Opini

Pesona dan Keunikan Sawah Lodok Cancar

Penulis Eka Morestika

Banera.id Petani padi sawah hampir dapat dijumpai di delapan kabupaten yang ada di kepulauan Flores. Namun yang terbanyak berada sisi barat, di tiga kabupaten yang dulunya satu kabupaten, yaitu Manggarai, sebelum dimekarkan menjadi Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat.

Namun bukan saja hasil sawahnya, keunikan sawah di Manggarai seperti di Kecamatan Lembor Manggarai Barat, Cancar di Kecamatan Ruteng, Manggarai dan Kampung Rawang, Kecamatan Lambaleda, Manggarai Timur adalah pada bentuknya. Ya, sawah di area ini berbentuk seperti jaring laba-laba atau yang disebut lodok dalam bahasa lokal.

Bentuk sawah unik ini, bagi masyarakat Manggarai terkait dengan fungsi sawah yang terkait dengan pola pengelolaan lahan secara adat. Lingko, demikian sistem pembagian sawah disebut, merupakan tanah adat yang dimiliki secara komunal untuk memenuhi kebutuhan bersama masyarakat adat yang pembagiannya dilakukan oleh ketua adat.

Baca Juga :   Nasib Sial Hidup Sekampung dengan Bupati Matim

Filosofi Lodok dan Jari Tangan

Marius Ardu Jelamu, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif provinsi NTT yang berasal dari Manggarai, menyebut sistem pembagian lahan sawah oleh leluhur Manggarai dilakukan secara berpusat. Dimana titik nolnya berada di tengah-tengah lahan ulayat yang akan dibagi-bagi.

Polanya dengan menarik garis panjang dari titik tengah yang dalam bahasa Manggarai disebut lodok hingga ke bidang terluar atau cicing. Filosofinya mengikuti bentuk sarang laba-laba, dimana lodok, bagian yang kecil berada di bagian dalam (tengah) dan keluarnya makin lama semakin lebar. Semua orang penasaran sekali dengan sawah lodok Cancar ini. Sawah bentuk lodok, jelasnya, hanya satu-satunya di dunia, dan suatu keunikan budaya Manggarai yang perlu terus dijaga.

Baca Juga :   Manggarai Timur Rumah Kita Bersama

Gregorius Kabor, seorang warga Cancar menjelaskan, Tu’a Teno atau ketua adat dan Tu’a Golo atau tua kampung umumnya akan mendapatkan bagian luas sawah yang lebih besar. Konon pembagian tanah ulayat mengikuti rumus moso (jari tangan), disesuaikan dengan jumlah penerima tanah warisan dan keturunannya.

Sesuai rumus moso, lanjutnya, pembagian tanah diprioritaskan bagi petinggi kampung beserta keluarganya, yang lalu diikuti warga biasa dari warga suku, baru setelahnya dari warga luar suku.

Baca Juga :   Model Politik Eudaimonistik Aristoteles (384/383-322 SM)

Secara adat, warga luar pun bisa memiliki lahan sawah dengan memintanya kepada Tu’a Golo atau tetua kampung. Caranya dengan membawa seekor ayam jantan dan arak atau Kapu Manuk Lele Tuak dan disahkan melalui sidang dewan kampung yang di pimpin Tu’a Golo yang disahkan oleh Tu’a Teno,” ungkap Goris.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button