Renungan

Memaknai & Menghayati Sakramen Ekaristi di Tengah Situasi Pandemi Covid-19

Banera.id – Ekaristi merupakan salah satu sakramen dari tujuh sakramen yang terdapat di dalam Gereja Katolik dan merupakan bagian dari sakramen Inisiasi. Sakramen Ekaristi telah menjadi warisan iman akan karya penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus yang telah dimulai sejak zaman para rasul. Bersama para rasul, Yesus Kristus menetapkan Ekaristi pada peristiwa perjamuan terakhir bersama mereka. Dalam perjalanan iman Gereja, Ekaristi menjadi sebuah ungkapan iman yang dirayakan dengan penuh penghayatan. Sebab, di dalam Ekaristi terdapat kekayaan makna dan sumber dari kehidupan Kristiani. Sehingga Gereja menempatkan Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan Kristiani (KGK 1324).

Begitu kaya akan makna yang terkandung di dalamnya, membuat Ekaristi dirayakan dengan begitu meriah. Melalui Ekaristi umat dapat bersatu dengan Yesus Kristus yang hadir secara nyata dalam rupa roti dan anggur. Dalam KGK 2014 dikatakan bahwa pertumbuhan spiritualitas Kristiani yang bergerak ke arah persatuan yang semakin erat dengan Kristus akan mencapai puncaknya pada Ekaristi yang adalah Kristus sendiri. Dengan mengalami persatuan yang erat dengan Kristus, berarti secara tidak langsung umat juga disatukan secara erat pula dengan seluruh umat Allah. Sebab, melalui Ekaristi tampaklah pengungkapan diri Gereja sebagai sakramen Kristus yang paling mendasar, karena dalam Ekaristi persatuan dengan Kristus dan tentu saja juga dengan seluruh umat, ditampilkan dalam tanda (Madya Utama, 2016: 20).

Di dalam Sakramen Ekaristi ada begitu banyak makna dan kekayaan iman Gereja yang terkandung di dalamnya. Namun, ada tiga pokok makna mendasar dari Sakramen Ekaristi, yaitu pertama, Ekaristi sebagai kenangan dan pelaksanaan Karya Penyelamatan Allah. Ekaristi menjadi kenangan akan Misteri Penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus, sekaligus juga melaksanakan amanat Yesus “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Aku”. Akan tetapi Ekaristi tidak hanya sekedar mengenang apa yang telah dibuat oleh Yesus, tetapi juga menghadirkan kembali pelaksanaan Karya Penyelamatan Allah dalam Ekaristi. Sebab, Yesus sendirilah yang hadir dan memimpin dalam diri Imam sebagai alter Kristus (Juna & Dewantara, 2018:136).

Kedua, Ekaristi sebagai wujud kesatuan dengan Kristus. Yesus telah mengatakan-Nya “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama Seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh 6:56-57). Ayat tersebut dapat dipahami bahwa Ekaristi mempersatukan manusia dengan Kristus. Sehingga dengan memakan tubuh dan darah-Nya dalam sakramen Ekaristi maka dengan kuasa Roh Kudus dipersatukan dengan kemanusiaan sekaligus ke-Allah-an Kristus.

Baca Juga :   Percayalah Saja (Renungan-Minggu, 10 Mei 2020)

Ketiga, Ekaristi sebagai wujud kesatuan dengan Gereja. Ekaristi adalah kebersamaan kita dengan semua anggota Gereja sebagai satu tubuh. Kebersamaan dan kesatuan tersebut mengalir dari Ekaristi yang membuat kesatuan antara umat dan Kristus itu terbentuk secara nyata. Melalui Ekaristi umat dipersatukan dengan Kristus yang hadir di dalam perayaan Ekaristi. Itulah tiga pokok dari makna Sakramen Ekaristi yang menjadi sumber dan puncak kehidupan umat beriman Kristiani. Maka, sudah seharusnya Sakramen Ekaristi perlu dimaknai dan dihayati oleh seluruh anggota Gereja, agar dapat dijadikan daya kekuatan dan sarana pertumbuhan spiritualitas Kristiani dalam hidup beriman sehari-hari.

Memaknai & Menghayati Sakramen Ekaristi

Pada saat ini, Sakramen Ekaristi yang seharusnya dimaknai, dihayati dan diikuti oleh seluruh umat dengan partisipasi aktif tidak bisa dilakukan seperti sedia kala. Hal ini dikarenakan kondisi dan situasi covid -19 yang belum kunjung usai. Sehingga tidak bisa merayakan Sakramen Ekaristi dengan banyak orang di Gereja, semua serba terbatas. Bahkan, umat diminta untuk mengikuti secara online dari rumah masing-masing. Padahal, Ekaristi merupakan tindakan Kristus dan Gereja-Nya, sehingga sudah seharusnya Gereja sebagai umat Allah ikut turut serta ambil bagian secara aktif dalam perayaan Sakramen Ekaristi.

Hal itu tampak jelas dalam Sacrosanctum Concilium art 11 yang mengatakan “supaya dalam kegiatan liturgi jangan hanya dipatuhi hukum-hukumnya untuk merayakan secara sah, melainkan supaya umat beriman ikut merayakannya dengan sadar, aktif dan penuh makna”. Selain itu pula, dalam PUMR 13 meminta umat beriman agar berpartisipasi dalam Misa dengan lebih sempurna dan tidak hanya berkomuni secara rohani, tetapi juga secara sakramental dengan “ikut menyambut dari kurban yang sama” yang dilakukan oleh imam yang merayakan Ekaristi.

Baca Juga :   RP. Ovan, O.Carm

Hal tersebut tentu menjadi suatu persoalan, apakah umat melaksanakan anjuran untuk memutus penyebaran covid-19 atau tetap mengikuti perayaan Sakramen Ekaristi seperti sediakala dengan resiko kesehatan dan keselamatan terancam. Umat mengikuti upaya yang dianjurkan oleh pemerintah untuk memutus rantai penyebaran covid-19 bukan sekedar hanya ingin taat kepada pemerintah, namun juga karena ada kewajiban moral untuk menjaga kesehatan dan keselamatan, baik untuk diri sendiri ataupun orang lain disekitarnya.

Lalu, bagaimana umat merayakan Sakramen Ekaristi ?. Kemudian, Gereja mengupayakan agar Sakramen Ekaristi dapat dirayakan oleh seluruh anggota Gereja karena mengingat bahwa Ekaristi menjadi sumber dan puncak kehidupan Kristiani. Maka, Gereja membuat inovasi pastoral dalam hal ini. Inovasi pastoral yang dilakukan iyalah dengan membuat misa atau perayaan Sakramen Ekaristi online, sehingga umat bisa mengikuti perayaan Ekaristi dari rumah masing-masing dan juga sekaligus tetap melaksanakan kewajiban moral dalam menjaga kesehatan dan keselamatan diri sendiri serta orang lain pula.

Kemudian, pertanyaan yang timbul di tengah umat iyalah: apakah dengan begitu perayaan Sakramen Ekaristi tetap sah? Bagaimana umat dapat menerima tubuh dan darah Kristus? Bagaimana cara kami dapat ikut ambil bagian secara aktif seperti yang diajarkan melalui PUMR dan dokumen konsili vatikan II?. Memang perlu disadari bahwa perayaan Ekaristi di tengah pandemic covid-19 ini tidaklah ideal, namun perlu diketahui pula bahwa Gereja menyadari kasih Allah dan karya penyelamatan Allah bagi manusia tidak terbatas. Sehingga Gereja selalu memberikan alternatif dan kelonggaran dalam situasi tertentu, terlebih dalam situasi darurat.

Ketidakhadiran umat tidak membuat perayaan Ekaristi tidak sah atau cacat. Idealnya Ekaristi dirayakan bersama umat karena mengungkapkan keseluruhan hidup Gereja dan kesatuan Gereja dengan Kristus sendiri. Tetapi ada kalanya karena situasi darurat tidak ada seorang pun dapat hadir dalam perayaan Ekaristi, imam tetap dapat merayakan Ekaristi untuk kepentingan Gereja (bdk. PUMR 254) untuk kepentingan Gereja dan menghadirkan rahmat keselamatan Kristus. Ketidakhadiran umat tidak membuat imam yang merayakannya sendirian.

Baca Juga :   Pandemi Covid-19: Gugat Tanggung Jawab Etis Ilmu Pengetahuan

Ekaristi dari dirinya sendiri mempunyai dua dimensi, yakni dimensi eklesial: tindakan Kristus dan tindakan Gereja; dan dimensi spiritual: kesatuan universal Kristus dengan Gereja, dan persatuan diri pribadi imam itu dengan Kristus. Gereja di dunia juga memiliki kesatuan dengan Gereja yang mulia dan Gereja yang menderita. Dalam penghayatan spiritualitas yang demikian dapat dikatakan bahwa imam tidak pernah sendirian (secara rohani) saat merayakan Ekaristi sine populo. Ketidakhadiran umat dalam perayaan Ekaristi (sine populo) hanya menggambarkan umat tidak hadir secara fisik, tetapi tidak berarti tidak ada umat dalam pemahaman spiritual. Perayaan Ekaristi selalu merupakan ungkapan persekutuan seluruh Umat Allah.

Dalam menerima tubuh dan darah Kristus dalam misa online, umat dapat menerima komuni batin yang bisa juga mempersatukan umat dengan Allah meskipun tidak dalam rupa fisik umat menerimanya. Hal tersebut hanya mungkin terjadi dengan adanya kuasa Roh Kudus yang memungkinkan umat mengalami persatuan erat dengan Allah, meskipun tidak menerima Yesus Kristus dalam rupa roti dan anggur. Komuni batin tersebut dapat dilakukan saat kondisi dan situasi darurat yang tidak memungkinkan umat menerima tubuh dan darah Kristus dalam rupa roti dan anggur.

Dengan melihat makna yang begitu besar dari Sakramen Ekaristi dan melihat ajaran Gereja yang tetap memberikan kesempatan kepada umat-Nya dalam kondisi darurat untuk merasakan kesatuan Kristus melaui Ekaristi. Maka, kita diajak untuk bisa tetap memaknai dan menghayati Sakramen Ekaristi di tengah situasi pandemic covid-19, meskipun dirayakan melalui live streaming. Berikut ini merupakan cara-cara atau langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk menghayati Sakramen Ekaristi : mempersiapkan diri, memusatkan perhatian pada Kristus dan bersikap layaknya mengikuti perayaan Ekaristi secara langsung. Namun perlu disadari, Sakramen Ekaristi tanpa kehadiraan umat (sine populo) yang saat ini dilaksanakan dengan live streaming tidak menggantikan Sakramen Ekaristi secara umum. Sakramen Ekaristi dengan live streaming sebagai inovasi pastoral di tengah situasi darurat saat ini.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button