cerpen

Penuh Kasih Aku Mencintaimu

Penulis : Natalia Delastry Gunas

Kringg!

Suara dering telfon genggam membangunkan Natly dari lamunan. Natly kemudian beranjak mengambil telfon genggam yang diletakkan di atas meja belajarnya.

“Hai Natly.” Demikian isi pesan yang masuk.

“Iya, hai. Mohon maaf, ini siapa ya?” Balas Natly.

“Aku Randy. Maaf sebelumnya tadi aku meminta nomor kamu dari Bella, teman sekelasmu”

“Oh iya. Gimana? Ada yang bisa aku bantu?

“Emm. Gak ada Nat. Aku cuman mau kenalan sama kamu.”

Natly tidak membalas pesan dari Randy. Membiarkannya menghiasi folder pesan pada handphonenya.

Baca Juga : SELEPAS SENJA PERGI [Puisi-puisi Filbertus Sarigosa ]

Natly anak yang cantik dan pintar. Dia selalu mendapat ranking di sekolahnya. Sehingga tidak heran kalau banyak teman laki-laki di sekolahnya ingin mendapat perhatiannya. Natly sendiri sekarang duduk di bangku kelas 3 SMA.  Ia tinggal bersama ayah, ibu dan adiknya yang tengah duduk di bangku kelas 2 SMP.

“Nat, ayo sarapan. Nanti kamu telat ke sekolah.” Terdengar suara ibunya memanggil.

“Iya ma.” Jawab Natly sambil berlari ke ruang makan. Setelah sarapan, Natly dan Rose adiknya diantar ayahnya ke sekolah. Sampai di sekolah Natly langsung menuju ke ruang kelasnya.

“Nat.” Terdengar suara laki-laki memanggilnya. Bagi Natly sendiri suara itu sangat asing di telinganya. Ia menoleh ke arah suara tersebut dan melihat seorang anak laki-laki yang tinggi dan juga tampan berjalan kearahnya.

Baca Juga : Sebab aku mencintaimu Kekasih Gereja [Puisi-Puisi Afrianna]

“Selamat pagi.” Sapanya.

“Selamat pagi juga.” Jawab Natly sambil menyuguhkan senyum manisnya.

“Aku Randy, yang semalam kontak kamu.”  Kata Randy sembari menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan tanda ingin berkenalan.

Baca Juga :   Tentang Rumah, Kamar, Bosan, dan para Masyur

“Oh iya. Aku Natly.” Jawabnya sambil menyalami tangan Randy.

Sorry, semalam aku ketiduran.”

“Iya gak apa-apa Nat.” Jawab Randy.

Randy adalah siswa pindahan di sekolah Natly. Randy juga siswa kelas 3. Ia baru 2 bulan di sekolah Natly. Sebenarnya Randy sudah lama memperhatikan Natly. Dia senang karena akhirnya bisa berkenalan dengan Natly. Semenjak saat itu, Natly dan Randy sering terlihat bersama. Mereka lebih sering menghabiskan waktu untuk belajar bersama di perpustakaan sekolah. Randy juga sering berkunjung kerumah Natly dan berkenalan dengan keluarga Natly. Hingga pada bulan September, Randy memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada Natly. Natly pun menerima Randy sebagai kekasihnya. Layaknya orang pacaran pada umumnya, mereka sering menghabiskan waktu bersama, belajar bersama dan ke gereja bersama.

Baca Juga : Bersumpah di Tengah Pandemi Covid-19

Ujian Naional semakin dekat. Semua siswa sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian. Begitu juga dengan Natly dan Randy. Hingga pada akhirnya mereka semua dinyatakan lulus dan mereka berdua mendapatkan nilai tertinggi pada Ujian Nasional saat itu. Tawa bahagia tentu saja menghiasi hari-hari mereka setelahnya. Begitu juga dengan keluarga mereka.

Setelah tamat SMA, Randy melanjutkan pendidikannya ke luar negeri, sedangkan Natly melanjutkan pendidikannya di Jakarta. Kabar ini tentu saja membuat mereka berdua sedih. Bagaimana tidak, mereka yang selama ini selalu bersama kini harus menjalani hubungan jarak jauh. Di hari keberangkatan Randy ke luar negeri, Natly menangis karena merindukan kekasihnya. Walaupun begitu mereka tetap berkomunikasi setiap waktu, baik lewat chattingan biasa maupun video call. Mereka selalu membagikan cerita seputar kesibukan mereka setiap harinya.

Baca Juga :   Aku Memilih Jalan Ini

Dua tahun pertama komunikasi masih baik.

***

“Selamat pagi sayang. Selamat beraktifitas ya. Jangan lupa berdoa dan selalu jaga kesehatan.” Demikian isi pesan Natly untuk Randy. Namun dua hari berturut-turut tidak ada balasan dari Randy. Saat itu Natly hanya berpikir bahwa Randy sedang sibuk. Seminggu setelahnya, Randy menyapa Natly lewat pesan singkat

“Hei. Kamu lagi ngapain?” Natly merasa senang akhirnya dia bisa berkomunikasi kembali dengan Randy. Perbedaan waktu juga membuat mereka sedikit kesulitan untuk berkomunikasi.

Hari-hari berikutnya sudah tak ada kabar lagi dari Randy. Kalaupun dia membalas pesan Natly, itu hanya beberapa kalimat yang begitu berbeda. Tidak seperti Randy biasanya. Natly mulai merasa sedih. Kerinduan untuk bertemu semakin dalam dirasakan.

“Apa kabar?” Randy mengirim pesan untuk Natly.

“Puji Tuhan aku baik. Kamu gimana kabarnya sayang?” Balas Natly.

“Baik. Oh iya, gimana dengan hubungan kita berdua? ” Natly merasa bingung dengan pertanyaan Randy. Bagaimana bisa setelah sekian lama tak ada kabar darinya harus mendapatkan pertanyaan seperti itu..

“Ada apa? Bukannya kita berdua baik-baik saja?” Jawab Natly.

“Maaf Nat, aku bosan. Aku sudah lama merasakan ini dan aku takut untuk membicarakan ini kepada kamu. Aku ingin mengakhiri hubungan kita. Aku tidak ingin rasa sayang kita berdua ini semakin berkepanjangan. Aku ingin fokus kuliah dulu dan tidak ingin membagi konsentrasiku dengan percintaan. Aku harap  kamu mengerti.”

Natly langsung terpaku menatap layar telfon genggamnya. Air matanya mengalir begitu saja. Rasanya begitu sakit ketika harus membaca pesan dari Randy kekasihnya itu. Bagaimana dia bisa melepaskan orang yang begitu dia cintai? Natly kemudian menangis dengan kerasnya dan tidak lagi membalas pesan dari Randy. Cinta benar-benar seperti bom waktu yang tidak tau kapan akan meledak.

Baca Juga :   Ibu yang Merintih

Natly mengirimkan pesan kepada Randy.

Dear Randy,

Terima kasih banyak sudah menyapa aku lebih dulu. Terima kasih banyak untuk rasa cinta dan sayang yang kau izinkan untuk diam di dalam hatimu untuk beberapa saat. Walaupun seperti itu aku tetap bersyukur karenanya. Aku mohon maaf karena tidak bisa memberikan yang terbaik di dalam hubungan kita selama ini. Membaca kalimatmu yang mengatakan kalau dirimu sudah sejak lama menyembuyikan rasa jenuh, membuat aku sangat malu dengan diriku sendiri. Jujur saja, ini adalah kalimat yang luar biasa menyakitkan. Aku bahkan berpikir bahwa seorang Randy tidak menyayangi aku dengan sungguh. Besarnya kepercayaanku kepada kamu membuat aku tidak mampu untuk menyimpan pikiran kotor tentang cintamu. Aku mencintai dan menyayangimu dengan sungguh dan penuh kasih dan aku melakukan semuanya dalam nama Tuhan. Terima kasih untuk semua hal baik yang sudah kamu ajarkan kepadaku. Tetap semangat dalam pelayanannya, sukses terus dan ingat selalu jaga kesehatannya dan selalu andalkan Tuhan dalam segala hal. Aku selalu mendukungmu. Kamu tau itu kan??”

Natly

Randy dan Natly kemudian memilih untuk mengambil jalan masing-masing. Sulit untuk dipercaya. Tetapi itulah yang terjadi. Semakin hari Natly semakin paham bahwa cinta itu memang tidak harus dimiliki dan memiliki. Dan sekarang ini adalah waktu bagi dia  untuk berbenah dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. ***

Penulis : Natalia Delastry Gunas

Artikel Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button