Puisi

Perempuan dan Kopi Antologi Puisi Afriana

Sudah ku katup tangan pada tengah malam tetapi,

Senyummu masih terngiang dan bahkan sampai sepanjang zaman perjalanan,

Hingga ku jumpai kembali setetes embun mengalir di Antara cela daun,

 Atau saat ku rebahkan kembali tubuhku pada pangkuan malam.

Afriana

Puisi

Barangkali puisi(ku) adalah rencana paling busuk,
Tombak paling bengis, pisau paling tajam untuk membunuh bayanganmu dalam kepalaku
Sebab sudah ku katup tangan pada tengah malam tetapi,
Senyummu masih terngiang dan bahkan sampai sepanjang zaman perjalanan,
Hingga ku jumpai kembali setetes embun mengalir di antara cela daun,
atau saat ku rebahkan kembali tubuhku pada pangkuan malam.
Kejam !

Baca Juga :   Kumpulan Puisi Alexander Wande Wegha

Semesta, 2021 ^Catatan di Ujung Pena^

Baca Juga : Covid-19 dan Urgensitas Pertobatan Kaum Kristiani
Baca Juga : Manisfestasi Manusia Sebagai Makhluk Citra Allah

Perempuan dan Kopi

Pada suatu pagi yang teduh
Sederet embun bersatu padu meminang sesuatu
“Dalam nama Tuhan yang merestui semesta
Menjadikannya tempat bernaung segala rasa”
Pagi terlalu manis
Hingga tak ingin beranjak dari sini

Di lorong sunyi ia berdiri
Sembari menatap dan berharap semua akan baik-baik saja “Sabar dalam segala doa dilantunkannya”

Perempuan
Selain berperang dengan asap dapur
Tak lupa menatap dengan mata hati sembari memeluk segala rindu dengan Kopi

Baca Juga :   PEREMPUAN: Kewajiban Keadaban Bersama

Panggilan Syahdu kopi melirik rindu
Mari kembali sedekat nadi
Jangan sejauh matahari
Meski hanya sekedar ilusi

Perempuan
Ia seruput kopi dengan hati
Membiarkan diri diselimuti rindu

Ruteng, i 2021 ^Catatan di Ujung Pena^

Baca Juga : Taat dan Patut Antologi Puisi Alfa Edison Missa
Baca Juga : Berdamai dengan Hati Antologi Puisi Maria Grasela

Hujan

Satu persatu tetesan air itu menitipkan jejak rindu
Kepada mereka yang sedang bercumbu
Semesta lembab, lalu gerimisnya mengundang pilu
Sebab mengusik ketenangan jiwa karena bunyi yang menghasilkan nada sendu

Baca Juga :   Selamat Bertambah Usia " N" Antologi Puisi Maxi L Sawung

Kadang ia menjadi sahabat baik setiap kali menyeduh kopi
Kadang juga membawa duka saat kenangan kembali hadir di kala diri sedang sendiri

Hujan
Sehabis luruh pada tubuh semesta
Jangan lupa pulang kepada Pencipta

Ruteng, 2021 ^Catatan di Ujung Pena^

Baca Juga : Gerakan Literasi Versus Gerakan ‘Mengemis’
Baca Juga : Ketika Hujan Turun Antologi Maxi L Sawung

“^Catatan di Ujung Pena^ adalah nama Pena dari Afriana, seorang Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teologi Universitas Katolik Indonesia St Paulus Ruteng. Senang menulis dan sangat menyukai senja.”

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button