Puisi

Senja itu kau menawarkan ribuan kata

“Dalam sekejap itu terbuka, kemudian tak lama kemudian semua lampu kamar redup, kita beradu di bawah gelap, memeluk hingga level tertinggi adalah basah, doa-doa kita belum terkabul, kekasih sabar “

( Indrha Gamur)

Sesaat sebelum buka puasa
Kau sibuk menata kalimat
Belum klimaks, petang telah datang
Kau masih tenang.

Gemuruh di dada menyampaikan rindu
Pada indahnya bola matamu.
Pada tubuh yang menawan
Di atas ketelanjangan ribuan kilometer jarak
Air mata tak ada harga dirinya.

Kau boleh katakan jangan
Coba kau dekapkan kepalamu
Di atas dadaku
Itu gemuruh apa, dan siapa pelakunya
Kalau bukan kau yang dinamai kita.

Kekasih, selamat meraba sajak di atas tubuhku.
Kukira semua diksi yang kuberikan
Akan membuatmu bergairah
Aku menyukai itu, jangan lelah
Ini aku serta tubuhku
Kecup dan nikmatilah.

Baca Juga :   Kumpulan Puisi Yohanes Mau

(Surabaya 19 April 2021)

Baca Juga : Hilangnya mendung di langit rumah
Baca Juga : Frater. Salahkah Aku mencintaimu ?

Malam Mulai Mengetuk Jendela Kamar

Aku melihatmu di balik jarak.
Melipat rapi resah
Membungkus desah pada kalbu
Hingga kini menjadi sepaket

Deburan ombak membentur di sudut jantung
Selepas kemarin kau mengirim kecupan
Serupa doa
Begitu lekat dan pekat tanpa sekat
Kita beradu pandang, di bawah temaram lampu kamar
Ranum matamu, membentuk cinta yang gemuk,
Semoga takkan busuk disibak jarak
Jangan jenuh pun jemu
kuletakkan kebahagiaanmu di atas tenang dan senangku
Lelaki, aku mencintaimu dalam tawa dan luka.

(Surabaya 19 April 2021)

Baca Juga :   Air Mata Enam Januari Antologi Puisi Onzi GN

Baca Juga : Sajak Calon Jenazah Antologi Puisi Wandro J. Haman
Baca Juga : Jangan Dibaca Antologi Puisi Maxi L Sawung

Dipukul Dua Belas Tepat

Malam itu,
Di antara keheningan malam
Setelah kita dicekcoki oleh perdebatan kecil
Yang semula adalah sebuah canda

Kau memutuskan untuk datang
Aku tak punya alasan menolak hadirmu
Sebab, penawar dari rindu adalah temu.
Aku tak sedang mabuk asmara
Atau sedang overdosis jatuh cinta

Kutak perlu jabarkan, kau tau cemburu?
Coba kau tengok kamar mandi
Ada tembok yang kucakar
Ada tangis yang pecah di sana
Kuyakin kau tak mampu menahannya
Selama kau mencari cinta di batas logika.
Sedang nuranimu Masih beku bag paku dikancing mati.

Belum sempat kurapikan ranjang
Bekas segala gaduh berkeliaran
Kau tetiba mendobrak pintu kamar
Menatapku penuh makna, aku tak menemukan kekosongan di sana.

Baca Juga :   Kumpulan Puisi Patrik Poto

Bibir yang kelu, tubuh yang kaku
Mata yang sembab dan lebam
Dengan nekat tanpa banyak bicara .
Kau melangkah memadamkan lampu kamar

Hingga hanya tersisa cahaya lilin
Aku bag Tuna rungu, mendesah sesak
Menarik tubuhmu tak peduli seberapa kuat kuku panjang itu mencakarnya .
Dalam kekalutan itu, kita sama-sama basah
Tanpa basa basi, kau berbisik

Terimakasih, kau mau.
Itulah yang kucari
Kau begitu hafal,
Perempuanku, bersama doa doamu
Peliku hilang dan sirna.
Kau terang dalam gelap.
Aku tenang, damailah segala desahku.
Aku mengasihimu tanpa alasan.

(Surabaya 19 April 2020)

Indrha Gamur

Penulis adalah pimpinan redaksi banera.id


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button