Puisi

Penyairku Sedang Gundah Antologi Puisi Wandro J. Haman

Penyairku Sedang Gundah

Ia mengendap melewati musim
Menyusuri lumut-lumut waktu dan bangku tua itu
Dari jarum jam yang gugup, gemuruh badai,
hingga jeritan ranjang pun dikemasnya
Lalu ia tumpahkan dalam celah sunyi,
di antara baris-baris yang remang,
Pada kertas layu yang tengah menampung gundah

Kembali ia susuri kenangan (pahit dan manis) itu
Dihitungnya retak pada koyakan waktu,
juga tawa pada hamparan rindu
Menyisir detik demi detik
yang kini menjadi puing-puing kembara
Juga butir demi butir sepi
yang tumpah dari tintanya sendiri
Semua ia abadikan dalam aksaranya yang gagu dan bisu

Baca Juga :   Hutan Manja Antologi Puisi Ardhi Ridwansyah

(Surabaya, 30 November 2020)

Baca juga Isyarat Sang Senja Antologi Puisi Margaretha Wahyuni Rosari

Tuna Asmara

Kemerau berdengung dalam jiwanya yang lengang
Tiada riak hujan menandakan semi
Juga angin mengantar mendung
Sunyi bertandang,
Tenggelam dalam lembah hati yang menyendiri
Dilaluinya hari tanpa permisi,
tanpa janji (basi),
tanpa peduli

(Surabaya, 07 Desember 2020)

Baca Juga :   Puisi-Puisi Maxi L. Sawung

Baca juga Tak Bisa Membohongi Rasa

Bunga di Simpang Jalan

Dibalik pagi yang gugup
Dia menunggu kekasih gelapnya
Di persimpangan jalan
Di antara lorong waktu yang sayu
Ia bercengkerama dengan bayangan
Berbaur debu yang menari ria dihembus angin
Bersama setangkai bunga yang dihinggapi kupu-kupu,
Kemudian lebah madu,
Berganti burung kolibri menikmati manisnya
Kemudian berlalu
Tetiba,
Dia menunduk, merenung
Lalu tangisnya pecah

Baca Juga :   Cinta-Antologi Puisi Venand Samudin

(Surabaya,07 Desember 2020)

Baca juga Perempuan Tuanku Antologi Puisi Ingrida Astuti Lestari

Wandro J. Haman

Wandro J. Haman atau lebih akrab dipanggil Andhok/Andju adalah mahasiswa Sastra Inggris pada Universitas Wijaya Putra dan juga redaktur banera.id.


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button