Puisi

Seselimut Denganmu Antologi Puisi Indrha Gamur

Di luar masih hujan, malam ini seselimutlah denganku, kita butuh kehangatan, bukan?

(Indrha Gamur)

Seselimut Denganmu

Selepas rintik memberi waktu untuk jeda.
Di sudut dapur kutemukan kata-kata patah
Bag kaca yang telah pecah
Sulit untuk dirangkul kembali, utuh

Gemercik gerimis menepi tipis di atas atap rumah.
Suara alam menenggalamkanku pada mendung yang kian tak terbendung lagi

Semenjak sajak itu kutinggal tidur sendiri
Ia kehilangan gairah, hingga kini.
Di sore yang lembut itu, kukembali membujuknya
Namun, yang kudapat seberkas caci-maki.

Tak ada sentuhan, bahkan tak ada tanda untuk berbincang.
Tunas-tunas gundah mulai tumbuh.
Mestinya aku tak memberimu jeda,
.

Puisi yang kukasihi, bukan bermaksud menyakiti.
Tapi, entah kenapa aku merayakan kehilangan selama itu.
Beri aku maaf, ini kubuat yang kau mau.

Baca Juga :   Untukmu Pahlawan Nian Tanah

Salam kecup paling mesra, kekasih
Kau tau, di mana aku menjelaskan rindu? di hatimu.
Di luar masih hujan, malam nanti seselimutlah denganku.
Kita butuh kehangatan, bukan?

(Surabaya, Desember 2020)

Baca juga Yang Terjadi Ketika Malam Antologi Puisi Maxi L. Sawung

Yang Selalu Buang Ke Luar.

Tak terhitung lagi, lagu yang diputar.
Masih saja lugu, sendu beserta diam yang kian menjadi-jadi
Menatap langit kamar, ada memar di kalbu, sepertinya.

Seingatku, pernah sekali kita menitip janji
Pada selembar kertas, dilengkapi tanda tangan.
Yang jelas, itu adalah ulasan rindu yang tak terbaca dengan jelas, pedas memang.

Baca Juga :   Puisi-Puisi Afriana

Begitu banyak air yang buang di luar
Mata, memang seasik dan serumit itu.
Tanpa aba-aba, ia keluar sederas itu
Tisu di kamar habis, berlapis sadis.

Ada yang tersendat,
Dekat tapi terasa sekat
Dada penuh sesak.
Segerombolan tanya membuntutinya dalam hening

Barangkali, temu adalah penawar dari semua tanya yang menderu pun janji itu
Ya,…..
Itupun jika kau sudah bersedia setia.
Jika tidak. Berhenti membuat itu, janji
Daku muak.

(Surabaya, Desember 2020)

Baca juga Kelana Embun Pagi Antologi Puisi Andi Hotmartuah Girsan

Kau Yang Tanpa Jadwal

Beradu pandang lewat Maya
Menetap tatap dibalik layar
Mencumbui rindu di antara ribuan kilometer jarak

Baca Juga :   Puisi-Puisi Maxi L. Sawung

Malam yang syahdu
Pagi yang begitu lembut,
Jua petang yang tenang mengecup kening yang dingin, yang paling di ingin.

Samar-samar lampu kamar redup.
Kerlap kerlip hiasan pada matamu
Menitip aku pada hangat yang terlampau dalamnya.
Topik yang tanpa alpa kusebut di sini, puisi

Hingga sampai saat aku menulis ini.
Aku dan kepala yang dipenuhi kata-kata.
Merabamu penuh hati-hati, selain nikmat,
Kau kerap menyelinap di antara kesejukan angin malamku.
Bukan lagi dingin, melainkan hangat .
Aku padamu, puisi tanpa jadwal.

(Surabaya, Desember 2020)

Baca juga Penyairku Sedang Gundah Antologi Puisi Wandro J. Haman

Indrha Gamur

(Penulis, buku antologi puisi “Rasanya Seperti Rindu Tetapi Entah apa namanya & sebagai redaktur pelaksana banera.id )



Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button