Renungan

Renungan Malam Paskah

Fr. Valerian Karitas

Saksi Kebangkitan: “Ajak mereka ke Galilea”
Mat. 28:1-10

“Bila terang kebangkitan Kristus telah bernyala, seharusnya terang hati kita juga telah bernyala di dalam DIA. Seperti layaknya api, biarkan terang itu menyebar ke setiap sudut hati yang takut dan bersembunyi dalam kegelapan. Katakan pada setiap orang: Kristus Hidup”

Paskah akhirnya datang memeluk hati kita. Setelah bergelut bersama pertobatan dalam suasana ketakutan dan kecemasan karena wabah Covid-19 yang masih menyebar cepat, Paskah yang agak berbeda ini membawa kita pada suatu harapan baru. Kita sampai di ujung masa tobat, dan Paskah yang kita nantikan akhirnya kita peluk dengan penuh bahagia. Tapi, kali ini lain, meski mungkin pergulatan kita usai, kecemasan dan ketakutan seperti enggan berakhir. Dengan merebaknya wabah, kita tidak tahu kapan kecemasan kita akan berlalu. Kapan kita akan terus terkunci dan mengurung bahagia kita.

Bacaan-bacaan suci pada malam penuh rahmat ini mengajak kita untuk tidak perlu takut. Paskah, TUHAN yang bangkit dan hidup, adalah harapan yang sangat besar. Dalam iman, kita percaya sepenuh hati bahwa TUHAN selalu bertindak untuk menyelamatkan kita. Bacaan-bacaan suci hari ini mengingatkan kita, di masa lalu, TUHAN tak pernah melepaskan Israel sendirian. Ia “yang menjadikan segala sesuatu baik” tak pernah pergi dari teriakan ketakutan umat ciptaanNya, bangsa yang IA pilih, orang-orang yang ditebusnya di palang salib. Setelah ada di bumi dan alam semesta, TUHAN tidak membiarkan kita sendirian. IA selalu ada untuk kita.

Kisah kebangkitan yang kita baca dalam bacaan injil juga adalah kisah kemenangan TUHAN karena cintaNya pada kita. TUHAN menang dalam pilihannya menjadi manusia, TUHAN menang dalam pilihanNya untuk mati di kayu salib, TUHAN menang dalam pilihanNya untuk tidak pergi dari keluh kesah kita. Dalam situasi yang mencekam oleh kecemasan dan dalam kedosaan kita, TUHAN memilih ada bersama kita, TUHAN memilih mati bersama kita, dan, percayalah, TUHAN menang bersama dan demi kita.
Tetapi, saudara sekalian dalam Kristus yang bangkit, kebangkitan juga punya satu kunci penting, yakni hati kita. Dalam injil, kisah Maria Magdalena dan Maria yang lain memberi kita jawaban, bagaimana hati dapat membuat kebangkitan TUHAN memberi kita semangat dan harapan untuk terus berteriak: Kristus Hidup.

Baca Juga :   Renungan: Minggu 14 Juni 2020

Tahap I: berani mendatangi kubur Yesus.

Maria Magdalena dan Maria yang lain pergi menengok kubur Yesus. Tindakan ini disebut berani dalam beberapa konteks penting. Mereka berani mendatangi kubur Yesus, meski mereka tahu ancaman terhadap mereka sebagai pengikut Yesus (apalagi perempuan) masih sangat besar. Tapi, hemat saya, yang paling luar biasa, mereka berani (sekali) mendatangi kubur Yesus, mendatangi kehancuran harapan dan bahagia mereka sendiri.

Perhatikan, saudara seiman sekalian, tidak banyak orang berani mendatangi lukanya sendiri. hanya sedikit orang yang berani untuk kembali melihat derita, penyesalan, dan ketakutannya. Kebanyakan memilih lari, tak mau berurusan atau memilih melupakan, atau menghabiskan segenap tenaga untuk mencari bahagia yang mungkin demi lari dari kenyataaan menyakitkan. Di wabah Covid-19 ini, berita bohong berseliweran, bukan tanpa maksud. Manusia sedang cari aman, mencoba menipu hatinya atau kelompoknya, atau mengamankan diri dengan menciptakan ketakutan yang lebih besar pada sesamanya.

Lihatlah bagaimana para perempuan berani itu mendatangi kubur Yesus. Meski menyakitkan, mereka mendatangi situasi tersebut. Meski terluka dan takut, mereka menguatkan hati, mendatangi kebenaran yang terus mereka imani, Yesus Kristus. Kunci bahagia, sesungguhnya adalah keberanian untuk berdamai dengan kenyataan, meski menyakitkan. Hati yang berani menerima kenyataan, hidup yang berani menerima dan berbagi tentang kebenaran, meski menyakitkan, jauh lebih menyembuhkan daripada hidup yang berlari dalam bayang-bayang kebohohangan demi bahagia semua. Dalam derita, luka dan penyesalan, kita setia memanggil TUHAN dalam kerinduan yang amat dalam. Berita baiknya: TUHAN yang hidup dijumpai dalam kesediaan mendatangi penderitaan hidup. Dengan kabar baik ini, kita memasuki tahap kedua.

Baca Juga :   Setia Adalah Harga Mati

Tahap II: Iman akan Kebangkitan: kunci untuk berjumpa TUHAN yang hidup.

Dengan membawa luka dan derita, tanpa disangka, Maria Magdalena dan Maria yang lain malah berjumpa dengan malaikat yang memberitahukan kebangkitan Yesus. “IA telah bangkit, seperti yang dikatakanNya”. Mereka diliputi rasa takut dan sukacita, dan lihat, TUHAN tidak ragu-ragu melengkapi sukacita mereka dengan penampakanNya.

Cara TUHAN selalu begitu, sekali engkau nyalakan api harapan, IA tak pernah ragu membakar seluruh sisa keraguanmu. Kunci kebangkitan bagi hati kita, satu-satunya, adalah percaya. Dalam sabda, kita bisa terpesona atau tergugah, dalam salib kita bisa menjadi begitu sedih dan merenung dengan penuh kedalaman. Tetapi dalam kebangkitan TUHAN, percaya adalah satu-satunya kunci yang mampu membangkitkan kita. Kebangkitan, setelah salib dan kematian, berhubungan langsung dengan pemicu bahagia kita, harapan. Manusia berbahagia karena masih ada ruang untuk berharap. Manusia masih berharap karena percaya. Untuk membangun kepercayaan, kedekatan dan rasa cinta adalah syarat. Maka, untuk membangun harapan, percaya pada TUHAN hanya bisa dibangun dalam hati yang setia memeluk TUHAN dalam derita, kecemasan dan penyesalannya. Dalam beberapa berita di media massa, kita menemukan banyak laporan tentang kesembuhan dan pengendalian wabah Covid-19 dalam diri mereka yang terus memupuk harapan melalui pikiran dan hidup yang positif, sambil percaya pada setiap anjuran dan himbauan yang ada. Percayalah, meskipun sedikit saja, asalkan harapan itu ada, TUHAN tak segan-segan menyempurnakannya menjadi bahagia. Dengan bekal bahagia ini kita memasuki tahap ketiga.

Baca Juga :   Sukacita Minggu Palma

Tahap III: “Bawa saudaramu ke Galilea”

Para saksi kebangkitan diminta memberitahukan kepada para murid agar ke Galilea, untuk menemui TUHAN yang bangkit di sana. Galilea adalah tempat para murid menganyam kisah kasih mereka bersama Sang Guru. Mereka semua dipanggil dan diajarkan oleh Yesus di sana. Lebih dari itu, saat-saat bahagia bersama TUHAN mereka lewati di Galilea.

Iman kepada Kristus yang bangkit berarti bersedia membawa sesama ke “Galilea”, bersedia membawa sesama pada kehidupan, bersedia membawa sesama kepada TUHAN yang hidup. Pergulatan penyesalan dan kecemasan dalam wabah Covid-19 tidak jarang membawa orang ke “Yerusalem”, tenggelam dalam kecemasan dan ketakutan, yang lain sibuk “menyalibkan” para korban wabah dengan berbagai penolakan dan egoisme yang mengerikan, meninggikan harga masker, menolak para penderita (bahkan mayat), memborong kebutuhan harian sampai tak ada lagi untuk yang lain, dan sebagainya.

Kita mesti membawa mereka kembali ke “Galilea”. Kesediaan kita untuk menyalakan harapan, kesediaan kita, meski kecil, untuk menolong dan membantu sebisa kita, kesediaan kita untuk peduli pada para korban dan orang-orang yang berjuang mengobati dan menghalau wabah ini, adalah cara yang dapat kita gunakan untuk membawa sesama ke Galilea. Wabah ini telah membuka banyak hati untuk berkeluh-kesah memanggil TUHAN. TUHAN ingin agar kita membantu sebisa kita, agar mereka menemukan jalan menuju TUHAN yang hidup di “Galilea” harapan. Di sana, mereka hidup.

Apalah artinya hidup, bila engkau tak sanggup menyalakan lilin harapan dalam nubari sesamamu. TUHAN bangkit untuk manusia, engkau juga harus bangkit untuk menghidupkan sesamamu. Amin

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button