cerpen

Perempuan-Ku

Foto: Ilustrasi

Aksara kata mengelabui hati yang tak bertuan,
Remang dan bayang menjadi semu,
Lisan terpikat pada seuntaian nama,
Menjadi rindu dalam keabadaian,
Paras wajah dan bibir yang seksi,
Memikat jiwa dalam rintihan nada,
Kini,
Nama itu mati,
Jatuh dalam taman rumput ilalang,
Menjadi dusta keabadian,
Mata menipu,
Hati bertopeng,
Terlelap dalam pangkuan rasa yang pudar,
Lisan berjalan merintih pada persimpangan,
Tergores dalam hembusan nafas yang buntuh,
Menjadi tertawan dalam bayang-bayang.

Baca Juga :   Kumpulan Puisi Lalik Kongkar

Lorena, 1 April 2020

Tangisan Semesta

Hujan pun Turun,
Membasahi retak-retak bumi,
Dibalik Kapela tua,
Nada-nada bersulamkan ibadah,
Bertekuk lutut,
Sembari,
Mengadu kasih,
Bulir-bulir doa,
Berbaris menjadi melodi,
Memecahkan kesunyian malam,
Rintihan menjadi pusaka,
Antara kematian dan kesembuhan,
Bumi dicumbui dengan Virus yang tak di undang,
Rasa menjadi batu,
Terlarut dalam kepanikan,
Yang mengelilingi setiap insan,
Rintihan air mata tertawan dalam rasa yang terbius,
Hati berserah diri,
Memohon sang empunya,
Menyatukan sajak yang tersakiti.

Baca Juga :   Pengkhianatan

Nita, 6 April 2020

Kemarin

Kemarin,
Masih ada asap kmenyan berlari mengelilingi altar-Mu
Kemarin,
Gema suara menelusururi alang-alang rumah-mu dalam ruang yang hening
Kemarin,
Kidung sabdamu membalut hati dan lisan yang terkuras,
Kemarin,
Bunyian lonceng gereja bersarang dalam telinga,
Kemarin,
Adalah seunatian kalimat yang abadi dalam bibir puisi,
Hari ini, asap kemenyan, tertidur dan terlelap dalam remang-remang mimpi,
Hari ini, bunyian lonceng , perlahan-lahan membisik, mengecil,
Dan hilang tanpa suara,
Hari ini adalah rupa yang tertawan dalam rupa-Mu,
Dan kata yang menawan dalam kata-mu ,

Baca Juga :   Tentang Sebuah Kisah

Nita, 10 April 2020

Penulis : Gabriel Andriano
Mahasiswa Stfk Ledalero

Artikel Terkait

Satu komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button