Opini

Pemikiran Mencius dan Pendidikan Karakter di Indonesia

Oleh: Peter Than

(Seorang Iman SVD dan Mahasiswa Magister Filsafat di STFD Jakarta)

Salah satu tokoh filsafat Cina klasik yang saya sukai ialah Mencius, atau Mengzi. Dalam situasi pendidikan budaya di Indonesia yang makin dihabisi oleh pemikiran sempit agama yang sangat formalistik (F. Magnis-Suseno), dan dikuasai fundamentalisme pasar, pemikiran Mencius sangat relevan untuk diketahui dan digali kembali.

Pokok-Pokok Pemikiran Mencius

Mencius (371-279 SM) dikenal sebagai salah satu pendiri Konfusianisme. Dia mempelajari ajaran Konfucius di bawah bimbingan Tzu-ssu, cucu Konfucius. Mencius tak hanya meneruskan dan melestarikan ajaran lama Konfucius, tetapi juga menyusunnya menjadi teori yang rapi serta memberikan dasar metafisis yang kuat. Ajaran Mencius sering disebut sebagai “sayap idealistik Konfusianisme” (Yu-lan, 1966, p. 68).

Dalam ajaran Konfucius, terdapat tiga gagasan pokok yaitu Ren, Yi dan Li . Ren berarti kasih tanpa batas, yi (kebenaran) adalah keharusan untuk berbuat baik dan berkorban bagi orang lain, li (ritual) yaitu perwujudan/penjelmaan dari keharusan berbuat baik dalam semua tindakan atau tingkah laku manusia.

Dari tiga gagasan ini, Konfucius sangat menekankan kasih dan sikap berkorban tanpa syarat bagi sesama sebagai sebuah keharusan dan perwujudan hakekat diri. Hal ini bertentangan dengan semangat mencari keuntungan diri. Dengan kata lain, ren dipraktikkan dengan jalan “seseorang harus memperluas atau membuka dirinya sehingga dapat merangkul orang lain”. (ibid. p. 69)

Akan tetapi, Konfucius gagal menjelaskan mengapa orang harus mempraktikkan ren? Mencius memecahkan persoalan ini dengan mengajukan teori yang disebut teori kodrat baik.

Menurut Mencius, pada masanya, ada tiga teori yang berupaya menjawab pertanyaan apakah kodrat manusia itu baik atau buruk. Teori pertama, kodrat manusia tidak baik dan juga tidak buruk. Teori kedua, kodrat manusia bisa baik dan bisa buruk, yang berarti dalam diri manusia ada unsur baik dan buruk. Teori ketiga, ada orang yang berkodrat baik dan ada yang berkodrat buruk.

Dari tiga teori ini, pandangan Mencius tentang kodrat manusia mirip dengan teori kedua, yaitu pada manusia ada banyak unsur yang baik, tapi juga ada unsur hewani, yang secara sempit bukan bagian dari kodrat manusia (ibid). Dengan demikian, Mencius tetap berpandangan, pada dasarnya, manusia itu baik, dan jika disposisi ini dipupuk dengan benar atau tidak dihalangi maka manusia bisa bertindak sesuai kodratnya itu (Loden, 2019, p.4).

Itu berarti, meskipun kodrat manusia baik, namun tidak setiap orang terlahir sebagai Konficius (orang bijak). Hal itu bergantung pada bagaimana seseorang menumbuhkan potensi itu, yang berarti peran pendidikan sangat penting.

Berpijak pada teori kodrat baik, Mencius berpandangan, “tidak ada orang yang tidak memiliki hati yang peka terhadap penderitaan”. Dia melihat compassion (bela rasa) sebagai unsur yang melekat pada setiap manusia dan menyatukan semua manusia.

Untuk mendukung teori ini, dia memberikan lukisan: “Misalkan seseorang tiba-tiba melihat seorang anak kecil akan jatuh ke dalam sumur. Siapapun dia, tanpa kecuali, akan tersengat rasa kaget dan ngeri, bukan karena ingin mendapatkan keuntungan dari orang tuanya, atau ingin mendapatkan pujian dari tetangga dan teman-temannya, juga bukan karena tidak suka akan reputasi buruk, melainkan karena pandangan ini: tanpa hati yang tidak tega, bukan manusia; tanpa rasa malu akan keburukan, bukan manusia; tanpa keinginan mendahulukan yang lain, bukan manusia; tanpa tahu membedakan yang benar dari yang salah, bukan manusia.” (Yu-lan, p.70).

Menurut Mencius, kodrat manusia memiliki empat keutamaan tetap berikut: Pertama, compassion yaitu ambil bagian dalam penderitaan orang lain. Bela rasa adalah benih kasih (ren). Kedua, rasa malu dan benci akan keburukan adalah benih keharusan (yi). Ketiga, mendahulukan orang lain adalah benih ritual (li). Keempat, kemampuan membedakan yang baik dari yang buruk adalah benih kebijaksanaan (zhi).

Baca Juga :   Lembata Menangis

Dari empat keutamaan ini, tampak dua aspek dalam pandangan Mencius tentang manusia sebagai makhluk yang secara moral baik yaitu pertama dan terutama, aspek perasaan atau emosi, dan yang kedua, akal budi. Sebagai makhluk moral, kita bergantung pada perasaan kita. Tetapi standar moral juga bersifat objektif dalam menilai apa yang benar dan salah, baik dan buruk, yang dicapai melalui pertimbangan akal budi. Karena itu, Mencius menekankan belajar atau pendidikan agar mencapai pemahaman yang diperlukan.

Teori kodrat manusia mempengaruhi filsafat politik Mencius. Seperti Aristoteles, Mencius berpandangan, “manusia adalah makhluk politis”. Bagi Mencius, negara adalah institusi moral dan seorang pemimpin haruslah seorang yang bermoral. Jika seorang pemimpin tak bermoral, rakyat harus melawan.

Mencius membedakan dua jenis pemerintahan yaitu pemerintahan pa dan wang. Pemerintahan pa adalah pemerintahan militer yang memakai kekuatan fisik dan kekerasan. Sedangkan pemerintahan wang adalah pemerintahan atas dasar nilai-nilai moral. Nilai-nilai moral yang dimaksud adalah empat keutamaan tadi.

Mencius mengambil contoh tentang raja Hsi’an dari Chi’i yang tidak tega melihat seekor lembu digiring ke tempat pembantaian, dan karena itu memerintahkan supaya lembu itu diganti dengan domba. Mencius mengatakan, sang raja dapat memerintah dengan bijak seandainya sikapnya terhadap lembu adalah juga sikapnya terhadap rakyatnya.

Raja yang bijak adalah raja yang mengutamakan kemakmuran rakyatnya dan memiliki perasaan simpati kepada mereka. Untuk menjadi raja yang bijak dengan empat keutamaan di atas, pendidikan diperlukan. Menurut Mencius, “hanya bila setiap orang menerima pendidikan, dan mencapai pemahaman tentang hubungan manusia, jalan seorang raja sudah sempurna” (Yu-lan, p.73-76).

Dari mana asal hati yang tak tega yang mengandung empat keutamaan tersebut? Mencius menjawab, dari Langit. Mencius menyebut hubungan kodrat manusia dan Langit sebagai “prinsip jagad”. Isi prinsip jagad ini ialah “alam semesta pada dasarnya adalah moral universe, dan moral universe ini tampak dalam prinsip moral, dan kodrat manusia adalah contoh dari prinsip-prinsip ini”. Maka, “Surga/Langit” (Heaven) bukan seperti yang dipahami dalam doktrin teologis agama-agama monoteistik, melainkan “alam semesta moral”.

Bukan klaim kebenaran doktrin agama yang disasar di sini melainkan prinsip-prinsip moral yang melekat dalam hakekat setiap manusia, apapun agamanya. Kemanusiaan, kebenaran, kesetiaan, itikad baik, praktek kebaikan adalah kehormatan Langit. Manusia ideal adalah mereka yang hidup menurut nilai-nilai Langit. Sedangkan pangeran, menteri dan pejabat, singkatnya kekuasaan adalah hal-hal material yang dihormati manusia.

Dimensi mistik pemikiran Mencius terletak pada pandangannya bahwa manusia tidak hanya terbatas pada dunia materi tetapi melampauinya, yaitu terarah kepada nilai-nilai Langit. Nilai-nilai Langit ini memampukan seseorang mengubah dan memberi pengaruh rohani di manapun dia berada.

Dengan mempraktekkan nilai-nilai langit tersebut, egoisme manusia berkurang secara bertahap, dan seseorang sampai pada kesadaran bahwa tidak ada perbedaan antara dirinya dan orang lain, individu dan alam semesta. Seseorang menjadi sama dengan alam semesta secara keseluruhan, sehingga dapat dikatakan bahwa “segala sesuatu lengkap di dalam diri kita”. Dengan demikian, seseorang menjadi pribadi kosmopolitan yaitu bersikap terbuka terhadap semua orang, menerobos segala sekat, dan memandang seluruh isi semesta sebagai bagian dari dirinya.

Baca Juga :   Transformasi PMKRI: Membentuk Kader Intelektual Populis

Hal ini disebut “great morale” (Hao ran zhi qi), suatu daya moral yang besar, yang mengidentifikasikan manusia dengan alam semesta dan meliputi semua di antara Langit dan Bumi. Great morale ini memiliki dua aspek: pertama, pemahaman akan Tao (jalan) yaitu prinsip menuju peningkatan pikiran; kedua, akumulasi kebenaran yaitu melakukan tanpa kenal lelah apa yang harus dilakukan sebagai “warga alam semesta” (Yu-lan, 78-79).

Dengan demikian, semua manusia di alam semesta saling terkait dan setara. Prinsip ini mendukung ideal persaudaraan humaniter, egalitarianisme dan kemanusiaan universal.

Mencius dan Pendidikan Karakter di Indonesia

Mencius sangat menekankan manfaat pendidikan: “Sekalipun manusia telah memuaskan rasa lapar mereka, memiliki pakaian untuk dipakai, dan hidup dengan nyaman, tetapi jika tidak memiliki pengajaran yang baik, mereka dekat dengan burung dan binatang.” (Yu-lan, p. 73).

Melampaui tujuan material, pendidikan terutama berorientasi untuk menumbuhkan nilai-nilai yang baik dalam diri para peserta didik. Empat pilar hati yang tidak tega (ambil bagian dalam penderitaan orang lain, rasa malu akan keburukan, ingin mendahulukan yang lain, dan membedakan yang baik dari yang buruk) menunjukkan, Mencius menekankan sebuah model pendidikan yang integral atau mencakup semua aspek yang membentuk kepribadian dan karakter manusia.

Pendidikan karakter menjadi perhatian utama selama rezim Jokowi. Pendidikan karakter adalah suatu model pendidikan yang memperhatikan proses perkembangan siswa dalam hal pengetahuan (moral knowing), perasaan (moral feeling) dan tindakan (moral action). Tujuan pendidikan karakter ialah membentuk karakter siswa agar menjadi manusia berperilaku baik, berhati baik dan berpikiran baik (Sudrajat, 2011, p.48).

Namun, jika digali lebih jauh, pendidikan karakter di Indonesia sedang dirusakkan oleh formalisme agama dan aturan yang distandardisasi. Pendidikan karakter dipandang identik dengan ajaran agama, sehingga harus ditaati para peserta didik tanpa refleksi kritis (Mahur, et al, 2019, p.876). Alhasil, para siswa sejak dini telah bersikap fundamentalistik, intoleran, berpikiran picik dan fanatik. Dengan masuknya radikalisme ke lembaga-lembaga pendidikan saat ini, sikap fanatik dan intoleran semakin kuat.

Selain itu, orientasi pendidikan kepada pasar menanamkan budaya egois dan kompetisi tak sehat dalam diri para peserta didik. Hal ini menghancurkan pembentukan sikap sosial, humanitarian, solidaritas dan compassion terhadap kemanusiaan.

Dalam konteks ini, sekurang-kurangnya ada tiga sumbangan pemikiran Mencius bagi perbaikan pendidikan karakter di Indonesia.

Pertama, kepekaan terhadap masalah-masalah kemanusiaan. Mencius sangat menekankan “hati yang peduli terhadap penderitaan orang lain”. Hati yang peduli adalah kodrat setiap manusia, namun memerlukan latihan dan pendidikan agar menjadi solidaritas nyata terhadap penderitaan.

Berdasarkan pandangan ini, pendidikan karakter mesti mengarahkan para peserta didik kepada pembentukan compassion. Compassion bukan sekadar perasaan iba, tapi kemampuan terlibat di sisi korban, sebuah gerakan aktif terhadap penderitaan orang lain (Kleden, 2013, p. 85). Dalam kepedulian terhadap penderitaan orang lain inilah, semua manusia, apapun doktrin teologisnya, bersatu dan memiliki perasaan yang sama.

Dengan pembentukan “hati yang tidak tega terhadap penderitaan orang lain”, peserta didik memiliki solidaritas sosial dan kepekaan terhadap kemanusiaan universal, mendorong mereka keluar dari sikap-sikap intoleran dan fanatik, serta menanggalkan egoisme, kompetisi tak sehat, self-interest dan kepongahan diri.

Kedua, pembentukan diri menjadi warga negara yang baik dan pemimpin yang bijak. Filsafat politik Mencius menekankan relasi antarmanusia. Dia menegaskan, “ayah dan anak harus saling mencintai, penguasa dan rakyat harus bersikap adil satu sama lain, suami dan istri harus membedakan perannya masing-masing, kakak dan adik harus saling mendahulukan, dan di antara teman harus terdapat itikad yang baik” (Yu-lan, p.73).

Baca Juga :   Hanya Karena Cemburu, Orang Bisa Saling Belah

Mencius juga mengajarkan ciri-ciri pemimpin bijak. Pemimpin yang bijak memimpin bukan dengan kekerasan atau paksaan melainkan dengan kualitas moral. Masyarakat menghormatinya bukan karena dipaksa melainkan karena pengakuan akan kebajikan hatinya (Yu-lan, p.74).

Pandangan ini mengajarkan para peserta didik tentang sikap demokratis dalam hidup bersama. Nilai-nilai demokratis seperti menghargai sesama, mendahulukan orang lain, menjunjung tinggi kesetaraan dan mengembangkan pluralisme sangat penting diajarkan dan dipraktekkan dalam proses pendidikan.

Selain itu, gagasannya tentang pemimpin yang bijak mengajarkan para peserta didik tentang pentingnya kualitas moral sebagai sumber pengakuan dalam hidup bersama serta ajakan untuk menghindari pemakaian kekerasan atau paksaan. Hal ini juga mengajarkan bahwa dalam pendidikan karakter, para pendidik mesti mengembangkan sikap demokratis dan menghargai kebebasan, serta menghindari sikap-sikap otoritarian dan kekerasan terhadap peserta didik (Switchgebel, 2007, p. 154).

Ketiga, perluasan sikap moral dan pembentukan karakter kosmopolitan. Dalam ajaran Mencius tentang Langit, tidak ada sekat antara manusia dan alam semesta karena alam semesta adalah bagian diri manusia. Demikianpun alam semesta moral menyatu dengan prinsip-prinsip moral yang menyusun kodrat manusia, sehingga “segala sesuatu lengkap dalam diri kita”.

Dengan basis ajaran mistik ini, Mencius berbicara tentang “perluasan sikap moral”. Dalam diskusi dengan Yi Chih, seorang Mohis, Mencius berbicara tentang “tindakan memperluas cinta dari keluarga hingga masyarakat lebih luas” atau disebut “extending one’s scope of activity to include others”. (Yu-lan, p.72). Seorang yang berhati mulia (Junzi) adalah dia yang mampu memperluas perasaan moral dari apa yang dicintai kepada apa yang belum dicintai, dari orang terdekat hingga semua orang di Empat Lautan” (Tan, 2018, p.3).

Pandangan Mencius ini sangat penting dalam membangun model pendidikan kosmopolitan di mana kurikulum, pedagogi, sumber daya dan ruang kelas diatur sedemikian rupa untuk menumbuhkan sikap bijaksana, empati dan kewajiban moral baik terhadap yang dekat maupun yang jauh. Hasil dari pendidikan kosmopolitan ini ialah kemampuan para peserta didik berpikir bagaimana rasanya berada di posisi orang lain yang berbeda dari dirinya, berpikir dari sudut pandang orang lain, serta memahami apa yang dialami orang lain.

Jadi, pemikiran Mencius dapat menjadi antibodi yang sangat diperlukan untuk melawan virus fanatisme, intoleransi dan radikalisme yang sedang menyebar ke lembaga-lembaga pendidikan saat ini. Pemikiran Mencius juga melawan budaya korup, feodal, menjilat dan tunduk pada kekuasaan yang sering terjadi justru di dalam lembaga pendidikan (sekolah atau kampus). Dalam hal ini, ajaran Mencius memperkuat pembentukan rasa kemanusiaan, wawasan humanitarian, egalitarianisme dan sikap kosmopolitan dalam pendidikan karakter di Indonesia.

Sumber Bacaan:
Kleden, Paul Budi. “Pandangan Johann Baptist Metz tentang Politik Berbasis Compassio,” dalam Jurnal Diskursus, 12:1, April 2013.
Loden, Torbjorn. “Reason, Feeling and Ethics in Mencius and Xunzi,” dalam Journal of Chinese Philosophy, 36:4, 2019.
Mahur et al. “Paulo Freire:Critical,Humanist and Liberating Education,” dalam International Journal for Educational Studies, Vol.1:8, December 2019.
Sudrajat, Ajat. “Mengapa Pendidikan Karakter?” dalam Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun 1, No. 1, Oktober 2011.
Switchgebel, E. “Human Nature and Moral Education in Mencius, Xunzi, Hobbes and Rousseau”, dalam History of Philosophy Quarterly, Vol 24, No. 2, 2007.
Tan, Charlene .“Mencius’s Extension of Moral Feelings,” dalam Ethics and Education, Oktober 2018.
Yu-lan, Fung. A Short History of Chinese Philosophy. New York: The Free Press, 1966.

Artikel Terkait

Komentar

  1. Hey, this is Eric and I ran across banera.id a few minutes ago.

    Looks great… but now what?

    By that I mean, when someone like me finds your website – either through Search or just bouncing around – what happens next? Do you get a lot of leads from your site, or at least enough to make you happy?

    Honestly, most business websites fall a bit short when it comes to generating paying customers. Studies show that 70% of a site’s visitors disappear and are gone forever after just a moment.

    Here’s an idea…

    How about making it really EASY for every visitor who shows up to get a personal phone call you as soon as they hit your site…

    You can –

    Talk With Web Visitor is a software widget that’s works on your site, ready to capture any visitor’s Name, Email address and Phone Number. It signals you the moment they let you know they’re interested – so that you can talk to that lead while they’re literally looking over your site.

    CLICK HERE https://talkwithwebvisitors.com to try out a Live Demo with Talk With Web Visitor now to see exactly how it works.

    You’ll be amazed – the difference between contacting someone within 5 minutes versus a half-hour or more later could increase your results 100-fold.

    It gets even better… once you’ve captured their phone number, with our new SMS Text With Lead feature, you can automatically start a text (SMS) conversation.

    That way, even if you don’t close a deal right away, you can follow up with text messages for new offers, content links, even just “how you doing?” notes to build a relationship.

    Pretty sweet – AND effective.

    CLICK HERE https://talkwithwebvisitors.com to discover what Talk With Web Visitor can do for your business.

    You could be converting up to 100X more leads today!

    Eric
    PS: Talk With Web Visitor offers a FREE 14 days trial – and it even includes International Long Distance Calling.
    You have customers waiting to talk with you right now… don’t keep them waiting.
    CLICK HERE https://talkwithwebvisitors.com to try Talk With Web Visitor now.

    If you’d like to unsubscribe click here http://talkwithwebvisitors.com/unsubscribe.aspx?d=banera.id

  2. My name’s Eric and I just found your site banera.id.

    It’s got a lot going for it, but here’s an idea to make it even MORE effective.

    Talk With Web Visitor – CLICK HERE https://talkwithwebvisitors.com for a live demo now.

    Talk With Web Visitor is a software widget that’s works on your site, ready to capture any visitor’s Name, Email address and Phone Number. It signals you the moment they let you know they’re interested – so that you can talk to that lead while they’re literally looking over your site.

    And once you’ve captured their phone number, with our new SMS Text With Lead feature, you can automatically start a text (SMS) conversation… and if they don’t take you up on your offer then, you can follow up with text messages for new offers, content links, even just “how you doing?” notes to build a relationship.

    CLICK HERE https://talkwithwebvisitors.com to discover what Talk With Web Visitor can do for your business.

    The difference between contacting someone within 5 minutes versus a half-hour means you could be converting up to 100X more leads today!

    Eric
    PS: Studies show that 70% of a site’s visitors disappear and are gone forever after just a moment. Don’t keep losing them.
    Talk With Web Visitor offers a FREE 14 days trial – and it even includes International Long Distance Calling.
    You have customers waiting to talk with you right now… don’t keep them waiting.
    CLICK HERE https://talkwithwebvisitors.com to try Talk With Web Visitor now.

    If you’d like to unsubscribe click here http://talkwithwebvisitors.com/unsubscribe.aspx?d=banera.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button