cerpen

Menyingkap Rindu

Foto:Arloebis.com

Penulis: Hams Hama
(Mahasiswa STFK Ledalero, penikmat kopi, pencinta sastra, Alumni SMPK Sinar Ponggeok)

Tiba-tiba merebak sunyi
Terkenang.
Yang lalu hanyalah sebait kenangan ketika rindu
Yang lalu hanyalah segusar gelisah ketika luka
Yang lalu hanya sendiri.

Tiba-tiba meretak sunyi.
Terkenang.
Yang lalu hanya kenangan
Sebait gelisah bertuba menjadi sajak-sajak gelisah.
Kepada malam kutembusi langit-langit harapan
Pdoa-doaku yang mandul.

Baca Juga :   Aku Bersama Hujan Antologi Puisi Maria Camelia

Jika rindu adalah doa
Biarkan kenangan menjadi ujud-ujud
Sebab aku percaya rindu itu sekekal doa

Ritapiret, 10 Juni 2020

Kepada Jejak

Sebelum lupa menjemput ingat
kuakui sejauh ini Iangkah masih setegar rindu pada kenangan
Sekuat jarak pada waktu
Seindah doa pada sujud

Meski:
kadang dilanda ingin
Diburu waktu dan usia
Dicampakkan sepi pada sunyi

Baca Juga :   Kepada Senja

Meski:
Kembara menuju sendiri.

Dan kepada jejak:
Kuikat segala doa
Setabah gelisah tanah pada hujan
Sesetia senja pada hari
Selicik ingin pada hati
Mengumpul sisa waktu pada harapan.
Bahwa:
Jejakku tak pernah ingin sendiri
Meski pada legam sekalipun.
Karena aku percaya:
Rindu telah menjadi doa tanpa akhir.

Ritapiret, 13 Juni 2020

Ikhwal Pengharapan

Baca Juga :   Terjaga Saat Senja

Ketika pada akhirnya rindu yang kau lepaskan adalah doa
Dan kenangan yang kau peluk adalah kesia-siaan,
Kau akan sadar. Ada satu titik yang masih disebut misteri:Harapan

Bertungkulah pada harapan.
Kadang rindu dibatas pengharapan adalah sayap-sayap doa yang masih layak diterbangkan.
Dan kenangan yang kau rawat menjadi lonceng yang berisyarat.

Ritapiret, 23 Juni 2020

Editor: Edid Teresa

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button