Puisi

Tuhan ada Dimana ?

Tuhan ada Dimana ?
Lihat !
Corona pun kian beringas
bersikeras tak mau lekas
Mengapa Tuhan biarkan bumi tertindas

Johan Kabul

Tuhan ada Dimana ?

Waktu yang bengis
Mengiring dunia menangis
Semua seolah gagal fokus
Segala cita menjelma ironis
Sedang virus keluyuran tak putus

Luka trauma semakin membekas
Terus tergores
Corona pun kian beringas
bersikeras tak mau lekas
Sampai semua orang tak waras
Dirasuki bumi berbau amis

Corona sadis
Menjelma Tuhan menjadi Iblis
Sembari Ia biarkan bumi tertindas
Merapal doa bagai melibas
Aku tak iklas,
Tuhan sampai kapan ini beres?

Baca Juga : Danau Penantian

Baca Juga : Tuan Malam Antalogi Puisi Ilak Sau

Durjana Mendamba Nirwana

Penulah bintang di angkasa
Tak beratur di mana-mana
Tetap saja memanjakan mata
Seolah kutatap surga
Konon katanya indah tiada tara

ku kembali menutup mata
sedang jari menari berirama
pada gitar tua lantunkan nada
sembari sesekali kutatap cakrawala
terpesona pada indah alunan nada
menapak jejak kembali nuansa lama

aku kembara durjana
kadang kembali pada raga angkara
membayang dulu penghuni neraka dunia
lantas aku dipanggil durhaka

aku merapal dalam nestapa
termenung dibalik tembok menara
mulut merapal merangkai kata
mantra berupa doa
kini menjadi kembara nirvana
mendulang upah berharga
kelak nanti di Surga

Baca Juga : Covid-19 Menyebabkan Banyak Orang Banting Setir Jadi Pedagang Online

Baca Juga : Antologi Puisi Banera.id Spesial Hari Puisi Nasional

Hujan Merintik Rindu

Tak ada bulan; tak ada bintang
Hanya langit malam sepi
Di ranjang aku dipasung mendung
Mengintip langit dibalik jeruji

Hujan perlahan merintik mengusik mendung
Sembari rindu mengukir hati
Jauh terbang membayang
Sesosok gadis belia tak disisi
Rindu berirama dibalik bayang
Semakin menjadi-jadi

Gadis belia itu menjadi sebab aku menjadi pemulung kata
Ia adalah wadah kata yang kurangkai menjadi puisi
Padanya aku tersanjung
Walau puisiku tak ia mengerti

Pada langit-langit bangsal hujan berdenting
Seolah mengundang rindu untuk menghampiri
Hujan merintik rindu terbendung
Sampai aku terlelap di alam mimpi

“Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere..”

Baca Juga :   Kamu, Hujan, Kopi Dan Sepiring Jagung Rebus

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button