cerpen

Pilkada

Penulis | Waldus Budiman

Martinus baru saja menerima telfon dari Kabupaten. Roman mukanya berubah cerah ceria. Sepertinya ada kabar baik. Dua minggu yang lalu, Martinus bersama Silvanus menghadap ketua pemenangan salah satu pasangan calon bupati.

Keduanya berangkat naik mobil pick up milik Martinus. Mobil tersebut sesungguhnya hadiah pilkada kali lalu. Namun apalah daya, jagoan Martinus kalah tipis. Tetapi mobil tetap menjadi milik Martinus. Kali ini dia bersama rekannya Silvanus menghadap sang ketua pemenangan pasangan calon tersebut.

Baca Juga

SELEPAS SENJA PERGI [Puisi-puisi Filbertus Sarigosa ]

“Jangan mengulang kembali apa yang terjadi kemarin.”
Demikian kata pembuka dalam pertemuan itu.

“Kali ini, apa pun yang terjadi jagoan kita harus menang. Bayangkan saja, di dunia maya kita memiliki ba nyak followers. Akun-akun palsu tentunya.”
Lanjut Nikodemus, sang ketua pemenangan pasangan calon tersebut.

Silvanus mengangguk-anggukan kepala sebagai isyarat setuju. Sambil menyeruput kopi, ketiganya terlibat dalam perbincangan yang serius.

Hujan semakin deras disertai angin kencang. Rasanya cocok dengan kopi panas yang dihidangkan istri Nikodemus. Dari arah dapur muncul Marta membawakan sepiring pisang goreng.

Marta anak gadis semata wayang Nikodemus. Mahasiswi sastra ini juga dikenal dengan kecantikannya yang luar biasa. Di kampung banyak politisi, polisi dan guru muda ingin berpacaran dengan Marta. Termasuk juga Silvanus dan Martinus. Rupanya dua pemuda ini sudah menunggu kedatangan Marta di ruang tamu.

Baca Juga

Bersumpah di Tengah Pandemi Covid-19

“Apakah kalian berdua punya ide soal kemenangan jagoan kita kali ini? Atau kita masih gunakan cara yang lama?”
Suara Nikodemus mengagetkan kedua pemuda ini.

Baca Juga :   Lelaki Keramat

Silvanus yang duduk berhadapan dengan Nikodemus tersipu malu. Sedangkan Martinus masih saja menatap Marta. Pinggul yang seksi dan montok seakan-akan menghipnotis kedua pemuda itu.

Bukan saja keduanya tapi siapa saja pemuda yang melihat Marta, pasti tidak pernah luput dari hal itu. Sebut saja Servanus seorang politisi muda yang rela berkoalisi dengan pasangan calon junjungan Nikodemus, yang walaupun pada saat itu partainya mendukung pasangan calon lain.

Karena demi Marta dia mempertaruhkan jabatan politiknya. Atau juga seorang guru honorer di kampung tetangga yang rela untuk jadi asisten Nikodemus selama pilkada, dan masih banyak lagi cerita lainnya.

Waktu pemilihan tinggal sebulan lagi. Kampanye akbar sudah mulai digaungkan. Di setiap kampung, bandera partai berserta baliho dari masing-masing pasangan calon sudah dipasang sebelumnya. Memang pilkada kali ini cukup sengit.

Baca Juga :   Terjaga Saat Senja

Selain karena hanya tiga pasangan calon saja yang bertarung, juga mempengaruhi percakapan masyarakat sehari-hari. Ibu-ibu yang biasa gosip dan cerita tentang sinetron, kini beralih ke percakapan politik.

Bahkan sambil mencari kutu, mereka membangun sebuah diskursus politik. Belum lagi di dunia maya, akun-akun palsu berseliweran. Namun dari semua itu, tidak dielakkan juga tentang hal-hal yang tidak bermoral. Dibalik akun palsu tersembunyi sebuah identitas yang rapuh. Tentu saja mereka menjagokan pasangan calon masing-masing.

Baca Juga

Jalan Sekam Padi

“Saya yakin, dia kembali menjadi pemimpin kita.” Ketus seorang ibu yang sedang duduk santai di bale-bale.

“Tidak mungkin juga. Coba kamu baca berita kemarin. Hampir di seluruh kecamatan namanya disorakkan. Hanya tunggu lantik saja.”
Timpal ibu yang lain sembari asyik mengunyah sirih pinang.

Mereka menunjukkan kelebihan jagoan masing-masing. Rupanya perkembangan teknologi yang pesat memberikan hal positif terhadap ibu-ibu dalam hal informasi. Mereka juga bisa mengambil bagian dalam diskursus politik dengan cara mereka sendiri. Tentu saja bukan dengan money politics.

Pada suatu kesempatan, Nikodemus berserta anak gadisnya mengunjungi kediaman Silvanus dan Martinus. Kedatangannya kali ini tidak menggunakan mobil.

Baca Juga :   Jomblo Itu Bebas

Dia mengendarai motor dan memboncengi Marta, anak gadis semata wayangnya itu. Di rumah Silvanus, pertemuan itu berlangsung. Banyak orang yang memadati rumah itu.

Tentu mereka menyuarakan satu dukungan dalam pilkada kali ini. Tujuan mereka bukan untuk mendengarkan Nikodemus atau Silvanus. Tapi sang jubir yang datang mempropagandakan perubahan. Sambil mereguk kopi, Nikodemus menyapa hadirin yang sudah tidak sabar mendengar clotehan sang jubir yang merangkap ketua pemenangan tersebut.

“Saudara-saudara sekalian, kita harus satukan tekad, niat dan mimpi untuk menuju perubahan! Kita akan tiba pada suatu hal di mana yang kita cita-citakan bersama tercapai!”

Sang jubir mulai mengeluarkan jurus-jurusnya dengan penuh berapi-api. Hadirin mengangguk-anggukkan kepala. Semuanya diam. Hening. Sang jubir sengaja memberi jeda. Lalu dia memandang hadirin dengan mata yang berbinar-binar.

“Jika kali ini kita berhasil, apapun yang kalian butuhkan di kampung ini silakan sampaikan melalui saya. Maka secara otomatis, bapak bupati akan mengabulkan semuanya.”

Serentak para hadirin memberikan tepuk tangan. Marta, Silvanus dan Martinus tersenyum sumringah. Moment kebahagian ini dimanfaatkan baik oleh Silvanus untuk memeluk Marta gadis idaman kaum muda.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button