Opini

Para Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Smpk Frateran Ndao Mengikuti Rekoleksi Persiapan Natal 25 Desember 2020 Di Kapela Frateran Bhk Ndao Ende

Dipublikasikan oleh: Fr. M. yohanes Berchmans, Bhk, M. Pd

 Ka SMPK FRATERAN NDAO

Pengantar

“IBU adalah sekolah . IBU adalah lembaga pendidikkan pertama. IBU lah yang membekali anak sikap, watak, kepribadian, akhlak, iman, dan pemahaman bahwa dunia ini berkerikil, dan kerikilnya dapat sering membuat si anak terjatuh. IBU yang baik akan mempersiapkan  anaknya menghadapi kerikil-kerikil itu, agar ketajamannya tak membuat cedera hidup di dunia, apalagi cedera diakhirat kelak”…Hasyim El-Hanan.

Bertepatan dengan hari ibu 22 Desember 2020, para pendidik dan tenaga kependidikan SMPK Frateran Ndao Ende, melaksanakan kegiatan rekoleksi dengan tema: “Berguru pada Ibu Maria”, dengan narasumber, RP. Charles, SVD. Pater Charles menarik benang merah tema rekoleksi dengan hari Ibu, sebagai jalan masuk ke dalam konteks pendidikan pada satuan pendidikan SMPK Frateran Ndao.

Baca juga : Kita dalam Gelap dan Terang Antologi Puisi Defri Noksi Sae

Kita mengkhususkan penghormatan kepada Ibu pada hari ini, barangkali dengan alasan yang kurang lebih sama. Ibu dengan peran keibuannya amat penting dalam kehidupn ini. Ibu, sebutan ini, selalu disematkan kepada para perempuan yang terutama mengambil peran merahimi benih kehidupan baru dan melahirkan manusia baru. Hal merahimi benih kehidupan baru dan melahirkan manusia baru secara biologis, tentu tak tergantikan, bahkan mungkin oleh lelaki dengan operasi kelamin sekalipun.

Oleh karena itu, sebutan “ibu” hanya dialamatkan kepada perempuan, kaum yang punya rahim yang merahimi kehidupan baru, kaum yang menyusui demi pertumbuhan kehidupan baru. Namun, dengan makna yang lebih luas, hal merahimi dan melahirkan kehidupan baru juga menjadi peran dari mereka, atau menjadi bagian dari hal yang berurusan dengan benih hidup baru, yang berurusan dengan pertumbuhan kehidupan.

Baca juga : Kandang Natal Antologi Puisi Maxi L. Sawung

Baca Juga :   Rimbun Kepala Antologi Puisi Maxi L Sawung

Dan dalam arti yang lebih luas lagi, bahwa para guru, entah itu bapak guru atau ibu guru, harus memiliki peran layaknya sebagai ibu bagi peserta didik. Apalagi kalau dikaitkan dengan istilah latin Non Scholae Ssed Vitae Discimus; belajar bukan untuk sekolah, melainkan untuk hidup. Demikianlah peran guru, sebagai ibu, yakni membelajarkan peserta didik untuk hidup. Dan dalam konteks satuan pendidikan SMPK Frateran Ndao, maka lulusan SPATER Ndao menyebutnya almamater, yang diambil dari kata latin Alere: mengasuh anak dan Mater berarti Ibu.

Maka almamater berarti “ibu yang mengasuh.” Ibu tentunya bukan disematkan pada gedung atau bangunan fisik semata. Melainkan kepada para guru yang adalah ibu, entah itu bapak guru atau ibu guru yang menumbuhkan benih pengetahuan kepada peserta didik. Oleh karena itu pula, mereka yang diasuh disebut alumni. Maka, bukan suatu kebetulan, jika hari ini tanggal 22 Desember 2020, para guru dan karyawan  melaksanakan rekoleksi bertepatan dengan peringatan hari ibu, sebagai kesempatan untuk merefleksikan peran keibuan para guru dan karyawan di lembaga pendidikan SMPK Frateran Ndao. Menjalankan peran sebagai ibu, atau lebih tepat dalam konteks saat ini, adalah bagaimana membuat lembaga pendidikan SMPK Frateran Ndao, sungguh menjadi ibu, dan tentu bukan perkara mudah.

Baca juga : Tak Bisa Membohongi Rasa

Pertama: Kalau “Rahim” dimaknaisebagai tempat manusia baru dibentuk, tempat benih kehidupan baru ditumbuhkan, maka hal merahimi, hal membentuk manusia, hal mendidik manusia harus dilandasi “kesadaran”  tentang betapa luhurnya manusia, harus diterangi visi kemanusiaan itu sendiri. Maka tugas seorang ibu, tugas lembaga pendidikkan SMPK Frateran Ndao, dalam hal ini adalah membuat orang muda, kuncup harapan Mardi Wiyata, menjadi lebih manusiawi, membuat yang biadap menjadi beradab, civilized, membuat yang kurang menjadi lebih, membuat yang gelap menjadi terang.

Baca Juga :   Selamat Natal, Alam Sebelah Antologi Puisi Maxi L. Sawung

Itulah sebabnya pendidikkan selalu disebut juga dengan term yang lain, edukasi, Ex Ducere: membawa atau mengantar orang keluar dari kegelapan, ketidaktahuan kepada terang pengetahuan. Hal ini juga melekat pada makna kata guru, yang berasal dari bahasa sansekerta yang secara etimologis berasal dari dua suku kata, yaitu “Gu” artinya darkness (kegelapan), dan “Ruartinya light (terang, sinar, cahaya). Maka, dalam arti inilah tugas guru, merupakan sebuah panggilan dari Allah guna membebaskan manusia muda dari kebodohan, kemuraman (gelap, awidya) menjadi pandai, berpengetahuan, keceriaan (terang, widya) melalui proses pendidikkan dan pengajaran.

Baca juga : Mencari Tuhan Dalam Wajah Sesama

Kedua: Kalau hal melahirkan manusia baru, selalu dengan resiko sakit bersalin, maka tidak bisa tidak, hal itu juga menuntut korban, tanggung jawab, dalam situasi yang paling sulit sekalipun. Membuat yang tidak tahu menjadi tahu atau membuat yang bisa mengungkapkan yang diketahui dan ini tentu bukan hal yang mudah bagi seorang guru. Mengingat dalam dunia pendidikkan, pada umumnya dikenal dua pendekatan, yakni pendekatan fungsional (functional approach) dan pendekatan personal (personal approach).

Pendekatan fungsional: Seorang guru berperan mengajar peserta didik dan selesai. Akhir bulan terima gaji. Dan ini banyak ditemukan di mana-mana, barangkali juga di SMPK Frateran Ndao. Sedangkan pendekatan personal: seorang guru berperan mengajar peserta didik, tetapi juga mendidik. Dan tidak hanya itu, melainkan dia tahu kemampuan setiap peserta didik, dia tahu kesulitannya dan dia tahu metode belajar untuk tiap peserta didik, malah dia tahu bagaimana kemampuan peserta didik dibidani, dilahirkan. Pendekatan personal amat jarang dijumpai, apalagi pendididikan yang berciri massal.

Baca Juga :   Dampak Pertambangan Terhadap Lingkungan di Manggarai Timur

Baca juga : Aku Mencintainya dalam Diam

Dengan prinsip “yang penting saya mengajar.”  Anak bisa menjadi “anonym,” tanpa nama, tidak eksis karena tenggelam dalam yang massal. Bisa dibandingkan dengan ibu yang beranak banyak, dan tidak mengatur jarak kelahiran anak, dia tentu akan mengalami kesulitan mengenal kemampuan anak. Ketika misalnya seorang anak bermasalah, reaksi yang paling banyak muncul adalah marah-marah. Marah pada pimpinan, pada ketua yayasan, marah pada rekan. Tentang pendekatan personal ini, baiklah belajar pada Maria ibu Yesus, yang tidak luput dari masalah.

Baca juga : Senja di Oesapa Berserta Kenangannya

Dalam pencarian mereka terhadap kanak-kanak Yesus, Maria dengan diam diam mencari, dan mendekati kanak-kanak Yesus secara pribadi. Ketika tuan pesta pernikahan di Kana mengalami masalah kehabisan anggur, Maria diam-diam mendekati Yesus dan menyampaikan masalah itu secara pribadi, tanpa tuan pesta dan tamu undangan tahu. Anggur terbaik dibuatkan. Oleh karena itu, Maria adalah ibu, tidak hanya untuk melahirkan dan menamai anaknya Yesus, sesuai pesan Tuhan melalui Malaikat Gabriel.

Dia juga meniti jalan panjang Yesus, hingga di kaki salib. Maria turut menderita, berkorban menahan hati yang perih, oleh karena perlakuan para serdadu Yahudi terhadap puteranya. Dia menunjukkan tanggungjawabnya sebagai ibu, dan paskahan buah dari korban itu, dilalui dengan sakit ibu bersalin. Maria bersalin dengan sakit demi kemuliaan paskah untuk banyak orang.  Maka, mari para pendidik dan tenaga kependidikan satuan pendidikan SMPK Frateran Ndao, Ende, untuk belajjar dari Maria yang menjadi guru terbaik bagi Yesus puteranya yang adalah Sang Guru sejati. Dia adalah jalan, kebenaran dan hidup.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button