Renungan

Renungan Jumat Agung

Oleh: RP. Ovan, O.Carm
Imam Karmelit. Saat ini tinggal di Komunitas Rumah Retret Nabi Elia Mageria-Mauloo.


Salib: Ibadah Sebuah Kata

Bacaan I: Yes 52: 13-53:12
Mazmur: 31:2.6.12-13.15-16.17.25
Bacaan II: Ibr 4:14-16; 5:7-9
Bacaan Injil: Yoh 18:1-19:42

Dilema sebuah kematian selalu menjadi resah bahkan cukup membuat ketakutan dengan diam-diam merayap ke dalam lubuk hati kita. Siapa yang tidak takut mati? Sekalipun kematian merupakan hal yang pasti dalam kehidupan kita dan menjadi sebuah pilihan yang tidak bisa diingkari atau sekadar untuk bersepakat. Namun, setiap kita selalu mengimpikan sebuah kematian yang baik-baik saja.

Kematian, selalu ada dan begitu dekat dengan diri kita. Bahkan setiap harinya kita berada dalam zona kematian. Kematian bisa menjadi keangkuhan, keegoisan bahkan kematian bisa membuat kita menjadi pribadi yang cukup sangar. Kematian, bisa saja membuat kita frustasi. Dan di hadapan kematian kita hanya bisa memilih untuk menerimanya atau mengingkari kematian itu. Mati dan kematian, tidak bisa kita rencanakan secara gambling, namun hanya bisa kita siapkan dalam berjaga-jaga yang panjang. Lebih jauh kematian adalah bahasa diri kita sendiri.

Kemarin, kita baru saja merayakan sebuah perjamuan malam yang begitu meriah, ada tawa yang pecah, sambil kelakar kita riang dalam senyum yang dibungkus rapih. Di meja perjamuan, kita saling menatap tanpa isyarat. Menikmati masakan Maria dengan minum anggur dari satu cawan yang sama. Mungkin saja, di antara kita ada yang menghilangkan diri atau kehilangan diri dalam gelas-gelas anggur yang tumpah. Atau bisa jadi kita lupa membereskan pernak-pernik tulang dan remahan-remahan makanan lezat yang berserakkan di atas meja hingga jatuh di bawah lantai. Sedang, seorang tuan pesta menyampaikan sebuah doa yang kuhsyuk, kita haru tanpa mengharuskan tanda untuk dibaca. Kita lupa, perjamuan malam itu menjadi akhir jumpa yang kelam. Di sana ada tanda yang membaringkan pengkhianatan, di sana ada keping-keping logam yang telah diupahkan dalam saku baju dan celana, di sana ada tangis wanita yang kehilangan seorang anak. Tuan pesta sedang melihat dan membaca tanda itu dan kita yang sempat hadir atau sekadar mengikutinya lupa bahwa di antara satu-dua orang ini ada yang mengakhiri malam itu dengan atau tanpa membaca terlebih dahulu bahasa tuan pesta.

Baca Juga :   Renungan, Minggu 10 Mei 2020

Kematian tentu menjadi pertanyaan bagi kita sekalian. Ada yang mungkin membayangkan kematiannya bahkan ada yang memiliki keinginan untuk mati sedang sebenarnya kita telah berkali-kali dan berhari-hari lamanya mati. Yesus, menjadi sebuah ibadah antara kita kepada Allah. Ketika mengenang Yesus, salib selalu menjadi bayang-bayang nyata dalam imajinasi pikiran kita. Salib, menjadi tanda akhir dari perjanjian Allah kepada umat-Nya dalam perjanjian lama. Penggenapan akan perjanjian lama ada dan tinggal dalam Yesus Kristus sebagai manusia baru dalam perjanjian baru. Yesus, menjadi adam baru bagi kita manusia. Dengan tugas yang diemban, pundak-Nya harus selalu kuat memikul tumpukkan dosa yang terus-berhari-hari ditumpuk dari ego, keangkuhan, keinginan, munafik, hasutan dan jatuhnya umat dalam dosa.

Baca Juga :   Renungan Kamis Putih

Via dolorosa merupakan saksi dari perjalanan Allah mengekalkan dan membuka pintu pertobatan umat manusia. Cambuk jadi simbol dari berkali-kalinya manusia nyaman untuk tinggal dalam lubang angkuh dengan berbagai luka yang terus dibiarkan menjadi kebiasaan yang baik-baik saja. Manusia lupa, cambuk itu jadi jalan Allah meluruskan manusia ke dalam sebuah perjalanan baru. Salib, salib menjadi tanda sebuah ibadah. Memang historisitas tradisi Yahudi, salib merupakan simbol atas kematian bagi orang-orang yang telah melawan dan menghasut imam-imam besar atau tuan-tuan atas kemunafikan yang terus menerus dipelihara. Yesus, menjadi salib atas ribuan umat di berbagai bangsa. Salib menjadi nilai atas penggenapan janji Allah kepada manusia. Namun, sayang manusia masih sempat berangkuh-angkuhnya di hadapan salib yang telah menyelamatkan dosa masing-masing pribadi.

Bagaimana salib dalam hati dan mata kita?

Getzemani menjadi taman dan taman itu adalah tubuh kita. Penyangkalan Petrus dan pengkhianatan yang dilakukan oleh Yudas Iskariot adalah diri kita yang tidak mampu memelihara iman atas-Nya. Kita begitu damai membelit diri di dalam sebuah cawan yang terlanjur karam. Kita begitu tentram memelihara praktik-praktik hidup yang tidak sejalan dengan apa yang telah difirmankan oleh Allah lewat Putera-Nya Yesus Kristus. Wahai, wanita-wanita yang kukasihi buat apa engkau menangis atas jalan salibku, tumpahkan air mata kalian untuk anak-anakmu juga untuk suami-suami kalian, jangan kalian tangisi aku. Aku tak ingin kalian tangisi jalan ini, aku ingin kalian tangisi kehidupan ini. Bisa dibayangkan bahwa seandainya Yesus mengatakan lebih lanjut demikian “pulanglah, dan buatlah anak-anak dan suami-suamimu mengerti betapa beratnya kalian menanak nasi dan bercermin di depan tungku api setiap fajar dan senja merekah.”

Baca Juga :   Ia Pergi Lalu Kembali

“Pulanglah, dan bertobatlah”. Salib itu ibadah sebuah kata. Kata yang diam menetap dan tinggal dalam lubuk hati kita. Kata yang memiliki seribu makna atas hidup kita saat ini. Kepadanyalah kata itu menjelma menjadi sabda dan sabda itu adalah kata itu sendiri.
Pulanglah dan pergilah membawa kata dari sekian ribu kabar gembira. Jangan membawa tangis pecah bersama hidup yang masih dan perlu bahkan harus selalu disembah dan dipenggal dalam pertobatan.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button