Opini

Literasi Orangtua untuk Retas Kekerasan Terhadap Anak


Angela Putri Permata Bukardi
Siswi Kelas IX SMP St. Stanislaus Borong

“Weong ko naige, weong weleng naige, anak diong kaku ta, kawe ende toe repeng, kawe ema toe nesa, Ide de weong naige …. ( hatiku sedih, hatiku galau, anak siapakah aku ini, kucari mama tidak ditemukan, kucari ayah tidak jua kutemukan).

Syair lagu Anak Diong karya Felix Edon, musisi asal Kabupaten Manggarai di atas mengisahkan seorang anak yang kehilangan hak-hak dasar akibat perilaku orangtua. Belakangan ini, lagu Anak Diong menjadi populer setelah dinyanyikan oleh Betran Peto, artis cilik asal Cancar, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Keseluruhan, lagu ini bercerita tentang anak yang diterlantarkan orangtua. Anak mengembara dalam lumpur kehidupan yang tragis. Itu berarti ada upaya pengabaian orangtua terhadap hak-hak anak sebagaimana yang tertuang dalam UU No. 23 Tahun 2002, Bab III Pasal 4.

Selain itu, lagu Feliks Edon ini merupakan ungkapan hati seorang anak yang mengalami kekerasan akibat pembiaran, pengabaikan orangtua. Inilah potret buruk peran orangtua di Indonesia. Sejauh ini, kekarasan, pembiaran maupun pengabaian terhadap anak marak terjadi di sejumlah tempat. Ada berbagai contoh praktik kekerasan anak baik secara psikis maupun secara fisik yang diakibatkan keteledoran orangtua. Pengawasan orangtua minim terhadap anak. Akibatnya, kerap kali anak mendapat kekeraasan. Beberapa contoh kekerasan itu misalnya; kasus kekerasan seksual yang dialami anak kelas III SD berumur 9 tahun di Sampar, Desa Pong Laleng, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi NTT (Beritasatu.com, 10/10/2019). Kekerasan seorang ayah terhadap Agnes yang berujung kematian (Tribunnews.com, 1 November 2019). Bocah berumur 3 bulan di Jakarta Selatan yang dibunuh oleh ayahnya sendiri (Tempo.com, 10/05/2019). Di Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, seorang siswa SD mengalami kaki pincang akibat dianiaya oleh Kepala Sekolah (Voxntt.com, 15/052019).

Baca Juga :   POLITIK DAN GEREJA TERLIBAT

Inilah wajah kekerasan yang menghantui anak belakangan ini. Potret buram ini juga disampaikan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). KPAI mencatat bahwa pada tahun 2015 terdapat 4.500 kasus pelanggaran hak anak. Tahun 2016 tercatat 6.820 kasus (alodokter.com, 30 Desember 2018). Berbagai bentuk kekerasaan itu antara lain; kekerasan seksual, kekerasan fisik dan kekerasan psikis. Di samping itu KPAI mencatat ada 28% pelaku kekerasan pada anak adalah orangtua anak sendiri sedangkan sisanya adalah guru dan ayah tiri (Tirto.id).

Dirilis Mommiesdaily.com, 5 September 2019, ada 10 alasan kekerasan terhadap anak oleh orangtua. Pertama, masa kecil yang penuh dengan tindak kekerasan. Kedua, ingin mengontrol anak sepenuhnya Ketiga, ekspektasi yang terlalu tinggi. Keempat, peer pressure. Kelima, ketergantungan terhadap alkohol atau narkoba. Keenam, tidak ada dukungan sama sekali dari keluarga. Ketujuh, emosional atau mental disorder. Kedelapan, memiliki anak berkebutuhan khusus. Kesembilan, keterbatasan finansial. Kesepuluh, hubungan yang tidak sehat antara suami dan istri.

Selain alasan di atas, penulis meyakini bahwa ada hubungan yang erat antara kekurangpemahaman orangtua terhadap perkembangan anak. Perkembangan anak, seperti diketahui, meliputi tumbuh kembang, kesehatan, pemahaman dan keterampilan, emosi dan kepribadian serta kehidupan anak (Carol Cooper dkk. Ensiklopedia Perkembangan Anak, 2008). Sebagai orangtua, seyogyanya memahami dan mengenal dalam perkembangannya sangat dibutuhkan.

Baca Juga :   Mengembalikan Semangat Kesetaraan Gender

Hasil survei nasional KPAI pada tahun 2015 menyebutkan bahwa sebanyak 75% pasangan orangtua meniru cara asuh yang diwariskan orangtua mereka (Tirto.id). Hal ini jelas
menunjukkan bahwa pasangan yang telah menikah dan memiliki anak tidak memiliki pengetahuan dalam hal mengasuh anak. Mereka hanya meneruskan dan merwarisi cara asuh orangtua mereka sebelumnya. Carol Cooper dkk. dalam bukunya Ensiklopedia Perkembangan Anak membagi perkembangan anak ke dalam 4 empat kelompok besar, yaitu kelompok umur 3- 5 tahun, 6-8 tahun, 9-11 tahun, dan 12 -14 tahun. Pengelompokkan ini dilakukan menurut perkembangan anak, baik dari aspek tumbuh kembang, kesehatan, pemahaman dan keterampilan, emosi dan kepribadian serta kehidupan anak. Memahami dunia anak berdasarkan kelompok umur akan memudahkan orangtua menangani atau mengasuh anaknya.

Menurut Carol Cooper dkk, pada umur 3 tahun, seorang anak mulai belajar mandiri, misalnya mencuci, berpakaian dan bahkan membuat keputusan sendiri. Pada tahap ini, orangtua akan mengalami frustasi karena sang anak akan terus mencoba setiap tugas baru. Tugas baru itu akan cepat dipahaminya jika orangtua memberinya sedikit bantuan dengan tenang tanpa mengambil alih.

Baca Juga :   Meredam Politik 'De Vide Et Impera' di Era Globalisasi

Selanjutnya Carol Cooper dkk (2009: 194) menjelaskan anak berumur 9 tahun memiliki sahabat atau sekelompok teman dekat yang sangatlah penting baginya. Pikiran serta persetujuan teman-teman sebayanya memiliki pengaruh yang kuat terhadap dirinya dalam mengambil keputusan.

Berdasarkan contoh kasus kekerasan anak di atas, maka perlu meretasnya dengan cara literasi calon atau orangtua dalam pendidikan anak. Hal Ini dimaksudkan agar pasangan baru atau orangtua memiliki pengetahuan tentang perkembangan anak dan mengetahui bagaimana cara menangani anaknya sesuai dengan kelompok umur anak. Setiap perkembangan anak di bawah pengasuhan orangtua akan memberikan dampak positif terhadap anak. literasi yang memadai dan penuh tanggung jawab sangat dibutuhkan oleh orangtua di tengah maraknya kekerasan terhadap anak. Di samping itu, keterbukaan orangtua dalam dialog dangan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan. Pengalaman-pengalaman bersama mesti dijadikan pijakan selain pengetahuan yang memadai dalam mendidik anak. Oleh karena itu diharapkan untuk semua orangtua memiliki tips-tips pendidikan anak yang baik dalam menangkal berbagai kekerasan atau pengabaian hak-hak dasar anak.

“Neka ta…. neka ta…oke anak remeng wara…weri latung, bok latung…weri woja ako woja… lawa e….e i e… aram ta, latung cokoy tai ta woja woley tai ta… one lime de morin mose ge …” (jangan …jangan …telantarkan anak selagi bayi…jagung ditanam, jagung yang tumbuh, padi ditanam, padi dituai, mungkin akan menjadi jagung unggul, padi unggul…semuanya di tangan Tuhan)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button