cerpen

The End Of The Story

Foto: Pinterest

Penulis: Petrus Nandi
(Mahasiswa STFK Ledalero Maumere, tinggal di Biara Scalabrinian)

Pertemuan kita bermula dari sebuah ketaksengajaan. Aku masih ingat malam pertama, saat kau nekat datang dengan rasa berani yang telah dijinakkan oleh gairah libidal-mu. Jam dua belas malam. Kau membahasakan cintamu secara tulus dan aku menyerahkan diriku sepenuhnya pada permainanmu di atas ranjang ini. Malam pertama adalah malam dengan sejuta rasa paling sempurna sebab malam itu tak begitu ramai dan dunia merestui kita untuk saling menghayati. Kita ada dalam sebuah nikmat yang sama, tidur di bawah naungan malam edan penuh nikmat dan nafsu.

Aku sering menghabiskan malam dengan banyak laki-laki di sini. Yang sempat terjalin di antara kami tidaklah lebih dari saling memanfaatkan. Mereka menggerayangi tubuhku yang kencang hingga nafsu tumpah ruah di atas ranjang. Aku tentu harus berjuang menampakkan diriku sekian seksi di mata mereka, bila perlu bisa menyaingi chorus girls dari Coney Island. Dengan begitu, aku tak akan sia-sia membayangkan banyaknya uang yang akan mengisi kantongku selepas adegan-adegan seru yang kadang sedikit melelahkan karena sebagian dari mereka kuat. Hanya itu.

Tapi bersamamu, aku merasakan yang spesial. Dalam ruang mini yang berserakkan breshold dan celana dalam bekas ini, aku benar-benar menghayati cinta yang sesungguhnya. Raut wajahmu yang tulus menampakkan kharisma yang membuat aku mengalami bahwa cinta itu lebih dari sekedar pelempiasan nafsu. Lagipula, malam itu kita merangkum segala tentang hidup: cinta, cita, perjuangan, masa lalu, mimpi, luka, harapan. Semuanya mengiringi langkah malam menuju pagi. Sangat indah.

Garis hidupku sudah seperti ini, sayang. Terlahir dari percintaan gelap perempuan pelacur dan seorang anggota dewan perwakilan rakyat yang mengkhianati istri dan kedua anaknya, sering ditinggal-pergi oleh ibu sejak usia 3 tahun, hidup hanya berkat melelangkan tubuh kepada para lelaki pecandu sex pada malam-malam gelap, kerab disapa pelakor pembawa sial dan dewi perusak bahtera percintaan orang lain.

Darah perempuan pelacur itu telah mengalir dalam diriku. Dan jadilah aku seorang pelacur pula “bukankah daun selalu jatuh tidak jauh dari pohonnya?” Dan kami memang pelacur. Perempuan yang melacurkan diri demi memastikan bahwa hari ini kami bisa bernafas. Perempuan yang melelangkan tubuh hanya untuk memenangkan penderitaan yang entah karena dosa apa ia menghantui kami. Kami melacurkan diri hanya untuk menunjukkan pada dunia bahwa kami layak dianggap pahlawan pejuang kehidupan, meski satu-satunya cara yang mungkin adalah dengan menggauli pekerjaan hina ini. Ya, pekerjaan hina dalam pandangan orang. Tapi bagi kami ini pekerjaan mulia. Tidak banyak perempuan berani menggiati pekerjaan ini, hebat bukan?

Baca Juga :   Nostalgia Alarm Tua

Aku memang tak pernah bermimpi atau mengharapkan nasib ini ada dalam genggamanku. Kau tahu siapa diriku dan latar belakangku. Dan kau bilang, “Cinta berada di atas segalanya, cinta tak pernah memandang asal dan latar belakang.” Malam itu, kau mengabaikan catatan buruk dalam lembar hidupku. Kau bilang pula, “Cinta tak pernah tunduk pada takdir dan nasib.” Pun aku percaya dan merasa nyaman padamu. Kita terlarut hingga pagi memaksa mata kita terbuka lalu bergegas melapisi tubuh dengan pakaian dan lanjut menikmati hari baru.

Kita tarik garis perpisahan sementara: engkau pergi menunaikan tugasmu sebagai ayah dan suami bagi anak-anak dan istrimu sembari membawa siasat yang telah kau siapkan andaikata seisi rumah menanyakan alasan engkau mangkir di rumah semalam; sementara aku kembali merapikan ranjang yang setia menjaring mereka yang datang menyerahkan lembar-lembar merah berharga di atas perutku.

Malam pertama menyisakan kenikmatan luar biasa. Kita sontak candu pada kedurhakaan yang kita ciptakan sendiri. Ada nikmat yang menarik raga kita menelusuri malam-malam edan berikutnya. Sebulan, satu sampai tiga kali, hingga kita menganggap segalanya biasa dan berlangsung wajar-wajar saja. Tidak ada perasaan takut dan bersalah.

Aku tidak merasa dirugikan, bahkan ketika kau dengan jujur mengatakan bahwa kau tidak punya apa-apa, sampai rahasia kekurangan sayur dan garam di dapur istrimu pun kau paparkan di atas ranjang ini. Toh aku merasa tak layak bila kita bersusah-susah saling memberi penghargaan. Mencintaiku dengan tulus, itu sudah cukup bagimu untuk tidak perlu mengorbankan anak dan istrimu. Yang penting mereka dapat makan seharian. Itu adalah berkah bagimu. Barangkali Tuhan memandang baik kemurahan hatiku ini. Bukankah seorang pelacur berhak untuk diampuni juga?

Hari ini, aku mendengar kabar kurang enak tentang ibu. Penyakit yang selama setahun belakangan ini menderanya semakin parah. Ia mengidap kanker payudara. Aku di Kupang sementara ia sedang menjerit di Kefamenanu. Jarak antara kedua kota ini memang cukup jauh. Untuk bisa tiba di sana orang-orang harus bertahan dalam bis Antarkota dalam Provinsi selama 4 sampai 5 jam dengan rasa gerah dan panas yang mencekam. Orang hanya merasakan sensasi kesegaran sesaat jika bis melintasi Boentuka, Benlutu dan Kota Soe yang terkenal sangat dingin itu.

Ibu memang baru berpindah ke Kefamenanu sebulan yang lalu. Dulu kami tidak menghabiskan cukup banyak waktu untuk tinggal bersama karena kami harus berpindah-pindah mencari tempat-tempat yang ramai dikunjungi laki-laki. Amat jarang kami mendiami rumah kami di Oesapa. Setelah ia meneleponku dari Kefamenanu dan mengabarkan padaku betapa penyakit sangat garang menderanya, semuanya menyisakan rindu yang besar. Aku benar-benar merindukannya saat ini.

Baca Juga :   Malam Tak Berembulan dan Suara Seram Menakutkan

Tentang ibu: namanya Dorothea. Dorothea Kasinuba. Hari senin minggu lalu, ia berulang tahun ke-65. Usia yang cukup senja, yang memaksanya berhenti menjadi pelacur. Ia telah bulat memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya di Kefamenanu, kota kelahiran dan tempat ia menghabiskan masa kecil yang keras karena harus berjuang hidup seorang diri tanpa ayah dan ibu yang meninggalkannya saat berumur 8 tahun dalam kecelakaan mobil keluarganya. Ibu tidak bersuami. Ia tidak cukup tertarik untuk hal itu. Tapi ia punya dua orang anak. Semuanya hasil percintaan gelap. Yang pertama adalah aku. Yang kedua berselang satu tahun denganku adalah seorang laki-laki.

Tentang anak laki-laki itu: ia dibuahi secara tak terencana. Lelaki yang tidur bersama ibu pada suatu malam bermain sampai terlelap di atas perutnya hingga lupa membuang maninya di luar yang berarti peraturan awal mereka dilanggar. Saat mengandung, ibu tak lagi mendapat jejak laki-laki dungu yang terkesan baru belajar sex itu. Ibu tak dapat menanggung sendiri masa depan anak itu. Untungnya, sesaat setelah melahirkan, sepasang suami istri Tionghoa yang tidak beranak menyampaikan ikhtiar mereka mengadopsi anak itu. Ibu tak sempat memberi nama padanya.

Sayangnya, dalam tempo beberapa bulan saja, properti mereka perlahan hilang entah mengapa dan mereka bangkrut total. Jadilah anak itu mereka jual sebab dalam mimpi, sang suami diberitahu seorang malaikat bahwa anak itu adalah pembawa sial bagi bisnis keluarga mereka. Entah kepada siapa, entah ke mana, ibu tidak sempat menguraikannya padaku. Yang pasti, ibu tahu benar di mana ia sekarang. Katanya, anak itu sudah menjadi seorang pegawai negeri sipil di kota karang ini. Sudah beranak dua. Ibu telah lama memantau kesehariannya secara diam-diam. Ia tidak berani menampakkan diri dan mengatakan suatu hal dengan jujur padanya. Ibu tahu, anak itu akan merasa sedang dikunjungi seorang perempuan gila.

Kau pun pernah mengaku punya nasib yang sama denganku, punya masa lalu yang sulit. Engkau menghabiskan sebuah malam untuk berbagi cerita denganku tentang semuanya. Tentang engkau yang dijual oleh orangtuamu meski kau ragu apakah mereka benar-benar orangtua kandungmu sebab mereka adalah keturunan Tionghoa sementara wajahmu bercorak sangat asli orang Timor. Engkau pernah merasakan hidup berpindah-pindah dari tangan ke tangan para orangtua angkatmu hingga kau memutuskan untuk melepaskan diri dari mereka saat kau benar-benar otonom sampai menjadi seorang pegawai negeri sipil.

Kita sudah dua jam berada di atas ranjang ini. Malam masih merestui kita menuntaskan nafsu di sini. Tapi aku merasakan lain dari yang kau rasakan. Aku tidak lagi menikmati ragam-ragam yang kita mainkan ini. Aku sedang dicekam gelisah. Kalut. Kecut. Takut kehilangan ibu. Ibu sudah puluhan kali meneleponku dari RSUD Kefamenanu agar aku pergi menjenguknya. Sementara jarum penunjuk jam sudah bertengger di angka 10. Tidak ada lagi bis yang bakal melaju menuju Kefamenanu. Rasa tak berdaya menghantuiku. Hingga kau bertindak heroik. Kau menelepon istrimu bahwa malam ini engkau tidak pulang karena berdinas di luar kota, selalu alasan ini yang kauutarakan bila engkau menghabiskan malam bersamaku selama ini.

Baca Juga :   Telaga warna

Empat setengah jam perjalanan telah dilalui bersama mobilmu, kita pun tibalah di RSUD Kefamenanu. Buru-buru aku menggapai ibu yang sudah kian tidak berdaya di tempat tidurnya. Aku menangis. Amat jarang aku melihat dia selemah itu. Kau menyusul dari belakang. Tiba-tiba, ibu menyapamu, “Anak-ku”. Dan kau bertingkah selayaknya orang yang tak memiliki hubungan apa-apa sama dia. Sekali lagi-kali ini dengan nafas yang nyaris putus,ia menyapamu, “Anak-ku”. Engkau bergeming. Bingung, tak tahu harus berkata apa.

Semua orang pasti menjadi sama seperti dirimu kala berhadapan dengan seorang perempuan yang baru pertama kali bersua dan mengaku diri sebagai ibu kandung mereka. Sementara mereka tak cukup yakin dengan itu. Tapi ibu masih bersikeras meyakinkanmu. “Dokter, tolong cek DNA saya dan anak saya ini”. Ibu memohon pada dokter, “Aku ingin menghabiskan sisa nafasku dalam pelukannya”. Ia menatapmu dalam. Dokter mengamini. Kau pun turut saja, masih dengan seribu tanya yang melintasi alam sadarmu. Aku terus menangis di sebelahnya.

Dua jam berselang. Dokter muncul dari sebuah ruangan lain. “Selamat ibu, lelaki ini adalah anak ibu. DNA ibu cocok dengannya”, tukas dokter sambil menyodorkan hasil tesnya. Seketika, kebekuan mencair dari kepalamu. Kau menangis sejadinya sambil memeluk ibu. “Anakku” “Iya ibuku, Panggil aku Anugerah, anak ibu.”
“Aku telah menemukan kedamaian yang selama ini kucari. Maafkan ibu, nak”.
“Risma”, sambil menarik tubuhku ke dalam pelukan kalian berdua, ibu bilang padaku, “Inilah Anugerah, saudara kandungmu.” Suara ibu semakin mengecil. Kian mengecil. Dan akhirnya hilang bersama hembusan nafas terakhirnya. Tangisan pun pecah mengiringi duka, bahagia dan haru, serta rasa bersalah yang mendalam yang menyelimuti dua bersaudara,kita berdua, di hadapan jenazah ibu.

Puncak Scalabrini, Maret 2020.

*Cerita ini adalah saduran untuk kisah hidup seorang wanita anonim yang pernah menghabiskan malam bersama penulis dalam kapal penumpang “Inerie”, dari Kupang menuju Aimere pada bulan Juli tahun 2015 silam. Sebuah pertemuan yang mustajab, sebab dari sanalah penulis memahami betapa hidup itu sulit dan kesabaran adalah obat ampuh penawar luka dan derita yang datang dari masa lalu.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button