Sosok

Perjalanan Hidup Fansi Antang hingga Menjadi Kades Termuda di Manggarai Timur

Banera.id Sebanyak 27 desa di Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi NTT melaksanakan pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak pada Kamis (26/08/2021). Masing-masing desa tersebut menjagokan putra putri terbaiknya dan hanya memilih satu di antara mereka. Dari sekian banyak kades yang terpilih, ada salah satu kades yang cukup menarik perhatian, yaitu kades terpilih untuk Desa Benteng Rampas, Kecamatan Lambaleda Timur. Selain karena usianya yang masih relatif muda, pria kelahiran Lagos, 16 Juni 1994 tersebut juga memiliki perjalanan hidup yang cukup getir. Berikut kisahnya.

Pada usia empat tahun, pemilik nama lengkap Benyamin Fansi Ardi Antang yang akrab disapa Fansi atau Ancik ini ditinggal pergi untuk selamanya oleh ayah tercinta. Ancik kecil yang belum mengerti betul tetek bengek kehidupan dipaksa tinggal hanya bersama sang ibu, dan terkadang di rumah kakek dan nenekya. Sepuluh tahun berselang, atau tepatnya ketika Kades Ancik berusia 14 tahun (kelas VIII), sang Ibu juga dipangil menghadap Tuhan. Sebuah cobaan hidup yang teramat berat untuk remaja seusianya. Hatinya remuk redam, luluh lantak berkeping-keping. Dia bahkan merasa bahwa Tuhan itu tidak adil. Bagaimana tidak, dalam usia sebelia itu ia harus kehilangan kedua orang tuanya.

Baca Juga : Mengapa Hantu Populisme Bangkit?
Baca Juga : Muda Adalah Kekuatan

 Setelah menamatkan pendidikan menengah pertama, Kades Ancik jelas ingin seperti anak-anak lainnya yang ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Tapi keadaan memaksanya untuk tetap tinggal di kampung karena kakeknya sakit parah. Masih diselimuti kecewa karena belum melanjutkan pendidikan formal, lantas ia mengadu nasib di kota Ruteng dan bekerja di sebuah toko dengan upah Rp. 150.000/bulan. Baru dua bulan menekuni pekerjaan di toko, kabar buruk berhembus. Kini giliran kakeknya dipanggil Tuhan. Penyesalan menggerogoti hati kecil Kades Ancik lantaran sebelumnya ia memaksa keadaan kakek-neneknya agar ia didaftarkan ke suatu SMA. Hatinya benar-benar teriris.

Baca Juga :   Kisah Pemerhati Lingkungan Hidup, Dr. Sonny Keraf

Dua minggu sudah kakeknya tertidur di keabadian. Supaya tidak berlarut-larut dalam duka, Kades Ancik beranjak ke Mauponggo, Kabupaten Nagekeo dan mendapat pekerjaan memetik cengkeh. Alih-alih menghilangkan duka, belum seberapa lama di Mauponggo, dia kembali mendapatkan kabar buruk bahwa sang nenek telah pergi untuk selamanya. Wanita tertulus setelah sang ibunda itu kini tak lagi bersamanya. Ia merasa tak ada gunanya lagi ia hidup. Orang-orang yang tulus merawat dan membimbingnya telah tiada. Ia benar-benar merasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya.

Baca Juga : Ini Aku
Baca Juga : Justifikasi dan Kritik

Pada Januari 2011 Kades Ancik kembali mengadu nasib ke kota Ruteng. Di sana ia bertemu dengan seorang baik hati yang tak lain adalah pamannya, Viktor Daus. Ia menawarinya supaya mendaftar ke sebuah SMA. “Intinya, nana masih punya niat untuk sekolah. Biar om yang membiayai uang sekolah,” tulis ‘Kades Muda’ itu menirukan ucapan pamannya via aplikasi pesan Whatsapp kepada Banera. Ternyata dunia masih menyimpan begitu banyak orang-orang baik. Pada tahun ajaran baru, beliau didaftar di SMA Bina Kusuma Ruteng. Tinggal bersama Om Viktor Daus dan keluarga, Kades Ancik benar-benar merasa bahwa orang tuanya masih ada. Ketulusan hati Bapa Viktor dan Mama Sia –begitu Kades Ancik memanggil mereka– serta anak-anak mereka menyadarkannya bahwa Tuhan itu adil. Dia masih menitipkan orang-orang yang baik hati.

Baca Juga :   Rinu Romanus dan Cikal Bakal Lahirnya Majalah SRD

Menurut struktur keluarga, Bapa Viktor seharusnya dipanggil om. Tapi karena kebaikan dan ketulusan mereka, Kades Ancik memanggil mereka dengan sebutan Ema Ito atau Papa Ito dan Mama Sia, sebagai pengganti ayah ibu dan kakek neneknya..

Satu tahun berselang, setelah tamat SMA pada tahun 2014, Kades Ancik merantau ke Surabaya. Mulanya, di Kota Pahlawan itu ia bekerja di sebuah cafe. Setelah beberapa bulan bekerja, tanpa sepengetahuan Bapa Viktor, Kades Ancik mendaftarkan diri di salah satu kampus di Surabaya. Namun kemudian ia terhenti di semester tiga karena kondisi finansialnya yang kurang mencukupi untuk melanjutkan kuliah. Setelah itu ia fokus bekerja di salah satu pergudangan dan bersama beberapa teman sekampungnya bernisiatif membentuk sebuah paguyuban (dengan nama Setia Kawan).

Baca Juga : Kegetiran Seorang Mantan Frater
Baca Juga : Pandemi dan Elitisme

Awal 2020 lalu Kades Ancik mengakhiri masa perantauannya di Kota Pahlawan dan mendapat kepercayaan untuk menjadi sekretaris desa di kampung halamannya. Setelah sebelas bulan menjadi sekretaris desa di bawah pimpinan Kades Matheus Kakung, Kades Ancik memantapkan dirinya untuk maju dalam kontestasi Pilkades Benteng Rampas periode 2021-2027 setelah mendapat restu dari keluarga Kades Matheus Kakung yang meninggal sebelum menyelesaikan masa jabatannya di periode pertama. Pengalamannya selama sebelas bulan menjadi aparatur desa menjadi senjatanya dalam menata sistem pemerintahan desa kedepan. Dengan mengusung visi “Mewujudkan Desa Benteng Rampas yang Adil, Mandiri dengan Berlandaskan Gotong Royong”, Kades Ancik berhasil meraup mayoritas suara masyarakat Benteng Rampas. Peran besar keluarga dan kekompakan simpatisan menjadi kunci keberhasilan Kades Ancik.

Baca Juga :   Mengenal RakatNesia Jastip: Dari Timur untuk Indonesia

Kades milenial yang terkenal humoris ini bertekad memajukan Desa Benteng Rampas, masyarakatnya sejahtera dan selalu berlandaskan gotong royong, serta meningkatkan peran serta pemuda dalam pembangunan desa.

Sayangnya sebelum terpilih menjadi kades dalam usia yang masih muda, yakni 27 tahun, Kades Ancik harus merelakan salah satu orang paling berjasa dalam hidupnya, Om Viktor Daus, pergi menghadap Tuhan. Almarhum tak sempat menyaksikan keberhasilan putra angkatnya menjadi orang nomor satu di Desa Benteng Rampas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button