Opini

Refleksi HUT ke- 75 RI, Di Tengah Pandemic Covid 19

Fr. M.Yohanes Berchmans, Bhk, M.Pd
Ka SMPK Frateran Ndao

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”…Ir. Soekarno
“Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepeduliaan, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesame saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan ibu pertiwi.”… Moh. Hatta

Pada hari ini, Senin tanggal 17 Agustus 2020, Negara kita Indonesia atau Ibu pertiwi genap berusia 75 Tahun. Menurut ukuran manusia, usia ibu pertiwi 75 tahun merupakan usia yang tidak muda lagi. Namun, lihatlah dari berdirinya hingga kini, Ibu pertiwi telah melahirkan banyak anak bangsa dan kekayaan alam. Tetapi sayangnya, justeru anaknya sendiri yang telah melukai hati dan rahim Ibu yang telah melahirkanya. Maka, kini ibu sedang bersusah hati, air matanya berlinang, melihat anak-anaknya suka berantem, saling “membunuh” karakter, baik verbal maupun non verbal, saling menghina, saling menghujat, saling memusuhi, saling “memangsa”, homo homini lupus, yang harusnya hidup saling mengampuni, saling mengasihi, menjadikan sesama sebagai teman, sahabat, saudara atau homo homi socius. Demikian pun dengan banyak anak bangsa yang telah merobek rahim ibu pertiwi, dengan merusak alam, baik flora maupun fauna atau merusak tanah dengan penggalian tambang, penebangan hutan secara serampangan ataupun dengan membuang sampah atau limbah padat atau cair. Karena itu, hutan, gunung, sawah, lautan simpanan kekayaan, telah terkikis.

Apalagi, disaat pandemi seperti sekarang ini, anak-anaknya (warga bangsa) saling menyalahkan: Sang bapak (presiden) yang memimpin saat ini, menyalahkan anak-anaknya, demikan pula sebaliknya anak-anaknya, menyalahkan sang bapak, anak-anaknya banyak yang tukang kritik bapaknya, tetapi tidak cerdas, mengapa? Sebab, kritik tanpa solusi, itulah kritik yang krisis. Tetapi, jika kritik disertai solusi, itu namanya kritik yang kritis, yang berarti cerdas. Juga banyak di antara anak-anak (warga bangsa) yang tidak patuh pada nasihat, teguran, anjuran dan himbauan dari bapaknya (presiden) untuk hidup disiplin selama masa pandemic covid 19 ini, akibatnya wabah ini terus meningkat dan banyak memakan korban. Jika demikian, maka sangatlah tidak cerdas dan bijak, untuk menyalahkan sang bapak (presiden), sedangkan kesalahan dan kebodohan ada pada kita anak-anaknya (warga bangsa). Maka terhadap situasi yang terjadi saat ini, ibu partiwi sedang lara, merintih kesakitan, melihat anak-anaknya seperti anak ayam kehilangan induk atau bak domba tanpa gembala.

Baca Juga :   Paradoks di Wajah Kaum Muda

Maka, di HUT ke 75 RI, Senin 17 Agustus 2020, sebagai sesama anak bangsa, kita harus semakin sadar bahwa kita, walalu berbeda suku, agama, budaya, tetapi kita tetaplah warga Indonesia, bagai taman Bhineka Tunggal Ika. Oleh karena itu, tetaplah berkasih sayang di dalam kehidupan kita sebangsa Indonesia. Inilah sepenggal syair atau lirik lagu Perdamaian. Sebab, sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita untuk hidup tidak rukun bersatu, karena pancasila adalah rumah kita bersama. Dan nama Indonesia sebutan untuk bangsa kita hanya satu suku kata, walau dibentuk dari dua kata Yunani, yaitu Indus berarti India atau Hindia, dan Nesos yang berarti pulau atau kepulauan. Dengan demikian arti Indonesia adalah kepulauan Hindia atau India. Asal usul nama Indonesia mulai dikenal pada medio 1800-an.

Menurut sejarawan Universitas Oxford, Peter Carey, nama Indonesia muncul dan diperkenalkan James Richardson Logan (1819-1869) tahun 1850 dalam Journal of Indian Archipelago and Easten Asia. Logan adalah orang Skotlandis yang menjadi editor majalah Penang Gezette. Tokoh lain yang memopulerkan nama Indonesia adalah Adolf Bastian seorang ilmuwan Jerman. Dia adalah guru besar Etnologi di Universitas Berlin, dalam bukunya berjudul Indonesien Order Die Inseln Des Malayischen Archipel terbitan tahun 1884 sebanyak lima jilid. Adolf Bastian memakai sebutan Indonesie untuk merujuk pada fakta geografis yakni “kepulauan nusantara”. Selain, Adolf Bastian, masih ada tokoh lain, yang memakai kata Indonesie atau Indonesiers untuk pertama kalinya yakni George Windsor (GW) Earl, berkebangsaan Inggris. GW Earl menggagas sebutan Indunesians untuk menjelaskan realitas geografis, yakni ras berkulit sawo matang dikepulauan Hindia.
Terlepas dari arti atau sebutan untuk Indonesia, tetapi satu yang pasti bahwa kita walau terdiri dari daerah kepulauan dengan berbagai macam ragam suku, agama dan budaya, kita tetaplah Indonesia. Siapa Kita? Indonesia. Oleh karena itu, sebagai sesama anak bangsa, apalagi generasi muda, sudah seharusnya mengubah mindset kita, yang selalu cenderung berpikir sempit kesukuan, kedaerahan, agama, kelompok, golongan yang ekslusif (tertutup, negative) menjadi inklusif (terbuka, positif). Sebab, kalau bukan generasi muda yang memajukan dan mensejahterakan bangsa ini, siapa lagi dan kalau bukan sekarang saatnya kapan lagi? Dan dengan meminjam kata-kata bijak John F. Kennedy, mantan presiden Amerika Serikat ke-35, yang mengatakan “Jangan tanya apa yang dilakukan oleh negara untukmu, tetapi tanyalah apa yang kita bisa lakukan untuk negara”. Maka untuk konteks Indonesia, “Jangan tanya apa yang dilakukan negara Indonesia untuk kita, tetapi tanyakan pada diri kita, apa yang bisa kita berikan untuk negara kita Indonesia”. Dengan kata-kata bijak ini, mau mengatakan bahwa kita jangan hanya menuntut hak sebagai warga negara, tetapi kita juga harus bisa memenuhi kewajiban kita sebagai warga negara.

Baca Juga :   Revitalisasi Urgensitas Pancasila: Menolak RUU HIP dan Strategi Dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

Oleh karena itu, moment 17 Agustus 2020, hari kemerdekaan Indonesia, hendaknya kita maknai dengan sungguh-sungguh dan mengisinya dengan melakukan hal hal yang baik dan positif, sesuai dengan peran kita masing-masing.

Pertama, sebagai pemerintah, entah itu pusat, propinsi atau daerah, harus memerhatikan kesejahteraan dan keadilan semua warga, dengan prinsip satu untuk semua, semua untuk satu, yakni INDONESIA. Kedua, sebagai warga masyarakat, maka kita harus patuhi, taati, dan dengarkan kata-kata para pemimpin kita untuk hidup berdisiplin, khususnya disaat pandemi seperti saat ini. Rendahnya tingkat kedispilinan kita, sebagai warga masyarakat, mengakibatkan meningkatnya yang terserang covid 19 dan memakan banyak korban jiwa. Ingat, bahwa bisa jadi Tuhan hadir dalam diri pemimpin kita untuk mengingatkan kita.
Ketiga, sebagai generasi muda yang sedang belajar, isilah kemerdekaan dengan belajar yang sungguh-sungguh dan sungguh sungguh belajar. Gunakan waktu luang dengan baik, untuk hal-hal yang positif, sehingga kelak melahirkan generasi yang cerdas dan berkarakter. Sebab, nasib bangsa Indonesia ke depan ada dipundak generasi muda. Oleh karena itu, tulisan di bawah ini sebagai refleksi bagi generasi muda, yang ingin mengubah dunia. Padahal untuk mengubah dunia, harus dimulai dengan mengubah diri sendiri. Inilah mimpi itu:

“Ketika aku muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia. Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah. Maka cita-cita itupun agak kupersempit, lalu kuputuskan hanya mengubah Negeriku. Namun tampaknya hasrat itupun tiada hasilnya. Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yang masih tersisa, kuputuskan untuk mengubah Keluargaku – orang-orang yang paling dekat denganku. Tapi celakanya merekapun tidak mau diubah! Dan kini sementara aku berbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba kusadari: “Andaikan yang pertama kuubah adalah Diriku, maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku bisa mengubah keluargaku. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi akupun mampu memperbaiki Negeriku; kemudian siapa tahu, akupun bisa mengubah Dunia.” Tulisan yang mengharukan tersebut dipahat di atas sebuah makam Westminster Abbey, Inggris dengan catatan tahun 1100 Masehi.

Baca Juga :   Kaum Muda Harapan Bangsa

Dan saya akhiri refleksi ini dengan menulis beberapa pesan dari Gandi untuk mengubah dunia, diantaranya sebagai berikut:
Ubalah diri anda sendiri; jika Anda mengubah diri Anda maka akan mengubah dunia Anda. Jika Anda mengubah cara Anda berpikir maka Anda akan mengubah cara Anda merasa dan tindakan apa yang Anda akan ambil. Semua berada dalam kendali Anda; tidak ada yang bisa menyakiti saya tanpa izin dari saya., Memaafkan dan membiarkannya pergi, Tanpa tindakan, Anda tidak akan pergi ke manapun; satu ons tindakan lebih berharga daripada satu ton khotbah.Selalu berada di saat ini; saya tidak ingin meramalkan masa depan. Saya berkonsentrasi hanya pada saat ini. Tuhan tidak memberikan saya kendali atas moment berikutnya”. Semua orang adalah manusia; saya menganggap diri saya sebagai individu sederhana yang pasti memiliki kesalahan seperti halnya manusia lain. Jangan menyerah; pertama, mereka akan menyangkal Anda, kemudian mereka menertawakan Anda, lalu mereka berusaha memerangi kamu, pada akhirnya mereka akan menerima kamu. Melihat kebaikan pada orang lain dan membantu mereka; saya hanya melihat kebaikan. Saya merasa diri saya tidak sempurna, maka saya tidak akan berani menyelidiki kesalahan orang lain. Jadilah selaras, jadilah otentik, jadilah diri sejati Anda. Terus tumbuh dan berkembang; perkembangan konstan adalah hukum kehidupan, dan seseorang yang selalu berusaha untuk mempertahankan kekakuan dan dogmanya akan membawa dirinya ke posisi yang salah.”

“Indonesia merdeka hanyalah suatu jembatan. Walaupun jembatan emas di seberang jembatan itu jalan pecah dua: satu ke dunia sama rata sama rasa, satu ke dunia sama ratap sama tangis”
“Kemerdekaan hanyalah didapat dan dimiliki oleh bangsa yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad ‘Merdeka, merdeka atau mati’!”

Demikianlah reflleksi HUT ke- 75 RI 17 Agustus 2020, semoga bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Refleksi ini tidak bermaksud menggurui, tetapi semata sebagai ekspresi dari situasi saat ini, yang mana sebagian warga negara yang merasa diri hebat, tetapi sayangnya hanya untuk kepentingan diri atau kelompok, dan bukan untuk masyarakat. Namun masyarakat selalu dijadikan alat. Harusnya jika memang hebat, maka harus dubuktikan dengan kerja nyata, bukan asal bicara. Jika kita hebat, maka kritiklah yang konstruktif, dan harus dengan solusi, itulah krtik yang cerdas. Dan sebaliknya, jika kita tidak bisa kerja nyata dan asal kritik, itulah kritik yang destruktif, dan itulahpula kritik yang krisis.

SALAM KEMERDKAAN. DIRGAHAYU RI.
.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button