Puisi

Perempuan Tuanku Antologi Puisi Ingrida Astuti Lestari

Untukmu Kasihku

Memohon doa dalam palungan sunyi
Membentang tikar tersungut malu
Ini kali jiwaku tertikam besi membara tak terampun
Mengoyong dengan ketidakmampuan
Meneteskan kepiluan di rumah ibuku
Sembari menatap kaca yang tak bersahabat

Aku perempuan jalang pemohon janji kata
Hatiku dirobek dengan tamparan harta
Mataku berlinang mendadak ramai membasuhi ruang wajahku
Sungguh,
Tikaman tak berbelas kasih

Selangkangmu dijadikan tumpuan kelaminmu
Meraba dengan keangkuhan
Memulai perangmu terhadap jiwa yang tak berdaya
Mencari perhatian apakah aku meminta jatah lebih seperti pengantin malammu

Masih pantaskah aku disebut perempuan?
Dua puluh empat jam tidak akan cukup menulis tentang tikamanmu
Membersihkan rumah hatiku bukan inginku lagi
Kesirnaan hidupku sudah menjadi hak jantanmu, tuan

Aku seorang pelacur hina sayang
Hidupku memohon belas kasih dari sang Tuan
Perempuanku sudah terlonggar tajam
Keadaanku penuh dengan darah tak kasat mata
Miris!
Nasibku bukan upah
Bukan juga cinta
Melainkan perjuangan menutup kepiluan
Di kaca retak sembari tersenyum manis

Baca Juga :   Kebisuan di Pertengahan Juni Antologi Puisi Defri N. Sae

Masih pantaskah aku disebut perempuan?
Kelaminku sudah tak bernyawa
Syair puisiku semakin tak bersuara
Pada tikungan saja jalanku masih pontang panting
Ibu, aku mecium kakimu
Yang seharusnya tak pantas lagi
Menerima genggaman kasihmu
Perihal dosa beratku di neraka
Anakmu perempuan jalang
Merintih dan menanti panggilan dari Sang Ilahi

Bac juga Tak Bisa Membohongi Rasa

Perempuan Tuanku

Tercabik luka tanpa ampun
Terlempar tangan tanpa memberi
Bak luka kembali mengeluarkan darah
Tanpa mohon restu dari sang tuan
Ini kali sejarah kembali dipoles
Dengan suara nyaring tak terdengar

Tuan, manakala engkau melepaskan
Penutup tubuhnya dengan iba
Mata yang berpoles pilu
Mengencangkan rasionalmu untuk menikam
Ini bukan rembulan hayalan pengisi mimpi
Bukan bunga yang mekar penawar mata

Perempuan berjabat tangan memenuhi ranjangmu
Seribu bibir enggan engkau protes
Tapi jiwanya yang polos engkau nyanyikan
Tuan bukan maksud ingin berkaca pada perakmu
Bukan darah yang perlu kau obati
Namun hati yang tak perlu digores

Baca Juga :   Antologi Puisi Wandro J. Haman

Ranjang keabadian menanti di penginapan
Renjana naluri untuk menikam tak berpeduli
Tuan engkau kembali berpoles
Dengan niat tak memohon ampun
Pelacur-pelacur meratapimu
Sungguh malang nasib pelacur-pelacur pinggiran

Ini kali darah pada jiwa tuan tak memohon ampun
Tangisan pada jiwa pelacur-pelacur pinggiran dengan penutup tubuh
compang camping setelah malam berlarut
Neraka berdekatan tak memberi syarat
Dengan langkahmu tuan tanpa berbelas kasih

Salam, padamu tuan penikam jiwa
Kini pelacur-pelacurmu haus
Akan nyanyianmu dengan perakmu yang memberikan cahaya
Kini tuan menjadi raja di ranjang keabadian

Baca juga Diskusi Sabda Pada Waktu Petang Antologi Puisi Epi Muda

Kopi Pada Kertasku

“Tidurlah, jangan membuat malam tambah panjang,” katanya
Sabtu pagi embun memanggil
Untaian rasa kembali tercabik
Membuatnya biasa, berhenti memulai
Menatapmu pada kopiku

Baca Juga :   Seselimut Denganmu Antologi Puisi Indrha Gamur

Ah, aku muak dengan fatwa idealisme
Tutup saja bajumu di kebisuan jalan
Lain kali aku menikmatinya
Ini alamku
Mengenalmu di atas lembar kosong
Pada cangkir kopiku

Saya ingin menunjukkan tentang
Kebebasan izin syarat tanpa batas
Demi memenuhi syarat asrama yang terbatas
Saya tidak akan pernah puas denganmu
Karena kamu adalah kopiku dalam kertas kosong

Kemolekanmu menutup pena tajamku
untuk menuliskannya pada lembar putihku
Ketika mataku terpejam, yang kulihat hanya remang-remang kegelapan
Dan aku hanya menjadi penikmat dari tubuhmu yang risau
Kamu perempuan kedua yang hebat pada kertasku
Penikmat kopi pada cangkirku

Tidurlah, siapa tahu nanti malam engkau bermimpi pakai gaun pengantin
Kerena gaun pengantin cita-cita terkini zaman edan
Saya ingin kamu jadi harimau pada jiwaku
Dengan niatmu

Baca juga Mencari Tuhan Dalam Wajah Sesama

Ingrida Astuti Lestari (Foto/Dokpri)

Penulis adalah Mahasiswa UNIKA St. Paulus Ruteng, program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button