Opini

Neraka adalah Yang Lain

Penulis: Hiro Edison
(Mahasiswa STFT Widya Sasana-Malang)

Tulisan ini hendak merefleksikan relasi antarmanusia di masa pandemi corona virus disease 19 (Covid 19). Permenungan ini lahir dari banyaknya perubahan yang ada dalam masyarakat akibat pandemi Covid 19. Salah satu yang sangat kental dalam perubahan itu ialah pola relasi antara manusia. Cara berpikir Sartre (1905-1980) akan menjadi pisau bedah dalam tulisan ini.

Yang Lain dalam Sartre

Dalam kaitannya dengan relasi antarmanusia, ungkapan yang terkenal dari Sartre adalah, “Neraka adalah orang lain” dan “Dosa asal saya adalah adanya orang lain” (Bertens, 1983: 111). Membaca dan mendengar ungkapan ini bagi sebagian orang mungkin akan terkejut dan kaget. Bagaimana mungkin kehadiran orang lain dianggap sebagai neraka? Bukankah itu merupakan bentuk penyangkalan radikal terhadap Yang Lain?

Deklarasi radikal Sarterian di atas harus dipahami dalam konteks pemikiran Sartre sendiri. Ia adalah salah seorang filosof yang menekankan kebebasan absolut manusia. Ia bahkan mengatakan bahwa manusia adalah kebebasan itu sendiri. Sartre mengatakan “I am condemned to exist always beyond my essence, beyond the affective and rational motives of my act: I am condemned to be free” (Peter Poellner, 2015).

Baca Juga :   POLITIK DAN GEREJA TERLIBAT

Absolutisme kebebasan Sartreian dengan sendirinya berdampak pada cara berelasi antarmanusia. Konflik tidak dapat dihindarkan oleh karena setiap orang mengusung kemutlakan kebebasannya masing-masing. Bagi dan demi kebebasan maka setiap penghalang perwujudan kebebasan harus disingkirkan, termasuk sesama manusia yang lain. Sartre menulis, “There is no way out: the essence of the relation between consciousnesses is not togetherness, it is conflict” (Blackham, 1978: 126). Sebab, usaha untuk memertahankan subyektivitas mengandung konsekuensi untuk menyingkirkan yang lain.

Relasionalitas antarmanusia dalam Sartre ada dalam domian subyek-objek. Objektivasi itu lahir dari kesadaran bahwa demi mewujudnyatakan kebebasan maka yang lain harus ada dan ditaklukan dalam tujuan yang saya raih. Yang lain tidak dicintai tetapi digunakan sejauh membantu untuk mencapai tujuan.

Bagi Sartre, sarana penting yang menyebabkan skema relasi subyek-obyek itu ialah mata. “Dari matanya, orang lain menonton saya, mengobservasi saya, dan dengan demikian mengobyektivasikan saya” (Bertens, 1983: 11). Saya menjadi obyek dari yang lain. Mata orang lain senantiasa memandang kepada saya. Pandangan mata mereka itulah yang memenjarai saya sehingga kebebasan saya sungguh-sungguh dikungkung. Dengan demikian, deklarasi “Neraka adalah orang lain” dan “Dosa asal saya adalah adanya orang lain” lahir dari instrumen relasi itu sendiri, yakni mata.

Baca Juga :   Menyoal Nasib Guru Kontrak di TTU

Yang Lain dalam Masa Pandemi Covid 19

Relasi antarsesama manusia dalam masa pandemi Covid 19 ini tidak lari jauh dari gaya berpikir Sartre di atas. Yang lain adalah neraka bagi saya. Larangan berjabat tangan, bercium pipi, pembatasan fisik dan sosial, dan seterusnya, mengungkapkan keterpenuhan cara berpikir Sartreian di atas. Semua orang saling mencurigai satu sama lain sehingga ruang untuk bersentuhan menjadi tidak ada sama sekali.

Relasionalitas manusia kini ada dalam semboyan ‘isolasi’, ‘kerja dari rumah’, ‘sekolah dan kuliah daring’, dan sejenisnya. Kerumuman manusia harus dihindari. Tawa bersama, bermain ria dalam kelompok, bercerita dalam kebersamaan, serta kegiatan massal lainnya yang menjadi ungkapan sosialitas manusia tidak ada lagi. Artinya, yang lain tidak lagi dipandang dan diterima sebagai sesama yang patut dan layak untuk dirindukan. Sebaliknya, yang lain dipandang dan dilihat sebagai neraka yang berpotensi sebagai penular covid 19.

Dalam masa pandemi Covid 19, mata setiap orang saling menonton dan mengobservasi satu sama lain. Yang lain dipenjara dalam praduga-praduga yang sangat radikal yakni pembawa virus corona. Yang satu berada di bawah kungkungan yang lain. Akibatnya ialah, tindakan welas asih dan solider antarsesama manusia seakan berhenti di masa pandemi global ini. Harus diakui bahwa segala bentuk solidaritas dan tindakan kasih yang ada saat ini harus dan wajib melewati aneka protokol yang tidak sedikit. Yang berkewajiban untuk berurusan dengan yang lain hanyalah orang-orang yang berprofesi khusus. Yang mau dikatakan ialah, untuk berbuat kasih dan bertindak solider orang harus melewati segala macam bentuk pengawasan dan tidak boleh lahir dari gerakan spontan semata.

Baca Juga :   Perempuan, Iklan Media dan Jebakan Kapitalisme (Memaknai Hari Perempuan Sedunia)

Relasi kasih antarasesama manusia di masa pandemi ini diredusir ke dalam semboyan isolasi diri. Kasih tidak lagi menuntut aspek keterlibatan berupa sentuhan fisik seperti jabat tangan dan senyum melainkan dihayati dalam ruang dan jarak yang menghindari perjumpaan. Semboyan yang kiranya tepat untuk dilagukan saat ini ialah, “agar selamat, jauhilah yang lain”. Semboyan ini menjadi wakil representatif dalam menggambarkan relasi antaramanusia saat ini. Dengan demikian, konsep berpikir Sartre yang melihat sesama sebagai neraka, menemukan jawabannya dalam masa pandemi Covid 19 ini.

Editor: Pepy Dain

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button