Opini

Peran Anak Muda Dalam Membangun Desa

Penulis : Lody Darman

Banera.id – Ketika kita berbicara mengenai pembangunan, khusus pembangunan di desa adalah hal yang sangat menarik. Karena desa merupakan harapan kemajuan sebuah bangsa. Hal yang terjadi yang selama ini, banyak orang menganggap desa dan masyarakatnya sangat tertinggal. Penilaian seperti itu sangatlah keliru. Paradigma semacam ini seolah-olah mengamini bahwa kesuksesan hanya ada di kota besar.

Saat ini gerakan pemberdayaan desa semakin banyak. Gerakan-gerakan tersebut pada umumnya dimotori oleh anak-anak mudah milenial. Kini terlihat sudah kesadaran pemuda akan pentingnya pemberdayaan desa yang kita ketahui sesungguhnya memiliki banyak potensi dan kekayaan alam. Tentunya gerakan-gerakan semacam ini adalah hal yang menggembirakan bagi kita semua. Bentuk kepedulian yang berorentasi dari desa untuk desa bermacam-macam. Ada yang fokus di bidang pendidikan dan keterampilan.

Gerakan ini berupaya memberikan pendidikan kepada mereka yang tak mampu melanjutkan sekolah dan memberi bekal keterampilan tambahan, yang nantinya bisa menjadi modal. Ada pula gerakan yang lebih fokus kepada pendampingan petani-petani di desa. Gerakan ke dua ini, mengorganisir petani-petani desa, bahu-membahu mencapai kesejahteraan bersama.

Baca Juga :   PEREMPUAN: Kewajiban Keadaban Bersama

Gerakan pemberdayaan desa yang digawangi oleh pemuda milenial, seperti organisasi di Universitas Katolik Indonesia Ruteng, yang mana memberikan pemahaman terhadap pemudah milenial yang berahlak. Serta menggali potensi desa seperti mempromosi kain tenun songke orang manggarai, atau membuat desa parawisata.

Sebagai orang desa, paradigma kita yang harus diubah. Membangun desa itu bukan dari kota, tapi kebalikannya “membangun kota dari desa”.

Pemuda kebanyakan tenggelam dalam situasi yang menindas, represif, dan tidak mampu lagi menyadari keberadaan dirinya. Mereka larut dalam iklim penindasan yang masif dan tidak mempunyai partisipasi aktif dalam tiap-tiap masalah yang muncul di tengah masyarakat (desa).

Hari ini kita sudah mengetahui permasalahan yang ada. Hari ini kita sudah ketahui bahwa banyaknya potensi yang ada di desa. Namun sampai saat ini kita belum juga sadar akan semua itu, seakan-akan kita tidak tahu dan tidak mau cari tahu. Sebagai generasi yang sedang pendidikan mestinya harus diimplementasikan kepada masyarakat banyak agar beruga.

Walaupun berbagai gerakan pemberdayaan desa yang bermunculan seperti dijelaskan di awal tulisan, hingga saat ini belum merata. Bahkan mungkin dari beberapa pemuda yang punya kesempatan belajar sampai tingkat universitas, setelah lulus belum banyak yang minat kembali ke desa, dan menjadi sarjana untuk desa. Kita adalah pemuda desa, dari desa merantau ke kota untuk mencari ilmu.

Baca Juga :   Bunuh Diri dan Peran Keluarga

 Maka tak ada salahnya kita kembali ke desa untuk mengimplementasikan ilmu dan pengetahuan yang kita dapatkan. Serta  memperdalam ilmu pengetahuan dan pulang kembali ke desa untuk mengabdi ke masyarakat serta menjadi delegasi dan wakil terdepan di tengah masyarakat. Sehingga desa dapat menjadi maju.

Jadi, sikap masyarakat desa yang acuh, tak acuh terhadap keaadan desa dan hanya bisa menerima apa adanya terhadap perkembangan desa akan sangat sulit untuk berkembang dan maju lebih tepat sebagaimana yang di harapkan.

Karena banyak kasus yang terjadi, baik dalam rencana pembangunan, maupun pelaksaannya yang terkadang tidak transparan. Hal ini akan menjadi pemicu penghambat dalam proses kemajuan desa karena sebanyak apapun anggaran yang di berikan pemerintah untuk pembangunan desa, jika tidak di kelolah dengan baik maka akan hanya melahirkan sebuah peluang tindakan kejahatan/korupsi di desa.

Baca Juga :   Lawan Demagog Pemburu Kuasa

Dalam hal ini banyak masyarakat yang masih meragukan  kridibilitas pemerintah desa dalam keberlanjutan pengembangan desa dengan pelanggaran yang cukup banyak. Hal ini nampak lihat bahwa banyak BUMDES yang tidak berjalan tetapi ada anggaranya.  

Dalam permasasalahan ini tentu pemerintah daerah dan pemerintah pusat tidak bisa melakukan pemeriksaan setiap waktu terhadap kinerja pemerintah desa karena jarak tempuh, dan akses yang belum memadai sehingga masi sulit mendapatkan informasi terkait kinerja desa.

Maka kemungkinan besar akan banyak pelanggaran yang dapat dilakukan oleh pemerintah desa. Melihat kasus ini tentu ada solusi agar apa yang termandat dari UU Desa no 6 tahun 2014 dapat tercapai sebagaimana yang diharapkan.

Penulis berharap bahwa pemuda dapat ikut sadar dan berperan dalam suatu pembangunan desa kedepanya. Baik dalam proses pengawasan pembangunan, maupun dengan pendanaan desa. Hal ini sangat erat kaitan dengan hal-hal yang tidak di inginkan seperti korupsi yang dapat merugikan negara dan rakyat.

Mahasiswa PBSI UNIKA St Paulus Ruteng

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button