Opini

Menjadi Guru di Tengah Covid 19

Penulis: Desi Dugis
(Guru SMA Santu Klaus,Kuwu)

Situasi covid 19 akhir-akhir ini tidak dapat dipungkiri lagi pengaruhnya bagi kehidupan manusia. Banyak aktivitas yang lumpuh. Kota-kota di dunia sepi tidak terlihat lagi aktivitas. Ibarat kota mati. Segala macam aktivitas dibatasi bahkan ada yang dihentikan. Dunia pendidikan tidak kalah. Sekolah-sekolah diliburkan. Sistem pembelajaran berbasis online menjadi satu-satunya pilihan sebagai jalan keluar. Semua hal tersebut dilakukan sebagai langkah untuk menghambat proses penyebaran covid 19. Sebab, sebagaimanapun situasi melanda kehidupan manusia di dunia, pendidikan tidak akan bisa dimatikan. Indonesia, sebagai salah satu Negara yang terkena dampak pandemic covid 19 pun tidak bisa menjauh dari sistem belajar dari rumah. Apalagi semenjak keluarnya surat keputusan Mendikbud RI tentang sistem belajar konvensional diubah menjadi sistem belajar daring sebagai salah satu bentuk pencegahan penyebaran covid 19. Lantas, sejak diberlakukannya sistem belajar daring tersebut pendidikan terlihat seperti mati suri. Sistem pendidikan yang sudah lama dipakai seakan-akan terkikis. Semuanya terjadi begitu cepat. Guru dan siswa dituntut untuk sesegera mungkin beradaptasi. Bukan tidak mungkin, metode pembelajaran berbasis daring menjadi salah satu solusi paling ampuh di tengah situasi sekarang ini.

Mampukah Mereka mMnjawab Keputusan Tersebut?

Perkara bisa dan tidak adalah usaha kita bersama. Hemat saya, menjalankan keputusan tersebut pasti bisa dilakukan oleh semua insan pendidik di negeri tercinta. Apalagi jika keputusan tersebut dikeluarkan oleh pimpinan tertinggi dalam sistem yang dianutnya. Persoalannya sekarang adalah bagaimana cara atau taktik guru ketika berhadapan langsung dengan situasi di lapangan. Baiklah jika situasi di lapangan mampu menjawab keputusan tersebut. Bagaimana dengan mereka yang butuh belas kasihan dalam menjawabnya? Jaringan untuk komunikasi saja susah, apalagi untuk mengakomodasi pembelajaran.

Baca Juga :   Muda Adalah Kekuatan

Lemahnya sistem jaringan internet menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi oleh guru di daerah terpencil di tengah situasi pandemic covid 19 sekarang. Bukan hanya itu, terbatasnya fasilitas pendukung pembelajaran online menjadi faktor lain. Tidak semua siswa mempunyai handphone, tidak semua orangtua juga mempunya handphone yang mampu menampung fasilitas pembelajaran tersebut. padahal kalu dipikir-pikir, handphone adalah salah satu fasilitas penting dalam menjawab situasi sekarang. Belum berakhir disitu, jaringan internet yang tidak cukup bahkan tidak ada sama sekali menjadi salah satu biang kerok dapat menyebabkan batalnya keputusan tersebut.

Namun mas Mendikbud, Nadiem Anwar Makarim pernah mengatakan bahwa setiap kejadian pasti ada hikmahnya, demikian pun dari situasi pandemi covid-19. Jadi, bagaimanapun situasi yang terjadi sekarang, kita yakin bahwa akan ada hikmahnya.

Perkenalkan saya Cinta. Saya adalah guru di salah satu sekolah swasta. Tetapi di sekolah saya biasa dipanggil bucin. Panggilan bucin bukan berarti budak cinta seperti istilah yang populer di kalangan remaja sekarang. Bucin singkatan dari ibu cinta. Sampai di sini paham? Akibat covid-19 sama seperti yang lainnya saya harus Work From Home (bekerja dari rumah) sehingga proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tetap berjalan meski menggunakan sistem dalam jaringan (daring). Bagi saya, sistem pembelajaran berbasis daring oleh karena WFH tidak sekedar memberi pelajaran bagi kita. Semua kegiatan sebenarnya dapat dilaksanakan kapan dan dimana saja. Menjadi persoalan ketika semua faktor yang mendukung kegiatan tersebut tidak memadai. Sebagai contoh, saya bekerja di sekolah swasta dan berasal dari kampung dengan fasilitas jaringan internet cukup memprihatinkan. Namun, situasi demikian tidak menutup kemungkinan bagi saya untuk terus berkarya sebagai guru. Berpikir kreatif namun ramah dengan situasi adalah langkah terbaik menanggapi situasi yang dialami sekarang ini. Bukan hanya saya tentunya, tetapi ada banyak orang yang mungkin sepemikiran dengan saya.

Baca Juga :   Logical Fallacy on Epstimology

Sebagai seorang guru, saya tentu harus berani menentukan langkah yang tepat dalam menghadapi situasi sekarang. Seperti guru-guru di tempat lain, mungkin banyak yang lebih memilih menggunakan e-learning, zoom, google classroom, youtube sebagai media pembelajaran online. Akan tetapi saya lebih memilih menggunakan WhatsApp. Sebuah akun media sosial yang boleh dikatakan ramah akan lingkungan pun ramah akan kuota. Apalagi dengan saya yang jiwa kekisminan akan dana kuota sangat memprihatinkan. Bukan hanya itu, sebagai guru saya juga mesti paham dengan kondisi yang dialami oleh anak didik. Sebagai guru di sekolah dengan rata-rata siswa menggunakan alat komunikasi sosial berupa Whatsapp, saya menggunakannya sebagai media pembelajaran di tengah situasi pandemik covid 19 sekarang ini. Akibatnya saya memperoleh hikmah yang patut disyukuri dimana WhatsApp tidak pernah sepi karena setiap saat selalu mendapat notifikasi dari siswa meski sekedar menanyakan materi atau mengirimkan hasil kerja atau tugas mereka. Di samping, itu penggunaan WhatsApp sebagai media pembelajaran online seolah-olah dimanfaatkan juga sebagai media untuk mencurahkan isi hati siswa. Menjadi guru adalah siap mendidik siswanya menjadi manusia. Ada banyak sisi yang dapat kita perjuangkan. Kemampuan intelektual adalah yang paling utama. Namun, menghadapi masa depan tentu tidak mengandalkan kemampuan intelektual saja. Oleh karena itu, sebagai seorang pendidik saya diharapkan untuk jeli membaca situasi para peserta didik. Sebagai contoh beberapa waktu terakhir saya sering mendengar curahan tepatnya keluhan beberapa siswa. Ada yang mengeluh karena jumlah tugas sedemikian banyak belum lagi tugas datang silih berganti. Dalam rentang tugas yang banyak tersebut, para siswa sebisa mungkin untuk menyesuaikan pengerjaannya dengan batas waktu yang ditentukan oleh guru. Banyak diantara siswa mengeluh bahkan mereka mengatakan stress dengan tugas-tugas tersebut.

Baca Juga :   Don Pande: Jiwa dan Dasar Pengabdian Orang Manggarai

Bahkan dengan polos mereka mengatakan, “ Ibu, kalau bisa cukup beri kami tugas, kami stress dengan tugas yang silih berganti setiap hari.” Ada juga yang dengan berbagai macam keluhan mengatakan,” maaf Bu, baru mengirimkan tugas karena jaringan ditempat saya susah, atau maaf bu baru mengirimkan tugas karena kuotaku habis. Entahlah. Berbagai macam keluhan yang mereka sampaikan di WhatsApp. Belum lagi jika ada yang mengatakan, “ ibu kami rindu suasana di kelas, kami bosan di rumah terus.”
Memang rasa bosan itu sudah pasti, bosan bukan berarti kita harus menyerah. Situasi tidak mesti membuat kita terhalang untuk berkreasi. Kehadiran tehnologi di tengah situasi sekarang kerap kali memunculkan kesadaran bagi kita bahwa, kehidupan manusia sekarang seharusnya berdampingan dengan kemajuan. Apa pun yang terjadi dalam hidup ini mesti kita tanggapi dengan sikap legowo dan berpikir bahwa ada hikmah nantinya.
Size the day, raihlah kesempatanmu adalah pepatah popular dalam film The poets of society yang diperankan oleh Robert Williams dapat dijadikan sebagai inspirasi bagi kita. Meskipun situasi yang dialami berbeda. Namun, apapun situasinya kita diharapkan mampu menghadapi semua peserta didik dengan sebaik mungkin.
Pada akhirnya, masalah pendidikan harus melibatkan semua pihak. Tidak hanya guru dan siswa. Selain itu, pemerintah juga perlu mengambil antisipasi sedini mungkin dalam menanggapi setiap tantangan zaman.

Editor: Edid Teresa

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button