjadi yang tertuduh. Manusia harus mampu melihat posisinya sendiri berhadapan dengan segala ambisinya untuk menjadikan dunia hanya sebagai materi semata yang terlepas dari Penciptanya. Dengan demikian, setiap orang mampu melihat siapa yang patut menjadi terdakwa di atas semuanya ini.

Editor: Pepy Dain

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button