Opini

Perubahan Sosial dan Budaya dalam Masyarakat

Penulis : Leonsius Naltan Jajin

Banera.id – Perubahan sosial merupakan salah satu tema besar dalam kajian studi sosiologi. Dalam perspektif sosiologi, perubahan sosial dipahami sebagai proses. Artinya, perubahan sosial akan selalu terjadi sepanjang masa, mengingat masyarakat pun terus bergerak, berkembang, dan berubah.

Setiap individu atau kelompok dalam masyarakat pasti akan mengalami suatu perubahan. Hal ini terjadi karena setiap individu dan anggota kelompok masyarakat tersebut memiliki pemikiran dan kemampuan untuk terus berkembang dari waktu ke waktu.

Sering kali perubahan yang terjadi di masyarakat karena adanya unsur-unsur yang harus dilakukan dalam mencapai kehidupan lebih layak di masa depan. Perubahan ini dipicu oleh keinginan untuk menjalankan kehidupan yang lebih baik.

Selain itu, hakikat dan sifat manusia yang selalu ingin membuat perubahan terus menciptakan hal baru. Seiring berjalannya waktu, hal-hal baru terus berkembang hingga akhirnya mengubah sistem yang lama.

Pengertian Perubahan Sosial Budaya

Menurut pendapat ahli sosiologi, Emile Durkheim, perubahan sosial terjadi sebagai hasil dari adanya faktor-faktor ekologis dan demografis yang mengubah masyarakat, dari kondisi tradisional dengan karakter solidaritas mekanistik, menjadi masyarakat modern dengan solidaritas organistik.

Mengutip materi dari laman Sumber Belajar Kemdikbud, perubahan sosial dan perubahan budaya memang merupakan hal yang berbeda, tetapi keduanya mempunyai keterkaitan.

Perbedaan bisa dilihat dari segi istilah. Perubahan sosial merupakan perubahan pada sistem sosial, struktur, dan fungsi masyarakat. Sedangkan perubahan budaya adalah perubahan yang terjadi di unsur-unsur budaya manusia, baik berupa artefak, benda, ataupun ide atau gagasan.

Namun, perubahan budaya dapat menyebabkan terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat, atau sebaliknya. Perubahan budaya yang terjadi karena pengaruh modernisasi, misalnya, dapat memicu gejala perubahan sosial.

Perubahan sosial budaya bisa terjadi karena beberapa faktor internal dan eksternal di masyarakat. Sejumlah faktor internal itu seperti perubahan jumlah penduduk, adanya penemuan baru, lahirnya konflik sosial, hingga terjadinya pemberontakan oleh masyarakat atau revolusi. Sedangkan faktor eksternal seperti bencana alam, perubahan lingkungan, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.

Bentuk-bentuk Perubahan Sosial dan Contohnya

Walaupun perubahan sosial pasti terjadi dalam masyarakat, kuantitasnya tidak serta merta sama. Ada masyarakat yang mengalami perubahan secara cepat dan ada pula yang berlangsung lambat. Hal ini menyebabkan perubahan sosial terpilah menjadi tiga (3) bentuk. Dikutip dari artikel “Bentuk-bentuk Perubahan Sosial Budaya” dalam Jurnal Dakraw (Vol 9, No 2, 2015).

Baca Juga :   Membangun Integritas dan Dedikasi Organisasi Mahasiswa

1. Perubahan Evolusi dan Revolusi

  • Perubahan evolusi adalah perubahan sosial yang terjadi dalam proses lambat dengan waktu yang cukup lama tanpa ada kehendak tertentu dari masyarakat bersangkutan.

Perubahan ini terjadi karena adanya dorongan dari masyarakat untuk menyesuaikan diri terhadap kebutuhan hidup di waktu tertentu.

Contoh perubahan evolusi, modernisasi yang mengakibatkan perubahan pada sistem transportasi dan perbankan.

  • Sedangkan perubahan revolusi merupakan perubahan yang berlangsung cepat tanpa direncanakan sebelumnya. Perubahan ini seringkali memicu ketegangan dan konflik sosial di awal prosesnya.

Contohnya revolusi kemerdekaan 1945 yang terjadi di Indonesia. Perubahan ini merombak tatanan kepala negara, wakil kepala negara, struktur kabinet sampai perilaku masyarakat.

2. Perubahan yang Dikehendaki dan Tidak Dikehendaki

  • Perubahan yang dikehendaki adalah perubahan yang terjadi karena ada perencanaan dari pelaku perubahan (agen of change), yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat sebagai pemimpin pada lembaga-lembaga kemasyarakatan.

Misal, lahirnya undang-undang perkawinan berdasarkan Peraturan Pemerintah No 10 Tahun 1963 yang membatasi kaum laki-laki terutama pegawai negeri untuk mempunyai istri lebih dari satu, kecuali ada alasan kuat tertentu.

  • Perubahan yang tidak dikehendaki atau tidak direncanakan ialah perubahan yang berlangsung di luar jangkauan dan pengawasan masyarakat. Perubahan ini dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan masyarakat. Contohnya, kecenderungan untuk mempersingkat prosesi adat pernikahan yang memerlukan biaya besar dan waktu lama.

3. Perubahan Kecil dan Besar

  • Perubahan kecil berarti perubahan pada struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung bagi lembaga kemasyarakatan. Contoh: perubahan model rambut, pakaian, sepatu dan lainnya.
  • perubahan besar adalah perubahan yang memberi pengaruh langsung bagi kehidupan masyarakat. Perubahan ini terjadi sebab ada hal baru yang mampu menggantikan fungsi sesuatu yang lama. Misalnya, pemakaian mesin traktor dalam membajak sawah menggantikan peran dari tenaga kerbau dalam cara pertanian tradisional.

Selain bentuk-bentuk yang telah dijelaskan diatas, perubahan sosial juga dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu perubahan struktural dan perubahan proses. Ini berdasarkan penjelasan Kun Maryati dan Juju Suryawati dalam buku Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII (hal. 13).

Baca juga: Bentuk Perubahan Sosial Masyarakat: Revolusi, Evolusi, & Kebudayaan

  • Perubahan struktural merupakan perubahan sangat mendasar yang dapat menyebabkan timbulnya reorganisasi dalam masyarakat. Contohnya, penggunaan alat-alat pertanian yang serba canggih.
  • Perubahan Proses yakni perubahan yang sifatnya tidak mendasar. Perubahan tersebut hanya sebagai penyempurna dari perubahan sebelumnya. Contohnya perubahan kurikulum dalam bidang pendidikan yang sifatnya menyempurnakan kekurangan kurikulum sebelumnya.
Baca Juga :   Covid-19 Utamakan Pendekatan Kemanusiaan

Contoh Perubahan Sosial di Kehidupan Sehari-hari

     Menurut W. Kornblum dalam bukunya Sociology in Changing World, perubahan sosial budaya yang dialami suatu masyarakat akan berlangsung secara bertahap dalam jangka waktu lama. Maka itu, contoh perubahan sosial budaya juga bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut sejumlah contoh perubahan sosial budaya akibat proses modernisasi yang selama ini ada di kehidupan sehari-hari.

1. Perubahan Teknologi Kendaraan

Di zaman dahulu manusia bepergian menggunakan kereta roda yang memanfaatkan tenaga hewan layaknya kuda ataupun sapi untuk menggerakkannya. Namun kini setelah ditemukan mesin pada kendaraan bermotor, manusia dapat bepergian dengan nyaman menggunakan mobil dan motor.

2. Pakaian

Modernisasi dan globalisasi di masa sekarang sangat mempengaruhi cara berpakaian masyarakat. Jika di masa lalu masyarakat Indonesia kerap memakai pakaian tradisional dan baju adat, saat ini kebiasaan itu semakin sulit ditemukan.

Baca juga: Faktor Pendorong dan Penghambat Perubahan Sosial Serta Contohnya

Banyak orang kini memakai pakaian sesuai dengan trend yang sedang viral maupun sekadar ingin mengenakan sesuai selera mereka. Sedangkan pakaian adat hanya dikenakan di momen tertentu saja seperti dalam acara pernikahan. Contohnya adalah maraknya pakaian dari kain jeans, bahan kaos, dan lain sebagainya.

3. Bangunan Rumah

Rumah jaman dahulu sangat sederhana yang terbuat dari anyaman bambu dan atap daun kering. Modelnya pun dibuat sesuai dengan bangunan khas rumah adat dari masing-masing daerah.

Sekarang rumah-rumah dibangun dari bahan campuran semen dan pasir yang kokoh dengan model beraneka macam. Rumah sekarang juga banyak dibangun lebih dari satu lantai dengan sistem penerangan dan pembuangan yang baik.

4. Alat Komunikasi

Pada zaman dahulu manusia menggunakan surat dan telepon umum sebagai alat komunikasi jarak jauh. Sekarang, setelah hadirnya smartphone (telepon pintar) banyak orang berkomunikasi dengan lebih mudah dan cepat dengan sarana internet.

5. Permainan Anak-anak

Perubahan sosial sangat terlihat dari berubahnya permainan yang digemari anak-anak. Jika zaman dahulu anak-anak sering bermain petak umpet, lompat tali, kelereng, layangan, gobrak sodor dan permainan lain bersama teman-temanya, saat ini hal itu merupakan barang langka. Kini anak-anak lebih gemar bermain game online seperti mobile legend, PUBG, FF, game console dan Play Station.

Baca Juga :   Perempuan, Iklan Media dan Jebakan Kapitalisme (Memaknai Hari Perempuan Sedunia)

6. Sikap

Perubahan sikap ini bisa dilihat dari tata cara berinteraksi atau perilaku masyarakat. Misalnya, kini lebih banyak masyarakat yang berani bersikap kritis terhadap pemerintah. Contoh lain ialah tata cara pergaulan atau komunikasi antara generasi muda dengan para orang tua yang lebih egaliter.

7. Bahasa

 Jika pada zaman dahulu mayoritas masyarakat Indonesia cuma menguasai bahasa daerah masing-masing, saat ini kondisinya sudah berubah. Banyak orang sekarang menguasai bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional. Proses migrasi ke daerah lain juga menyebabkan banyak orang dari satu daerah menguasai beberapa bahasa daerah. Globalisasi juga membuat lebih banyak orang di tanah air saat ini mampu menguasai bahasa asing, terutama bahasa Inggris.

Contoh Perubahan Sosial Budaya di Masyarakat Desa

Modernisasi yang terjadi dalam kehidupan masyarakat perdesaan membawa pengaruh yang besar terhadap perubahan sistem kerja, gaya hidup, dan aktivitas ekonomi, demikian mengutip paparan dalam buku Strategi dan Perubahan Sosial (2016: 65).

Perubahan tersebut ditandai oleh masuknya sistem industri dalam kegiatan pertanian masyarakat desa.

Contohnya, penggunaan mesin traktor untuk membajak sawah yang menggantikan tenaga kerbau atau sapi.Perubahan alat dan sistem kerja pertanian masyarakat desa yang semakin modern juga membuat hilangnya lapangan pekerjaan untuk sebagian masyarakat desa.

Dampak lainnya, hubungan kerja antar-masyarakat semakin jauh dan terkikisnya nilai-nilai gotong royong yaitu sikap saling membantu satu sama lain. Perubahan tersebut juga memudarkan nilai-nilai tradisional yang mestinya dapat dipertahankan sebagai ciri khas masyarakat perdesaan.

Dalam masyarakat perdesaan, perubahan juga sering memberikan dampak pada perubahan mata pencaharian mereka. Hal ini disebabkan adanya kebijakan pemerintah yang mengikat pemanfaatan sumber daya alam (2016: 68).

Masyarakat desa yang sebagian besar hidup bergantung pada potensi sumber daya alam, mau tak mau harus mencari mata pencaharian lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tentunya kondisi ini memerlukan alat atau keahlian dalam menjalankan aktivitas baru tersebut.

Selain itu, berkurangnya penduduk desa yang disebabkan oleh arus urbanisasi yang tinggi ke kota, juga sering kali mempengaruhi struktur kelembagaan dalam masyarakat perdesaan.

Ubranisasi yang biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki, termasuk yang sudah berkeluarga, akan mempengaruhi sistem kerja di masyarakat desa. Akibatnya, wanita berkeluarga yang ditinggalkan bisa memiliki peran ganda, yakni sebagai ibu yang mengasuh anak dan mengantikan peran suami dengan bekerja di ladang atau sawah.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button