Renungan

Renungan, Minggu Biasa XXX

Foto: dok pribadi

Oleh: RP. Ovan, O.Carm

Minggu, 25 Oktober 2020
Mat 22: 34-40

“MENGASIHI TUHAN DAN MENGASIHI SESAMA”

Saudara/i yang terkasih,
Hukum utama yang diajarkan oleh Tuhan adalah hukum cinta kasih. Cinta kasih menjadi kunci utama dalam memberikan kesaksian di tengah dunia. Tuhan telah menunjukan karya cinta kasih yang luar biasa dalam karya misi dan pewartaan-Nya. Karya kasih tidak hanya ditunjukan sebatas dalam pengajaran-Nya, melainkan diwujudkannya dalam perbuatan nyata dengan aksi-aksi kasih melalui kisah-kisah penyembuhan orang sakit, memberi harapan di tengah kekalutan para murid-Nya dan juga berbagai tanda heran dan mujizat yang dilakukan-Nya.

Ia tidak hanya mengajak para murid-Nya untuk berbuat kasih, melainkan karena kasih yang sama Ia bahkan rela wafat di kayu salib, sebuah totalitas pemberian diri yang menjangkau pikiran dan kemampuan manusia. Inilah bukti kasih Tuhan yang melampaui batas dan menembusi sekat-sekat kemanusiaan. Darah yang jatuh, cambukan dan luka-luka bekas penyiksaan adalah ungkapan cinta serta kurban yang berselimutkan kefanaan dan kerapuhan manusia dan Tuhan ingin mengobatinya dengan memberi harapan keselamatan bagi manusia sekalipun diri-Nya sendiri harus menjadi taruhannya.

Setiap kita dapat mengartikan kasih dengan pemahaman kita masing-masing. Sesungguhnya yang perlu kita sadari bahwa kasih tidak hanya sebatas kalimat atau pernyataan-pernyataan teoritis yang dikemas dengan bahasa ilmiah dan profan yang kelihatan manis untuk didengar, atau berhenti pada definisi dan diksi-diksi yang sekedar menyejukan hati, muluk-muluk dengan harapan yang palsu, melainkan kasih adalah apa dan bagaimana menyatakan kasih tersebut di dalam hidup melalui perbuatan-perbuatan nyata. Kasih itu akan terwujud jika semua orang mau bertobat, memiliki niat untuk berubah dan mengubah hidupnya.

Baca Juga :   Renungan Hari Minggu Adven Ke-IV

Dalam bacaan pertama (Kel 22: 21- 27), kitab Keluaran mengingatkan bangsa Israel agar memiliki kesadaran yang mendalam dan menghindari penindasan. Mereka harus setia mengampuni, menolong, murah hati dan mencintai sesama yang mengalami kesulitan. “Janganlah menindas atau menekan orang asing, sebab kamu pun pernah menjadi orang asing di tanah Mesir”. Opsi pelayanan harus diarahkan kepada pemberdayaan dan pengangkatan martabat kaum marginal, orang-orang kecil dan sederhana seperti janda anak yatim dan orang-orang miskin yang mengalami banyak kekurangan dalam hidup. Di bacaan yang kedua (1 Tes 1: 5c- 10), Paulus mengungkapkan rasa syukur dan bahagianya kepada jemaat di Tesalonika atas ketekunan dan kehebatan luar biasa jemaat dalam hal iman.

Sekalipun dalam situasi pahit di tengah penindasan dan penderitaan yang hebat, mereka tetap menerima firman Tuhan dan karya Roh Kudus. Sabda Tuhan adalah kata-kata yang mengubah dan Roh Kudus adalah kekuatan yang senantiasa memberikan petunjuk kepada yang Ilahi sebagai satu-satunya kekuatan yang mampu membinasakan segala kuasa kejahatan.

Penginjil Matius menggarisbawahi sabda kasih yang menjadi hukum tertinggi. Yesus menegaskan bahwa manusia harus dapat mengasihi Tuhan dan sesama. Mengasihi tidak dalam arti yang biasa, melainkan dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi. Hati, diri dan pengetahuan harus dikerahkan seluruhnya untuk dapat mewujudnyatakan kasih di dalam kehidupan agar hidup sungguh-sungguh berbuah secara optimal.

Hidup harus benar-benar menjadi sebuah persembahan yang berharga bagi Tuhan dan sesama. Bagaikan sebuah cermin, kita dapat mencintai diri kita sendiri dan orang lain sebagaimana kita tengah bercermin tentang diri kita sendiri. Tak ada kepalsuan di dalamnya. Apa yang kita lihat, itulah diri kita.

Baca Juga :   Refleksi Akhir Tahun

Saudara/i yang terkasih dalam Tuhan,
Ketika kita belajar mengasihi, marilah kita memandang salib Tuhan. Salib yang hina itu kemudian oleh Yesus menjadi salib keselamatan dan kemenangan. Dari salib Tuhan, kita dapat menimbah buah-buah rohani. Dengan melihat salib Tuhan, kita belajar tentang dua model relasi yang isinya sama, baik secara vertikal maupun horizontal. Pertama, secara vertikal/tegak lurus menggambarkan tentang relasi kita kepada Tuhan.

Hidup kita harus sungguh diarahkan sepenuhnya ke atas, kepada Tuhan sendiri sebagai Sang Pencipta dan pemberi kehidupan kepada kita. Kedua, secara horizontal/mendatar menegaskan tentang relasi kita dengan sesama yang tidak berat sebelah. Siapapun dan apapun kita, semua manusia berharga di mata Tuhan karena diciptakan secitra dengan-Nya.

Oleh karena itu penghargaan terhadap harkat dan martabat pribadi setiap orang harus menjadi prioritas. Terlepas dari sekian cacat dan kelemahan manusia, tetap sesama kita adalah insan yang berharga yang perlu mendapat tempat dalam hati.

Mengasihi adalah kesempatan untuk belajar memberi dan berbagi. Kehadiran, semangat bersaudara, berkeluarga harus menjadi keutamaan hidup. Spiritualitas kurban harus menjadi bagian integral dalam hidup kita. Ketika kita mengatakan kasih, kita pun sedang belajar berkomunikasi dan berkurban. Semangat berkurban berarti semangat untuk memberi, memberi dan memberi sampai merasa sakit. Tuhan sendiri telah berkurban dan memberi diri hingga titik penghabisan. Sakit dan penderitaan adalah salib yang harus ditanggung-Nya dan dengan demikian ketika Yesus mampu bertahan di dalam situasi ini, pantaslah Ia dan kita para pengikut-Nya merayakan kemenangan.

Baca Juga :   Renungan Kamis Putih

Masa pandemic covid-19 ini adalah masa yang sulit bagi dunia. Di tengah segala kecemasan dan kekalutan dunia ini, marilah kita menggunakan kesempatan yang ada untuk dapat melakukan tindakan-tindakan kasih. Banyak aksi kemanusiaan yang bisa kita lihat selama ini, baik dari pemerintah dan dari pihak Gereja sendiri. Sekarang bertanyalah kepada diri kita sendiri, sudah sejauhmana saya menujukan karya kasih itu? Tuhan selalu mengasihi kita tanpa batasan ruang dan waktu. Ia pun selalu mengenal dan memanggil kita satu persatu dengan nama kita masing-masing. Mari belajar mengasihi Tuhan dengan melakukan kehendak-Nya di dalam hidup.

Dengan demikian kasih yang sama itu dapat kita bagikan kepada sesama kita. Kita semua sedang belajar mewujudkan kasih Allah yang sempurna itu. Jangan sia-siakan waktu yang ada. Selagi kita masih diberi nafas hidup, marilah kita membagi kasih kepada sesama kita sehingga pada akhirnya kita akan merasakan berkat dari-Nya.

Kasih itu adalah orang yang selalu menemukan jawaban di setiap masalah, bukan mencari masalah di setiap jawaban.
Kasih itu adalah yang mengatakan hal itu sulit tapi mudah, bukan itu mudah tapi sulit.

Kerjakanlah apa yang menjadi bagian kita dengan setia, maka Tuhan pun akan mengerjakan apa yang menjadi bagian-Nya dengan sempurna.

*Saat ini menetap di rumah retret Karmel Nabi Elia, Mageria-Mauloo

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button