cerpen

Masih Ada Bekas Lipstik Pada Bibirmu

Foto:Minggu6.com

Penulis: Sonny Kellen

Tidak menarik hidup sebagai anak yatim. Apalagi aku hanyalah buah percintaan yang tidak diinginkan oleh keluarga ibuku sendiri. Masalah itu kini menjadi buah bibir masyarakat. Perempuan yang aku sapa ibu menanggung aib akibat dosa asal yang membekas pada dirinya dari laki-laki biadab yang tidak tanggungjawab. Tepatnya ayahku. Tapi aku sadar, air maninyalah yang menciptakan aku hingga umurku berangka dua puluhan sekarang. Sejak saat itu aku putuskan untuk hidup menjomblo karena aku tidak mau penderitaan yang dialami oleh ibu, dialami juga oleh perempuan lain.

Waktu berputar begitu cepat, hingga riak-riaknya menjulur menciptakan sebuah tahun. Aku ingat malam itu, aku menghadiri pesta ulang tahun Veronika, teman SD-ku dulu. Aku jatuh cinta dengannya sejak SMA. Paras ayu dan senyumnya yang santun menyerupai purnama membuatku jatuh berkali-kali dan hampir setiap malam kasurku basah akibat onani yang aku ciptakan sendiri. Hari-hariku terasa monoton dan aku bisa mati berdiri karena bosan. Karena itu, anak yatim sepertiku selalu punya cara tersendiri menghibur diri sendiri. Menyanyi keras-keras dalam kamar kalau lagi suntuk. Lari-lari keliling rumah kalau sedang nafsu- sebab kalau tidak, ujung-ujungnya pasti onani sambil membayangkan wajah Veronika atau teman-teman kampungku yang semok.

“Jangan keseringan onani seperti itu. Kau akan punya cinta yang luar biasa dan meniduri berapa banyak perempuan yang kau mau.” Ungkap Goris, sahabat sekaligus temanku. Entah dari mana dia dapat teori seperti itu, tapi dia mengucapkannya dengan begitu serius. Ocehannya selalu bisa mengusir kesepian dan kepenatan di rumah. Tidak ada hari yang lewat tanpa tertawa kalau dia ada. Pernah suatu kali aku dibuatnya tertawa sampai terkencing-kencing di celana. Karena itu, belakangan ini aku tidak pernah lupa membeli celana dalam setiap kali belanja di pasar.

Rumah Veronika berdekatan dengan rumahku. Sering tanpa sengaja aku mengintainya mandi. Tubuhnya yang semok, mata yang lentik, hidung mancung, kulit cerah, rambut air terurai hingga pinggul, dan bibir yang selalu menyimpan senyum teramat manis. Dan aku akui saat melihat hal seperti itu, ujung-ujungnya kasur menjadi tempat perhentian terakhir untuk nafsu. Veronika memang pandai menyulam senyum tapi juga pandai membangkitkan sesuatu dalam diriku yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Veronika adalah gadis kelahiran Jawa dan rata-rata orang Jawa seperti itu, sehingga tidak heran kalau Goris ingin sekali menikah dengan orang Jawa seperti Veronika. Aku ingat laki-laki yang tidak tahu malu, pohon yang menumbuhkan aku ke dalam rahim ibu. Dia adalah keturunan Jawa sama seperti Veronika. Dia laki-laki yang tampan. Kata ibu, aku mempercayainya sebab aku belum pernah melihatnya. Dia tidak mati. Dia hanya tidak ada di sini. Dia diusir oleh nenekku-ibu dari ibuku yang tidak setuju menghamili anak perempuan sulungnya. Nenek sangat terpukul karena ibu hamil saat ibu baru berumur delapan belas tahun. Luka yang begitu dalam yang diciptakan laki-laki yang tidak tahu malu. Sejak saat itu ibu memutuskan untuk berhenti sekolah dan merawat aku.

Veronika memang cantik. Aku dan tentu banyak laki-laki di luar sana pernah jatuh cinta padanya. Goris bahkan jujur bahwa dia selalu ingin onani setiap kali melihat liukan pinggul Veronika ketika sedang berjalan menuju kamar mandi. Sebagai anak miskin, aku sama sekali tak punya nyali untuk mengungkapkan perasaanku pada Veronika. Apalagi setiap malam banyak anak laki-laki yang datang berkunjung di rumahnya. Sekurang-kurangnya itu menjadi semacam ukuran bagiku untuk bisa tahu diri. Tapi itu dulu, sekarang aku tidak lagi menyukainya. Selain itu karena veronika sedikit angkuh, banyak juga isu buruk tentangnya.

Baca Juga :   Puisi-Puisi Sonny Kelen

“Dia bukan perempuan baik-baik,” kata Goris pada suatu kesempatan ketika kuceritakan padanya tentang ketertarikanku pada Veronika.
“Memangnya ada perempuan baik di dunia ini?” jawabku tenang, dan bisa kurasakan kata-kataku itu menyinggung perasaan Goris.

Tapi untunglah perasaanku salah. Goris tidak tersinggung. Dia justru menceritakan banyak hal tentang Veronika. Veronika itu anak yatim-piatu. Ibunya meninggal kerena kecelakaan motor ketika Veronika masuk kuliah di salah satu Universitas ternama di Jakarta. Sedangkan ayah Veronika meninggalkan Veronika dan ibunya sejak Veronika berumur empat belas tahun.
“Veronika itu perempuan lonte,” ketus Goris.

“Aku sering melihat pintu kamarnya tertutup dan musik diputar keras-keras. Kalau bukan main, apa lagi?” sambungnya sambil memoncongkan bibirnya.
Memang benar, pintu kamar Veronika sering tertutup dan dia memutar musik keras-keras dari dalam kamarnya. Menurut penelitian Goris, setiap kali para pria yang keluar dari kamar Veronika, ada bekas lipstik pada bibir mereka, dan beberapa noda merah di leher mereka, seperti bekas gigitan.

Di depan rumah Veronika aku masih menunggu hujan reda. Sesungguhnya aku sudah mulai gelisah sejak senja mulai merosot, ketika langit masih mendung, dan hujan masih seperti butir-butir embun. Tapi tiba-tiba diamku terusik ketika pintu di sebelahku berderit akibat sebuah tangan mendorongnya. Seorang pria keluar. Dahinya basah oleh keringat. Pakaiannya sedikit berantakan, bahkan beberapa kancing di kemejanya belum terpasang. Dadanya terlihat jelas. Dia memberiku sebuah senyuman. Kemudian dia pun berlalu ditelan gelap sebelum aku balas senyum kepadaya. Selepas perginya Veronika muncul dari dalam rumah. Tak bedahnya dari laki-laki tadi, rambut Veronika pun berantakan.

“Sudah lama di sini?” Tanya Veronika.
Aku hanya mengangguk. Hanya itu satu-satunya gestikulasi yang mampu dihasilkan tubuhku.
“Kau lihat semuanya?” sekali lagi dia bertanya. Dan jawabanku sama. Hanya mengangguk. Ketika itu, Veronika mempersilahkan aku masuk dan seperti biasa, musik diputarnya keras-keras.
“Yakin kau ingin melakukannya denganku?” kata Veronika yang tanpa busana setelah berhasil membuatku orgasme dua kali.

“Apa aku terlihat payah?” kataku menantang. Dia mendekat dan mendekap tubuhku. Itu adalah pertama kalinya wajahku menyentuh payudara wanita. Seluruh tubuhku bergerak, terlebih yang ada dibalik celana. Veronika tiba-tiba tersenyum.
“Ada yang salah?” tanyaku.
“Tidak. Kau terlihat menggairahkan. Tungguhlah sebentar!” katanya setelah menyentuhkan jari-jari tangannya ke bibirku lalu berbalik berjalan ke arah lemari pakiannya.
“Kau sudah terlihat menggairahkan sejak dulu SMA, sayang.”

Dia mengulurkan tangannya yang tengah menggenggam potret dua orang remaja laki-laki dan perempuan. Aku mengenali remaja laki-laki itu. Lelaki itu aku.

“Kau memang tidak berubah. Dendam yang hidup dalam dirimu telah merubahmu. Kau hidup bahagia dengan melakukan semua hal yang kau sukai. Kau tak lagi mengingat kemanisan yang pernah kau sedot dari tubuhku, seperti yang sering kaulakukan pada awal pertemuan kita di atas ranjang kala itu. Dan sekarang kau ingin melakukannya kepadaku lagi?” jelasnya. Aku hanya diam dan menatapnya dalam-dalam.

Baca Juga :   Percakapan I

“Sejak kejadian itu, aku mengharapkan supaya kau selalu menanyakan kabarku. Tapi apa, kau membuatku menderita hidup dengan laki-laki yang adalah temanmu sendiri. Sebenarnya setelah kejadian kita itu, aku hamil dan Goris temanmu memaksaku untuk menggugurkanya dengan menyuapkan obat-obatan ke dalam mulutku. Kau tahu, seluruh tubuhku telah menjadi berdosa.” Air matanya jatuh menyerupai hujan. Aku masih dengan ritual yang sama. Bahkan aku seperti orang bodoh. Ketelanjangan Veronika tidak sedikitpun membangkitkan nafsuku lagi. Semuanya seperti di ninah bobokan oleh penjelasan Veronika. Aku dihantui pikiran-pikiranku yang kusendiri belum yakin sebelumnya. Aku begitu menyesal, entah untuk alasan apa.

“Dari kejadian itu, Goris akhirnya meninggalkan aku karena beranggapan aku adalah perempuan yang tidak baik. Dan untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari, aku hidup seperti ini yang siap memberikan diri kepada singa-singa lapar yang mencabik-cabik tubuhku hingga hancur. Kadang aku lupa seperti apa aslinya wajahku ketika duduk di depan cermin. Aku menciptakan banyak luka di pelipis dan bibirku. Kau tahukan, bagaimana kesakitan yang dialami oleh perempuan ketika dicabik karena nafsu? Seperti itulah yang aku alami selama ini?” isak tangisnya pun menjadi-jadi. Aku mendekapnya dengan erat. Aku tahu cinta selalu harus dikejar tapi aku sadar bahwa inilah saat di mana aku telah mengejar cinta itu. Kesetiaan yang aku bangun hari demi hari entah mengapa terasa amat rapuh. Perempuan yang ada di depanku saat ini telah terluka akibat cintaku sendiri. Aku seperti laki-laki bodoh yang menyerah karena cinta karena berambisi balas dendam. Tapi bukankah memaafkan kesalahan orang lain merupakan balas dendam yang paling manis? Aku sadar, aku salah. Salah memanfaatkan cinta seorang perempuan demi nafsu yang sering melukai tubuhku berkali-kali.

“Aku tidak mengerti mengapa kau melakukan semuanya ini kepadaku. Apakah kau tidak mau menjadikan aku perempuan baik dalam hidupmu? Aku sulit membedakan mana yang amarah dan mana yang cinta. Aku selalu berharap kau bisa membedakannya untukku, tapi kau sendiri tak peduli. Kau terlalu sibuk dengan dirimu sendiri sehingga kau tidak pernah tahu apa yang aku rasakan. Aku kauabaikan, seakan kau tak punya rasa. Kau tahu betapa aku mencintaimu, namun sampai sekarang aku belum tahu pasti kau mencintaiku atau tidak. Aku mencoba bertahan, tapi kau tidak sama sekali peduli dengan apa yang aku pertahankan. Kau hanya menginginkan diriku tanpa pernah peduli dengan perasaanku. Aku lelah hidup seperti ini.”
“Sudahlah Veronika. Aku di sini untukmu. Jangan kau salahkan dirimu seperti itu. Kau punya kesempatan untuk memulai hidupmu dari awal lagi.”
“Kau di sini hanya menginginkan tubuhku bukan.”
“Tidak Veronika. Aku di sini untukmu. Aku tidak mengharapkan apa-apa darimu. Aku sadar apa yang aku buat kepadamu selama ini salah. Aku akui itu. Sesungguhnya aku mencintaimu. Aku tidak peduli apa kata orang tentang dirimu, apa statusmu aku tidak peduli. Yang terpenting sekarang kita mulai kehidupan yang baru dari awal. Kita memulainya sama-sama.”
Veronika menatapku amat tajam. Seperti ada sesuatu yang ingin dia katakan kepadaku namun belum berhasil dia ungkapkan.
“Kau tidak bosan denganku?” katanya di telingaku.
“Mencintaimu tak pernah membosankan.”
“Tapi mencintaimu sungguh membosankan” tambahnya
“Tidak usah mencintaiku jika itu membuatmu bosan”
“Sudahlah. Aku tidak main-main dengan perasaanku. Sungguh aku mencintaimu, Veronika.”
“Terima kasih telah memahamiku” jawabnya
Setetelah kejadian itu, aku dan Veronika semakin sahid dalam menciptakan rindu. Walaupun rumah kami berdekatan. Dan yang lebih penting aku berhasil membawa kembali Veronika pada dunianya sendiri, menjadi perempuan lugu dan perempuan yang dikagumi oleh orang lain. Kekaguman yang bukan terletak pada cantiknya tetapi kebaikan yang terletak pada perbuatannya. Kini Veronika menjadi perempuan. Ya, perempuan yang lain kuberi nama.

Baca Juga :   Hijabmu dan Rosarioku Dalam Cinta yang Esa

Hari-hariku lewat begitu cepat bersama Veronika dan hal ini tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Duduk bersama, bernyanyi bersama bahkan berdoa bersama. Veronika sungguh menjadi perempuan. Pernah disuatu kesempatan aku begitu terkejut ketika Veronika mengutarakan keinginannya.

“Apakah kau suka puisi?”
“Ya. Aku begitu menyukai puisi. Bahkan puisi yang tidak pernah aku mengerti sampai sekarang.” Jawabku. Dia tersenyum ketika aku menjawab seperti itu.
“Mengapa demikian.” Tanyanya lagi.
“Karena dari puisi aku dapat mengetahui apa yang aku tidak ketahui.”
“Maksudmu.”

“Ya, seperti ini. Banyak puisi yang ditulis oleh penulis dengan pengalamannya sendiri dan kita pembaca dipaksa untuk mengerti apa yang ditulis. Bahkan ada puisi yang memiliki arti yang sulit di mengerti dengan pemahaman kita sendiri. Lebih tepatnya puisi itu dimengerti kalau kita sedang berada pada fase paling tepat dalam kehidupan kita sendiri.”
“Ahh, kau membuatku semakin tidak mengerti.”
“Tidak Veronika. Dari sekian banyak puisi yang aku baca, hanya satu puisi yang paling sulit aku mengerti sampai saat ini. Puisi itu kamu. Tepatnya mencintaimu.”
“Kenapa begitu?”

“Kau ingat, waktu pertama kali kita melakukannya di atas ranjang. Kau begitu bahagia ketika kau mengawinkan bibirmu ke bibirku dan kita tenggelam dalam kenikmatan paling dalam. Kau begitu bahagia saat kita melakukan seperti itu sebelum aku orgasme. Tapi satu hal yang kau lupa. Bahkan sampai dengan saat ini kau tidak menyadarinya. Bekas lipstik pada bibirku. Aku tidak tahu mengapa bekas lipstik itu tidak hilang. Bukankah bekas itu bisa dihilangkan setelah ketika kita melakukannya. Kau tahu, setelah kejadian itu hidupku berubah seratus delapan puluh derajat. Ibuku meninggal karena trauma melihat bekas lipstik pada bibirku. Bukan hanya itu, aku sering dibuli oleh teman-temanku. Yang lebih parahnya lagi, aku semakin gila karena nafsuku sendiri. Hampir dalam sehari aku orgasme empat bahkan enam kali. Aku sendiri tidak mengerti mengapa seperti itu. Namun pada akhirnya aku sadar bekas lipstik itu membawaku kembali. Kembali ke tuannya sendiri yang sekarang sedang ada bersamaku.”

Veronika hanya menatapku. Sesekali tangannya merabah bibirku. Dan aku merasa sesuatu sekali yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Dia menciumku. Aku tidak berbuat apa-apa selain menerima ciumannya dan membiarkan dia mengawinkan bibirnya dengan bibirku. Aku tidak merasa apa-apa. Hanya kehampaan yang ada. Dalam hening yang suntuk itu Veronika masih saja dengan ciuman yang sama dan desahan napas yang menggoda. Tapi semuanya tidak mengembalikan apa-apa. Aku masih dengan bekas lipstk pada bibirku.*

*Penulis Sekarang Tinggal di Unit Gabriel Ledalero

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button