Puisi

Puisi-Puisi Maxi L. Sawung

Ilustrasi: liputan6.com

PATUH

Terlalu pagi untuk menyukai
Juga kesiangan untuk memulai
Sehingga malam aku malu menyapamu

Patuh, terus berusaha untuk
Tidak terlanjur patah
Arah dan asa masih tertuju padamu

Sebelum semua surat pemberitahuan
Sebelum semua pecah dan suka cita pesta
Sebelum akhirnya jadi tamu undangan

Aku masih patuh mengagumimu
Tak ingin patah
Pantang menyerah.

CINTA ALA ANAK KULIAH

Baca Juga :   Aku Ingin Tahu (Kumpulan Puisi Adel Chaet)

Ada yang bertamu, bertemu ayah juga ibu
Meja dan kursi kita menjadi bisu
Dari dulu hingga saat ini
Gelas-gelas kopi menguapkan bayang tipis
Aroma candu begitu juga teh yang mulai
Kedinginan. Candamu¸ tidak perlu malu
Tapi jantung terlanjur berdetak gugup.

Apa pekerjaanmu nak?
Saya mengerjakan banyak pekerjaan-
Pekerjaan kuliah yang tertumpuk
Oleh karena waktu kebanyakan kami
Habiskan berdua di atas kasur
Di samping meja belajar.
Candamu, jujur saja terlebih dahulu
Padahal ada goresan malu dari wajah
Ayah dan ibu yang tidak lagi serius.

Baca Juga :   Selimut Dusta Antologi Puisi Mba Ayu

MATA TAK MALU

Mata-mata dari pemilik tak malu
Melihat seakan tahu apa saja yang telah
Tersentuh dan membekas pada setiap inci
Tubuh. Lalu berkata pasti. Seperti
Dengan mata kepala sendiri menelanjangimu

PUAN

Bukankah kita harus mulai berhati-hati,
Berjaga-jaga jika pada waktu yang tidak dijanji
Ada yang datang mencuri hati seperti pencuri
Di malam hari. Lalu membawanya pergi
Jauh bersama tenggelamnya matahari.
Dan kau hanya menjadi orang terkasih
Di tengah bangsa asing.

Baca Juga :   Jumat Agung Antologi Puisi Herman Nufa

Bukankah telah kau dengar sabda
Yang memintamu untuk mendengarkan
Dengan hati.

(Oktober, 2020)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button