cerpen

Terjaga Saat Senja

Penulis: Dionisius Derson Lajang
(Siswa Kelas VIII SMPK Alvarez Paga)

Senja beranjak terbit dari peraduannya
Sedang aku masih merangkak terjaga dalam lelapku
Alamku bangun seketika membuka tirai kehidupan
Apa gerangan wajahnya yang termakan usia
Pergi saat aku masih belia
Datang seketika di hadapan wajahku

Dia wanita terhebatku
Dia yang sedari dalam Rahim telah merangkulku
Ia pergi tanpa kata yang tersisa
Ia membalutiku dengan kain dari sepongah keringat
Bercucuran menopangku meski langkahnya tertatih-tatih membututiku

Baca Juga :   Rindu yang Sempat Riuh

Kini senja
Di antara batas lamunan dan ingatan
Biarkan bayangnya mengejarku
Hadir di sini bersamaku
Meski ragamu hanya sebatas ilusi

Di Atas Batu Ini, Aku Berdiri Sendiri

Di sini di kegelapan ini
Ku berdiri sendiri
Kuterombang-ambing sendiri
Di atas batu ini

Batu engkau bagaikan kapal yang tanpa nahkoda
Yang terombang-ambing di atas laut yang hampa
Tak ada nada dan kata
Yang ada di laut ini

Baca Juga :   Karya-Karya SMP Negeri 4 Lembor (2)

Batu tak ada cahaya yang menerangimu
Hanya ada kegelapan dalam kesendirian
Ku harapkan segera berlalu
Menyambut cahaya dan meninggalkan kegelapan
Yang keluar dari batu yang berdiri tegak untukmu

Kurindukan Cintaku

Rindu,
Tak bisa ku ucapkan kata-kata lagi
Selain puisi yang kubuat ini
Tentang dia yang seperti pelangi
Dia seperti mewarnai, pergi tanpa pamit

Baca Juga :   Puisi-Puisi Maxi L. Sawung

Rindu,
Kurindukan dirinya
Bagaikan sosok inspirasi
Yang memberi banyak motivasi
Seperti hujan
Yang membasahi hati dan pikiranku

Rindu,
Kapan kutemukan cintaku
Dan kapan kami akan bertemu
Hanyalah rindu dalam hati ini
Yang dapat mengobatinya

Editor: Edid Teresa

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button