cerpen

Peluru Cinta yang Mati

Dor! Dor!

Suara tembakan menggelegar. Dua peluru menyasar tepat di dada seorang lelaki bertopeng yang membuatnya tumbang, terkapar, tak berdaya.

Nami, si penembak, seketika tercenung menyaksikan akibat dari tindakannya. Ia lantas menangis tersedu-sedu, sembari menunggu seorang lelaki yang berjanji akan segera datang menemuinya.

Dan benar saja. Berselang sejenak, Baren, lelaki yang dimaksud, akhirnya datang. Dengan sikap tenang, ia lalu menghampiri Nami yang terduduk dan tertunduk lemas di gerbang pintu kamarnya.

“Kau hebat,” puji Baren kemudian, sesaat setelah berada di samping Nami. “Kau telah berhasil melakukannya.”

Seketika, Nami diserang kekalutan. Tangisannya makin menjadi-jadi.

Baren lantas berupaya menenangkannya. “Tenanglah,” tuturnya, dengan nada lembut. Lalu dengan gerak ragu-ragu dan kaku, ia pun mengenggam tangan istri mendiang sahabatnya itu. “Kau telah melakukan tindakan yang benar.”

Baca Juga :   Perpisahan Itu Menyesakkan, Bukan?

Tanpa sungkan, Nami pun membalas genggaman Baren, seolah-olah perpaduan jari-jari mereka mampu menguatkan hatinya. “Terima kasih,” balasnya, sembari mengusap air mata yang membasahi wajahnya.

Baren lalu mengangguk dengan senyuman simpul yang singkat.

Akhirnya, mereka terdiam saja dengan tangan yang masih terus bergenggaman. Mereka tampak sama-sama merenung atas satu kematian di depan mata mereka. Sebuah pembunuhan berselubung rahasia di antara mereka berdua. Sebuah pembunuhan berencana terhadap Amri, seorang lelaki yang mereka kenal secara baik.

Baca Juga :   Malam Tak Berembulan dan Suara Seram Menakutkan

Ceritanya panjang dan rumit, hingga mereka sampai pada kenyataan di saat ini:

Baren, Amri, dan Rozi, suami Nami, adalah tiga orang sahabat baik sejak pendidikan kemiliteran. Sekitar lima bulan sebelumnya, di tanah pertempuran, mereka pun kembali bersama dalam satu regu untuk memberantas para pemberontak separatis. Sampai akhirnya, di tangah kontak senjata dan formasi serangan yang kacau, tiba-tiba saja, dua buah peluru mendarat di dada Rozi, hingga ia meninggal seketika.

Tanpa keraguan, dengan begitu saja, semua anggota regu meyakini bahwa penembak Rozi adalah anggota dari kelompok pemberontak. Mereka tak sampai menduga, atau setidaknya mencurigai bahwa Baren adalah orang yang melepaskan peluru kematian bagi Rozi. Mereka tak sampai berpikir bahwa seorang prajurit tega membunuh prajurit yang lain di tengah pertempuran. Apalagi, setahu mereka, Baren dan Rozi bersahabat baik.

Baca Juga :   Sisilia dan Sepi

Tetapi bagi Baren, ada alasan kuat untuk membunuh Rozi. Sebuah alasan yang tumbuh dari kesakitan hatinya yang mendalam. Pasalnya, ia menilai bahwa Rozi telah merebut Nami darinya. Alasannya, ia merasa lebih dahulu mengidamkan Nami ketimbang Rozi, bahkan ia pula yang mengenalkan Nami kepada Rozi. Tetapi tanpa aba-aba, Rozi malah mendahuluinya meminang Nami, padahal ia telah menetapkan rencana besar untuk menikahi Nami selepas pendidikan militer.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button