cerpen

Piluh Peluh Bunga Liar

Foto: Google

Oleh: Angela Ririn

Hujan sore kemarin,
Membawa serta sejuk yang menguak gersangnya tanah kemarau
Di pinggir jalan mawar tanpa tuan itu tergeletak
Gemulai dengan pesona menawan yang menggoda
mengintip dari balik helai daunya yang tergerai di tanah

Ego pelangi selepas hujan enggan menyapa
Hawa dingin juga gerimis sisa hujan
Meludah dan meringkusnya dalam kesepian
Tak ada yang memayunginya
Alang-alang serta tanah lembab menjadi ranjang berduri

Di setiap tetes air dari balik atap rumput
Bibir kakunya bergumam, mengeja setiap kata yang terlontar
bercerita tentang hutan rimba yang menidurinya paksa
Juga kisah semak belukar yang menjajah kebebasan dan hormatnya
Ia terjepit dalam suasana gaduh yang menelanjangi rapuhnya raga
Tersisa helai daun juga bunga selimut dekil penghangat tubuhnya

Baca Juga :   Kopi Ibu

Ia bunga suci yang ternoda
Bait tempat kodratnya bersemayam telah runtuh oleh nafsu si penjilat
Kertas putih hidupnya dihujani tinta hitam bertubi-tubi
Hingga secuil pun tak tersisa lagi
Bui dunia telah menghukumnya

Ia terpojok dari bahaginya
Bahkan tanah tempat ia menginjakan kaki
Tak sudi menahan rebahan tubuhnya
Yang berlumurkan lumatan lidah sang belukar kejam

Aduan Rindu

Ku kuliti malam nan sepi dengan sajak puisi tak bertuan
Tanganku gatal mencabik kertas putih
Dengan bait harmoni yang polos
Sedang pena kusiksa membentuk kata

Baca Juga :   CINTA VIRGINIA

Ku hajar pikiran mencari dawai melodi cinta
Yang bersembunyi dibalik rembulan malam
Malam ini, aku ingin meniduri mimpi dalam lelap
Melukis potret wajahmu dalam angan

Pada kening puisi yang terlahir dari rahim perasaan
Kutitip kecupan manja dari jauhnya jarak yeng kikir
Untuk rindu yang akan beranjak pergi Kembali pada ranjang tempatnya merebah
Sembari mengadu kepada pemilik lekukan garis bibir yang manis dalam bunga tidurku

Ringkikian Mawar

Malam ini dia kembali bercumbu
Memanjakan nafsu liar pada kedua buah dadanya
Meramu haus lidah di atas lapang tulang belikat
Tubuh seksinya menggeliat penuh gairah pada dada berbulu itu
Sedang dia berdusta dengan nuraninya
Sesekali dalam setiap desahan
Air mata menyiksa dalam kesedihan
Mencambuk beribu-ribu kali
Merajam dengan rasa bersalah

Baca Juga :   Lyan

Tak terhitung jejak bibir yang menghujani tubuhmu
Berapa banyak tubuh membatu yang menindih ragamu
Kau sirami sucimu dengan miliaran rupiah
Telah tumpul pekamu untuk nurani yang terus mendesah
Kau memintas jalan gelap dengan deriji tangan
Jasad kelam hitam yang kau toreh
Ditepian kisah yang mendebu
Kau kubur dalam liang hati yang merapuh

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button