Renungan

Pergi ke kampung Emaus

Oleh: P. Fredy Sebho, SVD [Ledalero]

Kotbah, Minggu 26 April 2020
Injil Luk 24: 13-35

Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat saya pada bacaan pertama dan kedua hari ini, fokus utama kotbah singkat saya adalah pengalaman “pergi ke kampung Emaus” dalam injil hari ini. Dengan kepiawaian naratif yang luar biasa, penginjil Lukas sengaja menahan “lama-lama” kesadaran kedua murid, Kleopas dan si anonim itu bahwa “orang asing” yang tiba-tiba menjadi kawan perjalanan itu ternyata adalah Kristus yang baru saja bangkit.

“Pergi ke kampung Emaus”, bagi saya, adalah semacam “drama perjalanan iman”, yang jika dibaca sambil melibatkan imaji-imaji utuh, akan dirasakan sebagai salah satu pencapaian sastra yang paling indah dari Lukas, karena di sana, unsur crescendo emosi begitu kuat menjelang akhir cerita yang dibungkus dalam rupa pertanyaan: “bukankah hati kita berkobar-kobar?”

“Pergi ke kampung Emaus” adalah sejenis kisah tentang gaya hermeneutik perjalanan iman yang ditandai dengan tiga babak utama: pergi kepada kesunyian untuk mengasah lagi iman yang mulai terombang-ambing, bercakap-cakap di jalan soal pergulatan hidup yang bisa menggoncangkan iman, lalu kembali lagi ke Yerusalem, kembali kepada persekutuan iman dengan penuh sukacita. Buah nyata dari hermeneutik perjalanan iman ini adalah ketika banyak orang jujur mengakui: “bukankah hati kita berkobar-kobar?”

“Pergi ke kampung Emaus” adalah sejenis narasi tentang momen teofanis, momen Allah hadir dalam pergulatan hidup nyata manusia. Agar Allah bisa hadir, prasyarat dasar adalah disclosure event, penyingkapan atas selubung-selubung apa saja yang membelenggu diri, untuk kemudian masuk pada moments of revelation, pewahyuan diri yang sesungguhnya. Orang yang sudah mengalami momen teofanis selalu ditandai dengan sukacita tak tertahankan: “bukankah hati kita berkobar-kobar?”

Baca Juga :   Sukacita Minggu Palma

“Pergi ke kampung Emaus” adalah sejenis narasi tentang peralihan jati diri kita. Dari pribadi yang hanya “selebritis” menuju pribadi yang semestinya “celebraris”. Diri yang “selebritis” selalu ingin “merayakan dirinya sendiri” dengan suka tampil di mana-mana untuk menuai pujian, yang selalu ingin dikerumuni oleh banyak penggemar untuk mendapat rasa simpatik semu. Diri yang “selebritis” selalu mengundang orang untuk bertanya: “apakah yang kamu percakapakan?”

Sementara, diri yang “celebraris” selalu ingin “dirayakan” oleh orang lain manakala di tengah-tengah riuh keramaian dan kedangkalan macam-macam gaya pikir, macam-macam persoalan hidup, orang hadir sebagai diri untuk menawarkan jalan keluar yang teduh, membagi kearifan dan horizon pengetahuan kita yang serupa telaga paling tenang, yang di dalamnya bisa membantu orang untuk melihat diri mereka secara lebih jeli jernih. Ini bisa niscaya hanya jika kita, yang adalah “air di telaga” itu tidak diganggu riak-riak dan lumpur kotor yang berada jauh di dasar telaga itu. Diri yang “celebraris” selalu menuai pertanyaan banyak orang: “bukankah hati kita berkobar-kobar?”

“Pergi ke kampung Emaus” adalah sejenis permintaan, malah perintah agar kita menjadi teman seperjalanan bagi mereka yang sedang susah. Kita, barangkali selama ini sering lebih tertarik pada Tuhan mesias yang bermahkota emas daripada yang bermahkota duri. Kita, barangkali selama ini sering lebih suka menghiasi diri dengan semarak puja-puji dan ditinggikan di atas altar-altar kemegahan diri. Kita, barangkali selama ini sering lebih berminat untuk berkoar-koar di mimbar rumah ibadat, di panggung politik, dengan penuh glamour kata-kata yang dibubuhi dengan imbauan kenyamanan, kemakmuran, bahkan nasehat saleh padahal tak sedikitpun dalam diri kita yang patut dicontohi. “Pergi ke kampung Emaus” mengajak kita untuk melakukan otokritik. Sebab, jalan kepada kemuliaan tidak ditempuh dengan berjalan anggun di atas karpet merah, tetapi melalui via dolorosa. Hanya dengan kesabaran yang tangguh, dan iman yang kokoh menekuni via dolorosa harian kita, menemani via dolorosa sesama kita, Tuhan akan menetap tetap dalam hati kita hingga: “bukankah hati kita berkobar-kobar?”

Baca Juga :   Renungan: Minggu 14 Juni 2020

“Pergi ke kampung Emaus” adalah sejenis narasi tentang perjumpaan dengan “yang lain”, dengan segala macam “kelainannya”. Bukankah rasa identitas kita yang sempit kerap memanfaatkan ego kolektif yang merasa terancam oleh kehadiran ”yang lain”? Narasi Emaus tampil untuk mengingatkan kita akan altar perjamuan Tuhan, tempat diri-Nya dibati-bagi untuk kita, kemudian mendesak kita menemukan altar-altar kehidupan bersama ”yang lain” di dalam ziarah kehidupan yang beragam pergulatannya. Dalam dunia dan komunitas yang semakin gencar mengeksploitasi hasrat-hasrat untuk ”memiliki sambil menyingkirkan yang lain”, hasrat-hasrat untuk “mencintai yang satu dengan cara membenci yang lain”, dan hasrat-hasrat lainnya, narasi Emaus mengajak kita mengembangkan spiritualitas ugahari dengan cinta yang paling putih, dan belajar hidup berbagi dengan kasih yang paling agung.

“Pergi ke kampung Emaus” tidak selalu mulus. Kita malah dibentak: “Hai kamu yang bodoh!”. Saya kira, ini bukan hardikan untuk merongrong harga diri, bukan pula cemoohan untuk melucuti derajat sebuah kewibawaan, melainkan lebih sebagai penyadaran akan kelambanan, malah kemalasan kita untuk berpikir lebih jernih dan bertindak lebih bijak. Narasi Emaus adalah narasi tentang diri kita yang masih kerapkali bodoh. Bodoh, dalam arti biblis bukan soal minus pengetahuan, bukan pula soal defifit ilmu, melainkan lebih luas dari itu, tidak mempunyai hikmat, kebijaksanaan, dan malah iman sehingga kita begitu lamban untuk berubah dan bertobat dari kesalahan yang sama.

Baca Juga :   Renungan Hari Minggu Paskah VII (Minggu, 24 Mei 2020) Hari Minggu Komunikasi Sedunia

Ada pepatah klasik orang Yunani: “Bodoh bukan soal tidak tahu, tetapi soal tidak mau tahu. Bodoh bukan soal tidak paham, tetapi soal tidak mau percaya. Bodoh bukan soal kepala kosong, tetapi soal tidak mau berubah. Kalau engkau bodoh karena tidak tahu, atau tidak paham, atau kepala kosong, dunia masih memahamimu. Tetapi, kalau engkau bodoh karena tidak mau tahu, tidak mau percaya, dan tidak mau berubah, segala makhluk apapun tidak bisa memahamimu”. Atas dasar inilah, yang menjadi kesukaan mulut saya untuk menghardik para frater kalau “kepala batu” adalah kata “bodoh”. Tentu, bodoh dalam arti yang “mulia” di atas. Jika ada yang tersinggung, puji Tuhan. Jika tidak, “makhluk apa lagi yang bisa memahaminya?” Jika ada yang sakit hati, syukur kepada Allah. Jika tidak, “dengan apakah orang ini diumpakan?”

Paling penting, kita adalah murid yang sedang pergi ke Emaus itu. Memiliki “hati yang berkobar-kobar”, saya kira tidak cukup. Satu lagi yang penting, kita jangan tetap menjadi orang bodoh.

Kitakah orang, dengan “hati yang berkobar-kobar” itu?
Kitakah orang yang masih “bodoh” itu?

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button