cerpen

Percakapan I

Foto: Pinterest

Penulis: Hams Hama

Ziarah menghantarnya pada lelah
sejenak lelaki itu jeda mengumpulkan sisa kuras yang masih terjaga
Lidah pun keluh.
Sekujur tubuh dibasuh peluh,
Letih.
Lelaki itu haus.

Dekat Sumur usang lelaki itu membaringkan lelah
Sedang waktu menyibak getirnya panas
Tak ada sesiapapun.
Tak ada Tanda-tanda kehidupan
Barangkali orang-orang sibuk menunggu nasip.

Baca Juga :   Menanti Kematian

Adalah perempuan Samaria
Menantang getir memikul jauh hausnya
Menaruh seluruh harapnya pada Sumur usang.
Barangkali dari sana menyahut jawab ” akan kutuntas perkaramu perempuan malang”

Di antara retak cemas suara sang Lelaki itu menaruh harap
Letihnya membahasakan iba, bibirnya menggemakan harap:
“ambilkan aku air”
Sorot matanya mengamini kata yang barusan melesat
Aroma mukanya menebarkan keyakinan “percayalah perempuan, tak ada siapa-siapa”

Baca Juga :   Tikus-Tikus yang Melahirkan Luka

Percakapan II

Lintani luka perlahan singkap
Nelangsa kota perlahan terungkap
Mata lelaki itu adalah cermin
Kepalanya langit, perempuan itu gamang.

Ia gemetar. Terbatah mengucap kata “engkau tak punya timba”
Barangkali ia malu dengan kelam yang dilihat pada mata lelaki itu
Barangkali ia gelisah dengan tuba yang melekat pada kepala lelaki itu
Sehingga kata-katanya berlalu

Baca Juga :   Perjalanan Panjang

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Periksa Juga
Close
Back to top button