cerpen

Mengembalikan Ingatan

Foto:Bojonegorotimes.com

Penulis:Eky Amrosila
(Mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Informatika Universitas Musamus,Merauke)

Di pintu gerbang tempat matahari menampakan dirinya, menenggelamkan cahayanya.
Aku menulis sebuah ingatan pada pantai berpagar kelapa yang berselimutkan pasir dan lumpur, tentang cerita lama yang telah berdebu di buku-buku tangan sejarah.

Di sini, pada suatu masa
Di negeri ini,
Setelah semua nyawa tertindas oleh kaki penjajah,
Bambu-bambu runcing pernah melawan meriam dan senjata.
Ketika air mata membakar nyali pada gagang parang
Menebas jiwa-jiwa serakah penjajah
Anak panah beserta tombak yang ikut melawan.
Tak ada hal lain yang di perjuangkan selain sehelai kain lusuh bercorak merah dan putih.

Baca Juga :   Karya-Karya SMP Negeri 4 Lembor (2)

Di bibir pesisir pantai sunyi yang telah usang di bakar matahari.
Kapal-kapal berasap beserta prajurit-prajurit dan tiang layarnya yang sombong
Pernah singgah untuk merobek isi perut ibu pertiwi.
Peluru-peluru yang pernah menghujani negeri kita, mimpi-mimpi yang di tenggelamkan air mata dan sekian ribu perlawanan-perlawanan yang telah menua di lembaran sejarah.

Baca Juga :   Nostalgia Alarm Tua

Benteng-benteng yang kini tak lagi berpenghuni, senjata-senjata yang tak lagi bertuan
telah mengisahkan balada pada bekas luka di jejak-jejak kaki waktu.
Kepada mereka yang pernah menghadirkan neraka di negeri kita.
Kepada pahlawan-pahlawan yang telah kembali ke pangkuan semesta.
Aku wakilkan jari-jariku berpuisi untuk menjadi sebuah ingatan yang kekal di dalam dada.

Merauke 20 November 2019.

Perihal Hujan

Mendung sore ini
Kulihat di raut wajahmu, daun-daun angin mulai gugur
Pinang meratapi warnanya yang memudar
Cendrawasih pun menangis

Baca Juga :   Dia Pergi Untuk Panggilan-Nya

Lalu hujan turun
Rintiknya jatuh di bulu matamu
Membasahi rona pipimu
Tergenang, membentuk kolam-kolam kesakitan masa silam
Lalu menetes perlahan memudarkan merah bibirmu
Menjadikannya pucat dan keriput

Terhempas ke sudut kota
Meratap di pojok beranda yang sunyi
Menangisi zaman yang kian mengerikan
terkapar ibarat kandang binatang

Kau begitu kesepian
Mulai ber-uban, sakit-sakitan
Menua, rentan dan pelupa
Berbau tanah, dan mati di tanah Papua

Merauke 01 Januari 2020

Editor: Edid Teresa

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button