Puisi

Puisi-Puisi Maxi L. Sawung

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu
dengan kesadaran penuh untuk tetap
menjadi diri sendiri walau kau
memilikiku

Seperti saat sore itu di tepi kali
Saat kau memberikan perumpamaan
tentang arus air mengalir
di antara celah batu-batu

Atau daun yang jatuh
ke tanah
tetapi tetap terlihat seperti daun
dan dikenang

Kau ingin suatu hari kelak jika
Kita akhirnya saling menyukai
Mari menjaga kewarasan sendiri
Sadar akan diri
adalah yang paling penting

Sebab rasa cinta sengaja dihadiahkan
Dan bagi setiap orang adalah
Kemerdekaan bukan hukuman
Atau ajang tipu juga memperdaya

Baca Juga :   Suatu Senja di Golo Lantar

Kita tahu, mencintai
yang tulus menjadi begitu patut
Ketika godaan datang dari yang
mulus-mulus
dan berhasil bertahan
dengan kewarasan masing-masing
akan ingin saling mencintai
dengan kepribadian
yang merdeka.

Pembunuhan

Dari buku-buku sejarah yang terpaksa dibaca
Ada peristiwa-peristiwa berdarah yang tersirat
Dalam setiap kata-katanya, penulisnya pasti gila
Atau mati rasa jika telanjur dipaksa oleh senjata
Atau diberi pilihan untuk memanipulasi fakta
Demi membahagiakan anak bininya sama seperti
Dengan para penghilang nyawa

Jiwa korban-korban memiliki nama sampai yang tidak bernama
Berwajah sampai tubuh tanpa kepala berserakan walau setiap
Kata dalam baris lembar buku begitu kokoh, tegak berdiri
Menipu kita dengan sadar agar bangga bisa terus hidup sejauh ini
Tanpa harus mempertanyakan peristiwa kelam pembunuhan
Sebab satu yang terus ditanamkan dalam setiap kepala warga
Semua pembunuhan dilakukan demi kepentingan masyarakat
juga masa depan

Baca Juga :   Tahan, Tuhan Antologi Puisi Indrha Gamur

Anak-anak muda lebih baik berpesta pora dan berakhir bercinta
di atas ranjang lalu selanjutnya menghadirkan generasi-generasi
yang gagap peristiwa sejarah

Berevolusi kembali menjadi kera tanpa kecerdasan hanya berahi
dan amarah hingga peristiwa Sodom dan Gamora menjadi nyata
lalu Tuhan terpaksa menjadi pembunuh membersihkan musuh-
musuhnya dengan air seperti dalam kisah Nabi Nuh.

Baca Juga :   Kumpulan Puisi Alexander Wande Wegha

Semua pembunuhan, haruskah dibenarkan jika berkaitan dengan masa depan?

Perempuanku

Tuhanku, dalam tenang kesendirian
Entah untuk menyiapkan
Ataukah merasa ditelantarkan
Aku selalu mengetuk
Pintu-pintu surga-Mu dengan doa
Lalu menyelipkan sebuah nama
Di bawah lantai rumah-Mu.

Suka
Duka
Kata
Dan darah

Jika itu cawan yang harus
Ku minum
Berikan itu
Saat kami memang
Layak dan Engkau
Pantaskan.


Oktober, 2020.

Puisi-Puisi Maxi L. Sawung

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button