Opini

Meredam Politik ‘De Vide Et Impera’ di Era Globalisasi

Oleh: Bernardus Badj

(Penulis belajar di Biara St. Karolus Scalabrinian, Ruteng-Manggarai-Flores)

       Eksistensi bangsa Indonesia yang majemuk ini mendiami kepulauan Nusantara yang tersebar di 17.508 buah pulau besar dan kecil, berada di antara dua samudra dan dua benua yang dapat bersatu menjadi satu bangsa (art.41.). Bangsa Indonesia saat ini sedang berada di dunia yang semakin maju dan modern. Hal ini ditandai oleh kemajuan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Komunikasi (IPTEK). Ini dipandang sebagai suatu peluang yang positif untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional yaitu memberantas penderitaan lahir dan batin, kemiskinan dan kebodohan yang telah lama dialami bangsa Indonesia akibat penjajahan pemerintah kolonial Hindia Belanda selama berabad-abad.

Ini disebabkan oleh adanya upaya untuk membangun bangsa dan negara Indonesia melalui pemanfaatan kekuatan politik di tanah air yang tercermin dalam kegiatan-kegiatan politik dari para politisi yang berbeda-beda partai politiknya.

Politik Pecah Belah Sebagai Musuh Bersama

      Politik pecah belah menjadi laris dipertontonkan oleh para politisi dengan melibatkan begitu banyak simpatisan dari kalangan masyarakat. Masyarakat tidak bersedia dan sulit untuk hidup bersama serta bekerja sama. Elemen masyarakat pun terpecah-pecah. Orang menjadi fanatis dan saling bermusuhan serta saling curiga antar sesama anak bangsa.

Politik pecah belah semakin dilancarkan sehingga sesama warga bangsa saling bersaing memperebutkan pengaruh untuk dapat meniadakan sesama yang lain. Kecurigaan demikian semakin menguat di kalangan politisi dan elit dalam ranah politik nasional di era globalisasi ini. Jika hal tersebut dibiarkan terjadi maka bangsa Indonesia akan terus berhadapan dengan politik pecah belah yang dapat menghancurkan bangsa Indonesia sendiri

Zainul menegaskan bahwa ketika tidak adanya persatuan dan kesatuan di kalangan bangsa Indonesia dan didukung oleh keragaman maka, kondisi ini mudah dieksploitasi atau disalahgunakan dengan politik pecah belah atau adu domba atau secara populer disebut juga politik “de vide et impera”. Politik pecah belah tersebut hanya akan meninggalkan kebencian dan dendam yang semakin berakar kuat di antara sesama masyarakat Indonesia sehingga permusuhan dan perlawanan satu sama lain untuk saling melenyapkan merupakan sikap yang ditempuh. Bangsa Indonesia pasti saja terlibat dalam perang saudara. Korbannya adalah bangsa Indonesia, sementara musuh yang sebenarnya terus menikmati perpecahan dan kehancuran bangsa Indonesia sebagai sebuah negara. Politik pecah belah merupakan musuh bersama semua warga masyarakat Indonesia.

Baca Juga :   Mencari Tuhan Dalam Wajah Sesama

Hal ini beralasan karena Indonesia sebagai bangsa yang besar dengan jumlah penduduk  yang sangat banyak dan bersifat majemuk baik suku, agama, ras maupun golongan mudah dan rentan terpecah belah sebagai satu bangsa dan negara. Kurangnya kesadaran akan kemajemukan dan kondisi demikian dalam diri setiap warga masyarakat, dapat melanggengkan politik pecah belah terus terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai satu bangsa Indonesia.

Zainul menegaskan bahwa bangsa Indonesia yang majemuk ini mendiami kepulauan Nusantara yang tersebar di 17.508 buah pulau besar dan kecil, berada di antara dua samudra atau lautan dan dua benua dapat bersatu menjadi satu bangsa. Hal ini sulit dibayangkan. Hal ini menegaskan bahwa bangsa Indonesia sangat mudah diprovokasi atau dihasut melalui politik pecah belah agar hancur berantakan. Pengalaman ini telah tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia yang sangat panjang ketika dijajah oleh bangsa Hindia Belanda selama kurang lebih tiga ratus lima puluh tahun.

Baca Juga :   John Rawls: Keadilan Global dan Nalar Publik (1921- 2002)

Sejarah kelam tersebut telah membuat bangsa Indonesia sangat menderita dan sengsara. Semua rakyat Indonesia mengalami kemiskinan dan kebodohan karena adu domba yang dilancarkan oleh bangsa penjajah. Penderitaan rakyat Indonesia semakin meluas karena tidak adanya kebebasan dan kemerdekaan untuk hidup layak sebagai manusia yang mempunyai harkat dan martabat.

Pengalaman tersebut harus menyadarkan segenap masyarakat Indonesia untuk tidak membiarkan politik pecah belah tetap berlangsung hingga masa modern ini, walaupun Indonesia telah merdeka dan berdaulat sebagai sebuah negara.

Politik pecah belah di antara sesama anak bangsa adalah sebuah bentuk penyimpangan moral. Moralitas bangsa yang seharusnya dipergunakan untuk memperjuangkan kebaikan dan keadilan bagi kesejahteraan semua warga bangsa, dialihkan untuk memenuhi kepentingan segelintir orang apalagi di era globalisasi ini. Moralitas masyarakat di negeri ini semakin hari semakin mengkhawatirkan. Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan moral tidak habis-habisnya terjadi di negeri ini, pelakunya mulai dari rakyat kecil hingga pejabat.

Setiap harinya media massa tidak pernah kehabisan berita tentang perilaku masyarakat. Berbagai kasus seperti korupsi, penipuan sampai pada tindakan asusila yang terjadi akhir-akhir ini banyak sekali melibatkan semua elemen masyarakat. Hal ini memperlihatkan bahwa banyak orang memiliki moralitas yang buruk.

       Banyak perilaku yang menunjukkan terjadi kemerosotan moralitas pada diri masyarakat Indonesia. Pada masa kini, masyarakat Indonesia telah mengalami hilangnya sikap sopan – santun dan lebih menggunakan pola-pola modern agar tidak disebut ketinggalan zaman. Masyarakat yang telah dirasuki ketamakan, terutama apabila mempunyai kekuatan dan pengaruh, tidak akan ragu-ragu dalam memakai segala cara untuk mencapai tujuannya di era globalisasi sekarang.

Penurunan kualitas moralitas bangsa tersebut juga dapat  disebabkan karena lemahnya mental anak bangsa yang terbentuk sejak dini, sehingga membentuk karakter yang kurang baik. Karakter tersebut akan menjadi watak perilaku seseorang dalam menjalani kehidupannya bersama warga masyarakat. Oleh karena itu, politik pecah belah merupakan musuh bersama yang harus diperangi dan dibasmi serta diredam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pada masa globalisasi sekarang.

Baca Juga :   Covid-19 Utamakan Pendekatan Kemanusiaan

Meredam Politik ‘Det Vide Et Impera’ di Era Globalisasi

Globalisasi secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi perkembangan moral. Seseorang dapat berperilaku buruk akibat penggunaan teknologi yang tidak pada tempatnya. Meleburnya norma dan nilai di dalam kehidupan masyarakat akibat globalisasi membuat warga masyarakat tidak lagi mengindahkan kebaikan dan keadilan untuk kepentingan umum. 

Politik pecah belah dalam pandangan bangsa Indonesia saat ini dapat menjadi suatu ancaman bagi nasionalisme. Selain globalisasi, ancaman lain yang dapat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa adalah instabilitas di bidang ekonomi, sosial dan politik dalam negeri. Namun bidang yang saat ini sedang gencar di tengah masyarakat adalah kegiatan politik.

Situasi politik nasional dalam negeri sedang tidak stabil karena adanya adu domba di antara para politisi dan masyarakat selaku pendukungnya. Kegiatan politik warga bangsa tidak bersandar pada moralitas politik yang seharusnya. Masyur Effendi menegaskan bahwa politik pecah belah dipergunakan oleh individu atau kelompok politik tertentu sebagai cara yang tepat untuk mewujudkan kepentingan politiknya.

Upaya tersebut dapat mempengaruhi segenap lapisan masyarakat untuk saling mencurigai. Hal tersebut dapat menimbulkan keresahan sosial dan konflik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga ancaman bagi nasionalisme tidak dapat dielakkan di era globalisasi ini.

(Tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggungjawab penulis)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button