cerpen

Mencintai Hingga Terluka

Foto: dewiku.com

Penulis: Julio Wandro Haman

Aku pernah terlarut dalam bingkai asmara yang membuatku tersayat. Aku pernah jatuh terbengkalai hingga nyaris tak bisa bangkit lagi. Sebilah belati menghujam ulu hati. Namaku Ghea. Lengkapnya Ghea Lionella. Aku adalah gadis belia yang belum seharusnya mengecap luka. Diusiaku yang baru saja menginjak 20 tahun, aku sukses memetik luka yang teramat hebatnya.
Kepergiannya membuatku terpukul. Kepingan rindu menjalar dalam nalar yang tak kunjung pudar. Tanpa tabe-tabe dia pergi denga tiba-tiba. Membiarkan aku yang harus mencari penambal hati yang kian retak. Dia membiarkan bunga yang tengah merekah harus bertekuk lutut memikul luka.

Derai hujan menciptakan tetesan air di ujung rambutnya. Dia kedinginan. Tiga menit yang lalu, kami menerobos jeruji air sebelum kami menepi di sebuah kedai kopi dekat pertigaan jalan. Semoga jalan saja yang bertiga, kami tetap berdua. Ia menanggalkan jaketnya. Otot kekar itu menyembul dibalik balutan kaos biru yang basah kuyup. Baru kali ini aku melihat dia menyerah. Dia kalah melawan dingin yang menusuk tulang. Aku memesan secangkir kopi untuknya. Sekedar menjadi penghangat untuknya. Aku menemaninya sembari menawariya senyum yang tak mau kalah dari kopi, minuman kesukaannya. Dia menatapku sembari melempar senyum. Kemudian aku tenggalam dalam pelukannya.Aku menggantungkan banyak harapan padanya.

Sepanjang perjalanan pulang, aku asyik menikmati semburat jingga yang menyembul di balik bebukit. Suasana petang berubah cerah ceria. Dia menatapku lewat kaca spion sambil tersenyum. Aku mencubit lengannya seraya mengeratkan peluk. Dia mengerang manja.

Dia begitu lihai dalam urusan memikat hati. Dalam sekejap, aku terjerembab dalam rengkuhannya. Dia pandai membuatku nyaman. Membuatku jatuh cinta dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Seiring beringsutnya waktu, keadaan memaksaku untuk berubah. Yang tersisa hanya kepingan rasa yang mulai tercecer. Meninggalkan puing-puing rindu yang tak mungkin terangkai kembali. Pun jika ia, itu adalah mukjizat.

Baca Juga :   Percakapan I

Hari terasa melesat begitu cepat. Yah begitulah bagi yang sedang jatuh cinta. Tak terasa dua tahun sudah kami mejalin kasih. Selama dua tahun itu pula, kami nyaris tak terpisahkan. Kemanapun selalu bersama. Saling mengukir senyum satu kepada yang lain. Tapi aku tak pernah sekalipun merasa bosan. Kehadirannya benar-benar melukis pelangi disetiap hariku.
Suasana rumahku tak seperti biasanya. Lengang seperti tak berpenghuni. Beberapa kendaraan yang tak aku kenal berjejer di samping rumah, memantulkan cahaya lampu taman yang tersenyum menyambutku pulang. Aku menghampiri kendaraan yang terparkir tadi. Aku terkejut ketika melihat ada satu mobil yang berplat POLRI. Pikiranku tak karuan. Jangan-jangan rumah ini mau disita. Aku bergumam dalam hati. Mungkin karena ayah belum melunaskan hutangnya ke Bank.

“Putri saya masih mau kuliah.” terdengar suara mama dengan nada sedikit memelas.
“Benar kata istri saya Pak. Putri saya mau melanjutkan kuliah. Dia adalah satu-satunya harapan keluarga kami. Soal ini, bisa kita bicarakan baik-baik.” kali ini suara papa yang terdengar.
Mendengar perkataan papa, lututku tak sanggup lagi menopang badanku. Aku gemetaran. Dugaanku semakin kuat. Rumah kami pasti disita. Hatiku teriris ingin berontak.

Aku terperangah. Diam seribu satu bahasa. Frenkie menatapku sumringah. Dia terlihat lebih gagah dari biasanya. Berbalut setelan jas berwarna krem, dengan dasi kupu-kupu hinggap di lehernya, ia tampak seperti pengantin. Aku dibuatnya linglung. Selain karena ketampanannya yang kini berlipat ganda, juga karena mengapa ia berdandan demikian.
“Ghe, keluarga Frenkie datang hendak melamar kamu” ujar papa pelan. Aku tak percaya. Frenkie tak pernah menyatakan kalau dia ingin melamarku. Perasaanku campur aduk. Kebingungan. Tak mampu berkata-kata.
Acara berjalan lancar dibalut suasana sederhana. Terpancar bahagia melingkupi kami. Terlebih aku dan Frenkie. Aku masih belum percaya kalau Frenkie seserius itu terhadapku. Dia benar-benar tidak pernah sama sekali merencanakan hal itu denganku. Semuanya dia atur sendiri. Aku tak bisa melukiskan kebahagiaanku malam itu. Malam itu juga Frenkie merusak kembang yang tengah mekar dalam diriku.

Baca Juga :   Hilangnya mendung di langit rumah

Awan hitam bergelayut pada langit, lalu disulapnya menjadi sendu. Gemintang tak lagi bermekaran. Purnama tertidur dengan pulasnya. Enggan menampakkan diri. Gerimis mulai menjalar kemana-mana. Dingin menusuk menembus hati yang kian larut dalam nestapa yang carut marut. Gerimis terus mengguyur. Meluruhkan debu-debu yang nyaman menghuni ujung dedaunan. Sayangnya ia tak pernah meluruhkan kenang yang ada di benakku. Justru menambah porsi rindu yang tak mampu aku tepis begitu saja. Aku merindukan kala kami menerobos hujan berdua. Bayangnya senantiasa bergentayangan dalam benak. Dia setia menemaniku menjemput mimpi. Bercengkerama mengecap kisah yang meski berlabuh di ujung pisah.

Aku mengurung diri di pojok taman belakang rumah. Menikmati kesendirian yang tahu kapan akan berakhir. Melawan dingin yang hendak membekukan embun di ujung dedaunan. Setangkai mawar yang mulai layu menjatuhkan kelopaknya. Tepat di atas daun teratai yang tengah berenang mengampiri seekor semut. Mawar itu dipotong papa dua hari yang lalu karena melukai keponakannya.

Baca Juga :   Lelaki Keramat

Hape-ku bergetar.

“Hallo? Ma’af ini siapa?” tanyaku pelan.
“Hallo. Ini benar dengan ibu Ghea Lionella?”
“Iya, ini siapa dan ada apa?” sambarku penuh penasaran.
“Saya dari pihak rumah sakit. Bu Ghea kami tunggu kedatangannya sekarang. Alamatnya kami kirim via SMS. Terima kasih.”
Rumah sakit? Siapa yang sakit? Papa? Mama? Tidak mungkin. Papa sedang menemani mama menonton film kesukaan mama di ruang tamu. Lalu siapa? Pikiranku membadai. Penasaran, aku bergegas ke rumah sakit yang dituju.
Darah segar bersimbah di dalam ruang IGD. Bau anyir menusuk hidung. Tim dokter berseliweran di sekitar tubuh yang tengah terbujur lunglai. Berjibaku menghentikan darah yang terus mengalir keluar. Gagal. Aliran darah tersebut semakin tak bisa terbendungi. Tim dokter angkat tangan. Seorang perawat mempersilahkan ku masuk.
“Frenkie!” aku menjerit.
Gelap.
Aku mendapati diriku tengah terbaring. Aku terkejut ketika cat kamarku berubah menjadi putih bersih.
“Perasaan kamarku berwarna pink. ” Aku berceloteh.
Tatapku tertuju pada orang yang tengah menulis sesuatu di pojok ruangan. Iya. Dia adalah perawat yang tadi di ruang perawatan Frenkie. Iya. Frenkie tunanganku.
Tiba-tiba aku kembali tak menyadarkan diri.

Aku bak kelopak mawar yang terjatuh di atas daun teratai itu. Belum lama mekar, kebahagiaanku harus layu. Kebahagiaanku dicabut dalam waktu sesingkat itu. Sesingkat aku jatuh hati padanya. Sesingkat dia menoreh luka untukku. Semoga aku seberuntung kelopak mawar itu, menemukan daun teratai sebagai tempatnya tinggal dan berbagai cerita. Bercerita sebagaimana mencintai hingga akhirnya tergores luka. Hingga ia tak pernah mekar berseri lagi.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button