cerpen

Pisang Goreng

Foto:Brilio.net

Penulis: Penulis: Nus Narek
(Mahasiswa Pasca Sarjana STFK Ledalero)

Petugas bandara tiba-tiba mengumumkan bahwa pesawat dengan tujuan keberangkatan Labuan Bajo-Denpasar, 3 jam lagi akan berangkat. Ini amat membosankan bagi para penumpang yang sudah berjam-jam menunggu. Memang pekerjaan yang paling membosankan adalah menunggu. Begitu jugalah yang dialami gadis manis berwajah ayu. Sontak, gadis itu meninggalkan tempat duduknya, berjalan buru-buru ke kantin di pelataran bandara. Ia memesan satu bungkus pisang goreng, lalu kembali ke dalam ruang tunggu bandara. Kini, di ruang tunggu, ia duduk bersebelahan dengan seorang laki-laki tampan yang sedang asyik membaca koran. Gadis ayu itu meletakkan pisang gorengnya di antara ia dengan laki-laki tampan yang cuek bebek itu. Dengan segera direbahkan dirinya pada bangku panjang. Ditariknya nafas, lalu duduk tenang. Tak ada sepatah kata dari dia maupun dari laki-laki di sampingnya. Gadis ayu itu mengambil HP-nya dan mulai mengutak-atik androidnya. Sesekali, ia mengambil pisang goreng yang baru ia pesan di kantin tadi. Mengunyahnya perlahan sambil terus mengotak-atik HP-nya. Ia begitu cuek. Tak peduli dengan laki-laki di sampingnya. Laki-laki tampan itu juga sesekali mengambil pisang goreng yang letaknya di antara dia dan gadis nan ayu tersebut. Tanpa memperdulikan gadis itu, ia mengunyah pisang goreng sambil terus membaca koran yang juga baru dipesannya dari loper bandara. Gadis itu mengernyitkan dahi melihat tingkah laki-laki tersebut. Dalam hatinya ia meluapkan rasa kesal dan jengkel.

Baca Juga :   Kegetiran Seorang Mantan Frater

Dasar laki-laki tidak tahu diri. Ia mengambil pisang gorengku tanpa minta izin terlebih dahulu. Syukur dia ganteng. Kalau tidak sudah kutampar mukanya. Dasar laki-laki sialan.

Ia terus mengumpat setiap kali laki-laki itu mengambil pisang goreng miliknya.
Tiga jam berlalu. Petugas bandara mengumumkan bahwa pesawat akan segera berangkat. Gadis manis itu segera membereskan barangnya. Dengan segera ia menuju ke dalam pesawat dengan perasaan jengkel dan marah “ Dasar laki-laki sialan”. Ia masuk ke dalam pesawat, duduk di tempat duduknya. Ia tetap merasa jengkel dan tarus mengumpat “Dasar laki-laki sialan!”
Ketika dalam pesawat, gadis manis itu merogoh tasnya. Betapa kagetnya ia. Pisang goreng yang baru ia pesan di kantin, masih utuh dalam bungkusannya. Pisang goreng seharga sepuluh ribu rupiah yang dipesannya tadi belum dimakan satu buahpun. Ia kini heran dan bertanya-tanya. “Pisang goreng siapakah yang saya makan tadi di ruang tunggu”, katanya dalam hati. “Jangan sampai itu pisang goreng laki-laki sialan tadi.” Ia menjadi malu dengan diri sendiri. Kini, dalam batinnya ia mendengar kata hatinya sendiri: “Dasar wanita tidak tahu diri. Sudah makan orang punya pisang tanpa izin, tuduh orang lain sebagai pencuri. Dasar wanita sialan. Syukur cantik sehingga tidak ditampar laki-laki tadi”. Dalam hati kecil timbul berjuta penyesalan. Ia merasa malu. Kadang ia menertawakan diri sendiri. “Mau bilang apa. Sudah terlamabat. Apalagi itu kan cuma pisang goreng”, katanya dalam hati untuk sekadar membenarkan diri.

Baca Juga :   Requiem Sebuah Nasib

Dua jam berlalu. Pesawat telah mendarat dengan selamat. Gadis itu segera membereskan barangnya. Ia bangun dari tempat duduknya. Kali ini ia tidak buru-buru. Keluar pesawat mesti antri. Malu kalau sampai ditegur orang. Ia bangun dan menunggu antrian. Diangkat wajah ayunya. Sesekali ia merapikan poninya yang terurai jatuh menutup bola matanya. Tiba-tiba, sorot matanya mantap berlabuh pada sosok pria yang ia kenal. Ya, itulah pria yang duduk di bangku paling belakang. Siapa lagi kalau bukan laki-laki yang disebutnya laki-laki sialan. “Bukankah itu laki-laki pemilik pisang goreng yang kumakan di bandara tadi” katanya membatin. Pandangan yang tak sengaja itu, dibalas laki-laki “sialan” itu dengan menebar senyum. Itu sebuah senyum yang benar-benar mempesona. Senyum itu sampai mengerogoti sum-sum tulangnya. Tidak tau mau balas bagaimana. Ia hanya menunduk. Rasa bersalah, malu, berseri, suka, dan aneka rasanya lainnya bercampur aduk. “Kalau tidak ada masalah tentang pisang goreng, pasti kini cuma ada perasaan bahagia,” kata gadis itu dalam hati. Ia merunduk makin dalam. Tak berani dibalas senyum laki-laki itu.

Baca Juga :   Iluk, Rindu, dan Covid-19

Kini, gadis itu sudah di depan pintu keluar pesawat. Ia merasakan tangannya dipegang seseorang. Ia mengangkat mukanya. Lagi-lagi, laki-laki itu. “Maaf mengganggu, Non! Saya ingin mengembalikan sweater nona. Tadi ketinggalan di bandara. Saya melihat nona buru-buru masuk ke dalam pesawat, sehingga sweaternya ketinggalan”, kata laki-laki itu sambil tersenyum. Segera diraihnya sweater merah jambu itu. Ditatapnya laki-laki itu. Ia menemukan sejuta kedamaian dan ketulusan yang tampak dari sorot mata laki-laki. “Terima kasih banyak, Kak!” katanya terbata-bata. Ia kemudian melanjutkan: “Di tas saya masih tersimpan satu bungkus pisang goreng. Maukah engkau menemani saya makan pisang goreng di ruang tunggu. Semoga engkau tidak buru-buru.” Ia coba mengajak penuh harap meski itu disampaikan dengan terbata-bata. Ia masih terbawa perasaan bersalah. Gugup dan malu. “Dengan senang hati, Non”, jawab laki-laki itu mantap. Gadis itu tersenyum. Dan itulah senyum termanis yang ia berikan untuk laki-laki nan tulus itu.
Keduanya menuju ruang tungggu beriringan. Tawa dan senyum menemani langkah kaki keduanya. Tampak, keduanya buru-buru. Tak sabar lagi untuk segera duduk bersama dan saling bertukar cerita. Tetapi yang paling ditunggu adalah momen di mana keduanya akan makan pisang goreng bersama.

(Ledalero, 21 April 2020)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button