PuisiSastra

Perihal Rejeki Antologi Puisi Maxi L Sawung

Jika surga adalah yang akan kau temui ketika tidak bernyawa

Maka berbahagialah mereka yang hidupnya menderita

Sebab begitu dekat dengan pintu kematian

Akan tetapi surga telah didefinisikan ulang

Oleh mereka yang memiliki uang

Kau akan hidup tenangJika disaku celanamu tersimpan rupiah

Maxi L Sawung

Perihal Rezeki


Sampah yang berasal dari kemalasanmu
Dapat bernilai rupiah bagi mereka yang berusaha
Seseorang yang kau anggap bercanda
Suatu waktu akan mempermalukanmu
Dunia memang tidak selalu dipenuhi cinta
Tetapi salah jika kau membandingkannya dengan derita
Terima kasih hanyalah bonus dari kerja
Jika kau malas tentunya kau akan ditendang
Walau sebenarnya dalam dunia nyata
Ketok magic adalah orang dalam
Kata ibu guru teruslah berusaha
Sedang seorang kaya sudah tahu hidup akan ke mana
Ke tengah kota mereka tertawa dan berdansa
Dengan anggur dan mungkin juga narkoba
Lalu sampahnya dibuangkan pada tempatnya
Tempat kita mengais-ngais mencari sisa rezeki
Dari setitik anggur dari botolnya
Dan segenggam nasi dari kotaknya
Perihal rezeki jangan ditanya
Jika surga adalah yang akan kau temui ketika tidak bernyawa
Maka berbahagialah mereka yang hidupnya menderita
Sebab begitu dekat dengan pintu kematian
Akan tetapi surga telah didefinisikan ulang
Oleh mereka yang memiliki uang
Kau akan hidup tenang
Jika disaku celanamu tersimpan rupiah.
-Februari, 2021

Baca Juga :   Patah Hati Pertama Antologi Puisi Ningsih Ye

Baca Juga : CINTA VIRGINIA
Baca Juga : Food Estate dan Budaya Berkerumun

Pada Panjang Rambutmu


Lebat rambutmu ibu
Tempat kami menghabiskan waktu
Berlari ke sana-kemari mengejar belalang.
Itu rindu yang tidak lagi dapat kami ulang
Ketika hutan telah diubah menjadi lahan
Milik industri. Kau semakin renta, kami tidak berdaya.

Ketika aku ke kota, seorang perempuan
Yang memiliki panjang rambut seperti milikmu
Menjerat mata hatiku. Pada suatu malam minggu
Ia mengikat tubuhku. Aku tiba-tiba merindukan
Mata air di dekat rumah kita.

Baca Juga :   Prolog Sebuah Buku Antologi Puisi Cici Ndiwa

Keesokan harinya aku bangun dan terjebak
Di antara kemacetan jalanan ibu kota
Aku mengendarai kendaraan keberuntungan
Sedang yang lain mengendarai kendaraan kekuasaan.

-Februari, 2021

Baca Juga : Fragen Jingga Antologi Puisi Venansius Patrick Padu
Baca Juga : Puisi Lelaki Senja

Pada Mulanya


Hanyalah kata ketika kita bertemu mata
Dan aku jatuh cinta untuk kesepersekian detik
Namun detak getarnya begitu abadi.
Aku menimbang, haruskah ku uraikan semua
Ketidaksabaran dengan panjang di kali lebar
Sedang kau masih malas membaca.
Begitulah. Pada mulanya adalah kata
Yang menghambat segala asa
Untuk mengucapkan cinta.
Aku terjebak di antara keinginan untuk merangkai kata
Sedang kau memangkas waktu agar cepat berlalu.
Entah mengapa, Tuhan membiarkan mataku terpaku
Pada tubuhmu yang begitu malas membaca buku.
Mengapa cinta itu buta?
Karena itukah kita selalu mendapatkan luka?

Maxi L Sawung, tinggal di Maumere, suka berjalan kaki dan membaca buku gratisan


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button