Puisi

Puisi-Puisi Hams Hama

Lidah yang Gelisah

Kucumbu segelas kopi dengan kecup penuh rindu,
kopi ibu.
Tepat ketika hausku sudah di ujung lidah.
“minumlah bukan karena gelisah, nak” ketus ibu setelah membetulkan arah tikar yang sedang dirajut.

“Gelisahku karena rindu, ibu”
balasku setengah gugup.

Barangkali ibu membaca degup dan pacu jantungku
sehingga ia bisa membaca setiap getarnya
atau barangkali ia Iebih mengerti arti setiap lengau yang terempas
sehingga ia menangkap endusnya.

“Bukan nak. Rindu itu doa.
Jangan menjadi pura” balasnya sembari mempercepat jemarinya mengayam tikar.
“ibu, aku benar-benar gelisah”

Aku lupa tanda salib itu
tanda syukur paling luhur.
Barangkali itu yang membuatku selalu gelisah?

Ribang-MOF, 22/09/2020

Melabuh Pergi I

Di batas gelisah ini
masih sempat kubungkus rindu
serapi kenangan
sekuat harapan
hingga di batas jingga yang sama
di pelabuhan terakhirku.

Baca Juga :   Pemakaman Antologi Puisi Maxi L Sawung

Jika kau pulang kelak
dan aku tak ada
Percayalah di antara senja
telah kupahat rupamu
sedalam ujud pada doa
seindah ingatan pada lupa

Ribang, Akhir Agustus 2020

Melabuh Pergi II

Lelaki itu pergi dengan gelisah
ditatapnya sisa basah terakhir di sudut pelabuhan.
Ada rindu membuncah.
Seakan kenang lekas sekejap
ketika tempo hari ia pamit.

Sedang perempuan itu lekas pulang
setelah mata tak tahan telaga hingga tumpah di sudut pelabuhan.

“Lelakiku, jika setiap kepergian adalah awal dari sebuah kehilangan
biarkan derai mata ini jadi akhir dari sebuah tangisan.
Jika kelak kau pulang
telah kutitipkan cemas bersama gelisah yang kini gugur di sudut
pelabuhan.
Sebab pergimu selalu tanpa kenal pamit
setelah kau berhasil ajarkan setia itu seperti senja”

Baca Juga :   Ontologi Puisi Wandro J. Haman

Akhirnya lelaki itu mengerti
senja itu adalah perempuan yang pernah ia lepaskan
dan selalu menjadi yang terakhir dari setiap sisa hidupnya.

Ribang, Agustus 2020

Menyingkap Malam

Malam itu telah kita gagalkan gelisah
dengan cumbu mahamesra.
Malam ini, tak lagi bisa mengulang gerah yang sama bukan?
Kupikir kau lebih banyak menggadai malammu dengan yang lain:
yang selalu gelisah dari rindu
yang selalu haus dari belaian
yang selalu tabah dari luka
yang selalu tepat dari ingkar
yang selalu setia dari janji
yang selalu mencintai dari benci

Malam itu kau berbeda
dan tadi kau benar-benar lain.
Siapa yang paling pandai sembuyikan gelisah di matamu?
Kau atau aku?
Mereka atau kita?
Jika kelak daun gugur bukan pada musim,
jangan tanyakan mengapa
Jika kelak ada yang terluka,
jangan persalahkan siapa
Jika kelak ada kehilangan
jangan mencarinya ke mana.

Baca Juga :   Rimbun Kepala Antologi Puisi Maxi L Sawung

Ribang, 01 September 2020

Puisi Terakhir

Bahwa kita pernah merindukan senja yang sama
dan setelah itu kita pulang bermandi puisi
pada sepi dan bayang-bayang senja
juga sauh dan riuh pantai
menjadikan kita semakin berarti atas nama puisi.

Kaulah puisi terakhirku
sungguh senja menjadikanku ada
seperti tirus di wajahmu membelai ayu adinda!

Ribang, 02/09/20

Pulang

Rinduku kian tua
beruban.
Berlaksa berat

Aku pulang
telah sekian lelah
menjadi teman tanpa upah
telah sekian gelisah
menjadi doa penuh curiga

Akhirnya,
aku menemu pulang
pada riak yang tidak lagi sepi
pada rindu yang selalu menjadi isi setiap doa.

Ribang, Akhir September 2020

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button