Puisi

Puisi-Puisi Maxi L. Sawung

Ilustrasi: tempo

MENGGODAMU

Kau tiba dengan sepasang kemarau pada kedua matamu
Aku menyambutnya seperti jemuran pakaian belakang rumah
Yang dengan sabar menunggu untuk dikeringkan.

Wajahmu gambaran besar penuh kecemburuan
Serta bisu menjadi teman setia tipis bibirmu
Dan aku akan menjadi seorang tuli yang cukup
Mengagumi wajah untuk mengartikan diammu.

Kau mendekatiku seperti seorang musafir yang kelelahan
Menyeberangi jalan yang ribut untuk membalaskan dendam
Sedang aku menyambut tubuhmu dalam dekapan
Dada yang tidak pernah sepi dari suara nafasmu.

Mungkinkah mereka mengerti?
Atau cukup kita saja?

Baca Juga :   Puisi-Puisi Fredy Langgut

PERMAINAN PANAS

Siang itu sekitar pukul satu saat matahari kepanasan
Dan keringat mulai turun perlahan mencari ruang udara
Di antara lekat dan ketat baju,

Langit benar-benar tanpa berawan
Membuat pikiran penuh bayang-bayang
Membawa setengah kesadaran jauh

Saat kita saling membanjiri tubuh
Dengan keringat masing-masing semampunya
Perlahan menggarap setiap inci dan lekuk badan lahan
Membersihkan rerumputan liar yang halus

Sebab musim bercocok tanam telah tiba
Kita tahu benih harus segera ditanam lalu membiarkan
Bumi menjaganya dan semesta merawatnya

Baca Juga :   Kumpulan Puisi Yohan Lejap

Dan saat hujan turun datang
Pada dua bukit kemudian menuju lembah
kita sudah duduk berdua sambil bercanda penuh hati-hati
Agar yang berdiam di dalam rahim tetap tumbuh
Hingga tanggal memanen tiba.

Siang itu sekitar pukul satu saat matahari kepanasan
Dan keringat mulai turun perlahan mencari ruang udara
Di antara lekat dan ketat baju aku tersenyum, ahhh.

GERAH TANAH MERDEKA

Tidak ada lagi yang benar-benar sakral di tanah ini
Kisah-kisah darah yang lama terus tercium hingga kini
Orang-orang yang bertanggung jawab tiba-tiba menghilang
Lalu muncul dengan hasrat kemerdekaannya sendiri

Baca Juga :   Perihal Rindu Antologi Puisi Ella Mogang

Menggunakan isu yang itu-itu saja, sedih
Media sosial hingga televisi
Orang dewasa juga anak kecil
Meneriakkan merdeka dengan kepala pening
Hingga tidak ada yang benar-benar peduli
Kata para pejuang, perbanyaklah makan
Dan istirahat, bertahan hidup hingga akhir
Sebab kemerdekaan adalah nasi di makan jadi tahi.

Siapa yang memakannya bung?

*mengutip kata-kata Wiji Thukul.

*Penulis: Maxi L. Sawung, pengangguran yang suka baca buku sambil menunggu datangnya waktu wisuda yang ditentukan kampus.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button