Puisi

Patah Hati Pertama Antologi Puisi Ningsih Ye

Aku ingin jadi salah satu orang paling
Bersyukur karena pernah
Menerimamu hadir singgah,
Meski tidak sungguh.

Ningsih Ye

Patah Hati Pertama

Cinta memang bukan alasan untuk
Menuntut timbal balik

Balasan tidak akan bisa
Dipaksakan betapa pun caranya

Sayang, aku tidak mau menyesal
Karena hari ini beranjak melangkah beberapa
Meter lebih jauh dari tempatmu berdiri

Semua orang bisa memutarbalikkan pikirannya
Termasuk pula dengan diriku

Aku terlampau lelah dengan seonggok retakan
Yang kian lama kian bertambah

Datangmu hanya menghancurkan,
Sementara sanggupku hanya berlagak
Sok pahlawan
Dengan cara tetap berjuang
Mempertahankan

(Ningsih Ye, Januari 2021)

Baca Juga : Bukan Aku Yang Dikubur, Tapi Harapku
Baca Juga : Pemakaman Antologi Puisi Maxi L Sawung

Patah Hati Kedua

Baca Juga :   Kita dan Kuasanya-Nya Antologi Puisi Verr Lado

Aku merasa tidak perlu mencari
Seseorang yang lebih baik; yang lebih
Tampan; yang lebih pintar
Yang lebih dalam segalanya dibanding kamu

Aku akan tetap diam,
Tetap menyaksikan kamu bahagia,
Tetap menikmati pemandangan yang
Tersorot oleh mataku,
Tetap bersyukur kepada Tuhan yang masih
Memberiku izin untuk tetap melihat kamu
Baik-baik saja di bumi

(Ningsih Ye, Januari 2021)

Baca Juga : Penjajahan Modern 2020-2021
Baca Juga : Ruteng, Kota Patah Hati Antologi Puisi Konstantina Delima

Patah Hati Ketiga

Memangnya kamu lupa, bahwa kamu
Pernah menggenggam kelima jariku
Dengan begitu hangat
Tidak begitu erat, sebab tak ingin

Baca Juga :   Kumpulan Puisi Hams Hama

Membuatku sakit
Tapi tidak juga mudah lepas karena
Kamu memang kelihatan tidak mau
Melepasku jauh

Memangnya kamu lupa, bahwa kamu
Pernah memandang ke dalam mataku
Dengan begitu lekat
Tidak berkedip, seolah-olah tidak ingin
Aku hilang ketika ditinggal berkedip,
Tapi tidak juga diam kaku seolah-olah

Tanpa ada rasa
Memangnya kamu lupa, bahwa
Manisnya sikapmu adalah alasan kenapa
Senyumku bisa melebar selebar-lebarnya
Kamu tidak pernah berhenti bersikap manis
Kecuali hari itu,
Di mana kita akhirnya membulatkan
Keputusan, kemudian segalanya lenyap

Kamu, aku, kita memutuskan untuk
Berhenti
Tidak akan ada lagi genggam tangan
Hangatmu

Tidak akan ada lagi mata menyorot
Lekat padaku
Tidak akan ada lagi sikap manismu
Namun yang jauh lebih menyesakkan
Daripada itu semua adalah: Tidak ada

Baca Juga :   Perempuan Patah Hati Dengan Kenangan Yang Masih Enggan Antologi Puisi Ningsih Ye

Lagi kamu

Kamu hilang

Semesta memisahkan kamu dan aku

Semesta bercanda tanpa
Mengundang tawa

Semesta,
Ikut bersikap jahat

Namun satu hal yang pasti,
Aku ingin jadi salah satu orang paling
Bersyukur karena pernah
Menerimamu hadir singgah,
Meski tidak sungguh

(Ningsih Ye, Februari 2021)

Baca Juga : Kamu, Hujan, Kopi Dan Sepiring Jagung Rebus
Baca Juga : Rindu yang Sempat Riuh

Ningsih Ye

Ningsih Ye merupakan nama pena dari penulis, ia adalah seorang mahasiswi semester VI diĀ  STFK Ledalero-Maumere. Ia menyukai senja, kopi dan kamu, iya kamu.


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button