Puisi

Prolog Sebuah Buku Antologi Puisi Cici Ndiwa

Prolog Sebuah Buku

Regina ditemani Viktor, suaminya
dan Helena, Yovita, Elisabeth dan Adinda anak-anaknya
duduk di dapur berdinding bilah bambu
yang mulai berjarak dan lapuk
oleh rayap dan waktu
menunggu nasi jagung selesai ditanak,
ubi selesai di bakar dan pucuk labu selesai ditumis
lalu memindahkanya ke enam piring
yang melingkari api
dengan hangat yang merata
dan cerita tentang batu yang laku terjual di kebun
dan nenas yang hilang dicuri orang
juga bibit kopi dan nangka yang mulai berdaun

Hangat yang merata dari perapian itu cukup
memindahkan nasi jagung Regina dan Viktor
kepada piring anak-anaknya
yang ditukar dengan ubi empuk yang telah masak
oleh abu dan arang hangat perapian
ditemani tawa dan cerita anak-anaknya
tentang sekolah, mencari kayu, menggali batu
dan kisah haru si anak yang menjaga rumah

Baca Juga :   Nyanyian Hujan Antologi Puisi Wandro J. Haman

Di perapian
kayu telah dilahap api dan menjadikannya arang
yang mula-mula merah lalu perlahan hitam
tanpa kehangatan
yang diganti dengan hangat hati enam manusia
yang mendiami rumah, berlantai tanah
dan berdinding bilah-bilah bambu
yang perlahan menenun harapan pada bilahnya
dan menumbuhkan bibit
bibit cinta dari lantainya.

(Ruteng, Januari 2021)

Baca juga : Ina Ada yang Patah Selepas Mengenalmu

Baca juga : Membaca Tubuhmu Antologi Puisi Maxi L Sawung

Berlantai Tanah

Tiap bulir jagung yang jatuh
berkecambah di tanah
disiram tiap sore oleh ibu
sebelum menyapu lantai
dengan dedaunan yang
dijadikannya sapu
dan dibiarkannya jagung itu berkecambah
dalam diam dengan sinar matahari
yang cukup masuk melalui
bilah pada bambu yang mendindingi rumah
juga bulir-bulir beras yang terpisah
saat ditampah sebelum ditanak
jatuh ke tanah dan dibiarkannya
anak ayam dan induknya
juga ayam jago untuk suaranya
mematuk untuk hidupnya
juga anjing penjaga rumah
memakan dari tempatnya
sebagian nasi dan lauk yang disisihkan
dan diletakan di atas lantai bertanah itu
bahwa sungguh jika semua kembali ke tanah
maka tapak kaki dan hati lha yang akan lebih dulu
mengenalinya

Baca Juga :   Jendela Kenangan Antologi Puisi Riska Widiana

(Ruteng, Januari 2021)

Baca juga: Para Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Smpk Frateran Ndao Mengikuti Rekoleksi Persiapan Natal 25 Desember 2020 Di Kapela Frateran Bhk Ndao Ende

Baca juga : Sajak Akhir Tahun Antologi Puisi Afrianna

Tampah

Duduk bercerita
Ibu dan anak-anaknya
mengitari tampah
di sore hari
ditemani ayam ayam
yang keasyikan mematuk sambil mendengar cerita ibu
tentang hari-harinya
sambil dipisahkannya padi yang tidak tergiling dengan baik
juga jerami yang ikutan dari beras yang kan ditanaknya.
Pada ruas-ruas tampah ada harapan hidup
untuk ayam yang bermain di kaki ibu dan anak-anaknya.
Ibu menampihnya lagi, ayam-ayam mendekati kaki ibu lagi
mematuk hingga lantai tanah itu bersih
ada irama indah saat bulir terjatuh perlahan di tampah
juga saat bulir itu bertemu bulir-bulir yang lain
sebelum berpisah di piring ibu dan anak-anaknya.

Baca Juga :   Kontaminasi dan Kritik Demokrasi Indonesia

(Ruteng, Januari 2021)

Baca juga : Hidup Ini Sekeras Batu

Cici Ndiwa, menetap di Ruteng. Dapat ditemui di blog pribadinya (cicindiwa.blogspot.com)


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button