cerpen

Luka Tak Berdarah


Pic: rehberon.com
Penulis: Waldus Budiman

Velaria, gadis bermata coklat itu baru saja diwisudakan di salah satu sekolah tinggi ternama di Makasar dengan profesi sebagai perawat. Dia berhasil menjadi salah satu lulusan terbaik seangkatannya, dan juga berhak mendapatkan beasiswa dari pihak Yayasan. Semasa kulianya, Velaria menorehkan pelbagai macam prestasi salah satunya juara satu umum dalam lomba menulis yang dikuti beberapa sekolah tinggi kesehatan di Makasar dengan tema, pentingnya sikap rendah hati seorang perawat di lapangan. Gadis yang berpipi lesung itu, juga memiliki paras yang elok dan tutur kata yang lembut, dan sifat yang dermawan. Beberapa teman dekat Velaria mengakui hal tersebut termasuk mantan pacarnya yang gagal move on. Jauh sebelum dirinya diwisudakan, kami sudah menjalin hubungan jarak jauh dengan daya fiksi yang kuat.

Atas nama kepercayaan, kami bersumpah untuk hidup semati. Hari demi hari dilewati dengan ucapan syukur pada empunya hidup. Selain tidak memiliki kuasa, juga atas kesepakatan bahwa hubungan ini suatu saat nanti akan disahkan di altar suci, tempat di mana semua ramalan akan menjadi nyata. Dalam universary yang ketiga kalinya, doa-doa sederhana membungkus semua harapan dengan intensi kami tiba pada amin yang sama. Sudah tiga tahun berlalu dan berusaha merawat dan menjaga keutuhan hubungan ini dengan rasa saling percaya dan mimpi-mimpi, termasuk ramalan-ramalan dalam hati. Mulut seakan tak berdosa saat menyebut nama Tuhan dalam setiap janji dan berkata-kata sesuai keinginan hati masing-masing. Sesekali mengutip pesan tentangga sebelah untuk anaknya yang struk akibat gagal menikah dan ditinggal pergi sang kekasih.

Musim berganti, tahun berlalu, hari-hari terasa gersang. Semuanya sudah berakhir dan hanya tinggal cerita. Tepat pada musim yang sama, perpisahan tidak dapat dihindarkan. Velaria memutuskan pergi meninggalkan kisah yang belum usai.

Gila rasanya jika mengingat kembali semua apa yang pernah terjadi. Sementara aku dan dirinya berusaha untuk ikhlas dan saling melupakan. Bukankah hal yang menyakitkan dari sebuah pertemuan adalah disaat kita berpisah dan berusaha untuk saling melupakan?. Tidak. Situasi saat ini mengharuskan hal itu terjadi. Aku ataupun dirinya tidak berharap bahwa perpisahan ini akan terjadi setelah merayakan universary yang ke-4 dalam minggu ini? Itu mustahil. Dia sudah pergi. Waktu mengajarkan banyak hal dalam perjalanan sejauh ini bahkan dalam situasi sekarang. Waktu tidak pernah menyembunyikan apapun bahkan menyadarkan kita bahwa rasa nyaman terkadang dipatahkan oleh jarak.

—————————————————–

Angin di luar masih kencang seperti kemarin. Sesekali petir menyambar kota ini. Kilat tak henti-hentinya memotret dengan blitz canonnya. Aku meneguk kopi yang sudah mulai dingin. ABC Moca menjadi kopi pilihanku saat berada di kota ini. Kepulan asap rokok di dalam kamar menyerupai asap kebakaran hutan. Itulah situasiku saat ini. Sesekali aku melirik ponselku. Tak ada pesan masuk. Mataku menatap langit-langit kamar berusaha untuk menemukan sesuatu. Nihil. Di sudut kamar, botol wine masih berdiri kokoh yang dibeli semalam di tempat biasa ngopi. Aku tersenyum membayangkan tatapan tajam pemiliki warung ketika menyebut nama minuman yang satu ini dengan keras. Di situ aku belajar satu hal. Terkadang dalam hidup, kita berusaha untuk membungkus kesalahan dengan cara apapun.

Hari-hariku selama satu bulan hanya memikirkan hal-hal yang abstrak dan terkadang gila. Misalnya, wajah cantik itu akan datang kembali menghampiriku dengan menyuguhkan segelas kopi ABC dan berkata “bangkitlah, kamu pasti bisa”. Gilakan? Tetapi dalam pikiranku seakan-akan itu terjadi. Ah… sudahlah. Berusaha untuk pasrah pada keadaan mungkin salah satu cara bahwa melupakan adalah pilihan terbaik. Sesekali mulutku menghembukan asap rokok dengan desahan nafas yang cukup keras. Aku tidak memiliki apa-apa lagi saat ini selain bayangannya yang kian hari menyelimuti pikiranku. Suatu ketika aku ingin menulis beberapa kalimat penting dibalik situasi ini sebelum aku beranjak ke kota lain. “terima kasih atas luka dan beban rindu yang engkau tinggalkan. Kamu sudah mengetahui jika kelemahanku adalah rasa nayaman”. Tapi aku tidak bisa melawan komitmenku sebelum aku tiba di kota ini. Keinginanku untuk tinggal dalam waktu yang lebih lama dan berusaha meningggalkan jejak yang baik.

Hujan semakin deras. Rokok sisa 4 batang dan kopi tinggal seperempat. Aku berusaha mengosongkan pikiran agar bayangannya tak lagi mampir. Semuanya sia-sia. Bayangan itu semakin jelas. Membaca kambali imbox yang dikirimnya beberapa hari lalu justeru menambah luka dan semakin banyak kenangan yang akan berdarah nantinya. Ikhlas dan melupakan adalah misi besarku. Lebih mudah mengobati tumor korupsi dalam diri pejabat yang korup di negeri ini dibandingkan berusaha mengobati luka yang tak berdarah.

Velaria, kepergianmu adalah bahagiaku juga, tapi janji bahwa suatu saat engkau tiba di kota ini, menyuguhkan kopi ABC dan bersamaku merawat sepi adalah hal tergila dalam hidupku.

Terima kasih Velaria. Engkau telah mengajarkanku satu hal bahwa hubungan yang pasti dan terjamin adalah saat kedua insan menyerahkan diri dan berlutut di depan altar suci untuk menerima berkat lewat tumpangan tangan bapa Pastor.

Editor: Edid Teresa

Baca Juga :   Telaga warna

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Periksa Juga
Close
Back to top button