cerpen

Lionella

Foto: Pinterest.id

Penulis: Andok Haman
(Mahasiswa Wijaya Putra Surabaya)

Tatapannya kosong, menyapu setiap sudut ruangan. Secangkir kopi masih digenggam erat olehnya. Dia tak menghiraukan kedatanganku yang tengah basah kuyup. Tak menoleh sedikit pun. Apalagi melempar senyum. Aku mengagetinya. Secangkir kopi mendarat di wajahku. Perih memang. Aku menyekanya dengan bajuku yang basah. Aku bertelanjang dada. Menatapnya penuh iba. Dia memelotoiku seakan ingin melahapku bulat-bulat. Aku keburu merengkuhnya dalam peluk. Menghangatkannya ditengah hujan yang mengguyur.

Masih terlukis jelas trauma di wajahnya. Masih belum bisa menyembunyikan itu. Setelah memberinya kecup, aku meninggalkannya ke kamar. Dia masih menikmati kesendirian di ruang tengah. Orang tuaku sedang tidak di rumah. Jadi kami hanya berdua. Dan dia, entah orang tuaku berada di rumah atau tidak, akan tetap seperti itu. Merenung, dengan secangir kopi yang nyaris tak pernah dipisahkan dari cengkeramannya.

Aku menyiapkan barang-barangku. Tujuan utamaku adalah kota Catalan. Markas FC Barcelona, penguasa Liga Spanyol itu. Tentu saja, nama kota itu sudah tidak asing lagi. Spanyol. Aku diizinkan cuti selama satu bulan. Sebenarnya aku cuti sejak dua bulan lalu. Tapi bos keparat itu tak menandatangani surat permohonan cutiku. Dan dia, seperti biasanya duduk diam sambil menyeruput secangkir kopi. Tanpa kata. Membisu. Sesekali dia menghela nafas panjang. Ia masih bergumul dengan penyesalan. Aku menaruh iba padanya. Dia satu-satunya bagiku.

Malam keberangkatanku, dia menghantarku sampai di gerbang. Untuk pertama kalinya semenjak kejadian itu, dia memintaku memeluknya. Mungkin karena dia tahu bahwa aku tidak berada di rumah setidaknya selama satu bulan ke depan. Mobil yang kutumpangi meluncur cepat. Jalanan Lengang. Jam menunjukkan pukul 00:15 WIB. Hanya sesekali terlihat beberapa buaya darat keluar dari tempat percumbuannnya. Pesawatku dijadwalkan terbang pada pukul 01:30 WIB. Perjalanan ke bandara sekitar 15 menit. Jadi tepat satu jam sebelum berangkat saya harus sudah chek in.

Selama di Catalan, aku tinggal di sebuah apartemen. Apartemennya lumayan bagus. Menghadap ke laut lepas.
Aku dikejutkan oleh suara letupan pintu yang dibanting. Berasal dari kamar tetangga. Pria itu memasuki kamarnya. Disusul seorang wanita muda. Cantik. Berpakaian seksi. Senyumnya mengandung dosa. Malam itu hawa dingin menusuk kota Catalan. Lampu di kamar tetangga tak dipadamkan. Mereka menikmati malam berdua. Bercumbu semaunya. Sementara aku, ditengah hujan yang mulai mengguyur, hati menggurun. Gersang. Dari kamarku, terlihat jelas aktivitas keduanya. Mulai melancarkan aksi. Tangan pria itu mulai berpiknik pada tubuh seksi itu. Tanpa mempedulikan dingin yang menusuk tubuh, ia melucuti pakaiannya satu persatu. Kemudian melumatnya dengan rakus bak harimau kelaparan. Mereka tak menutup jendela dan bahkan tak menghiraukan aku yang tengah memperhatikan mereka. Yah, begitulah manusia. Kadang terlihat bodoh kalau sedang bercinta.

Arthur. Begitulah nama pria yang semalam ketika mengajakku berkenalan. Dia blasteran Indo-Brazil. Fasih berbahasa Indonesia. Dia mengaku sangat menyukai dunia malam. Seorang penikmat perempuan juga.
“Aku lama tinggal di Jakarta.” katanya sembari menawariku sebotol minuman keras. Aku hanya menggeleng.
“Karena ayahku pindah ke Spanyol, aku juga ikut pindah.” sambungnya sembari menenggak minumannya yang belum habis. Aku hanya memerhatikannya. Dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Semasa di Jakarta. Aku selalu berkeluyuran setiap malam. Hampir tak pernah di rumah. Tentunya di temani kupu-kupu malam yang cantik. Kadang juga aku mengembat anak perempuan teman ayahku.” Pungkasnya sambil terkekeh. Seakan mengejekku karena tak ikut menenggak minuman bersamanya.
Hape-ku berdering. Lionella, adikku. Tidak biasanya dia menelponku tengah malam.
“Kak, kapan pulang?” Tanyanya tanpa menanyakan kabarku terlebih dahulu.
“Satu minggu lagi sayang.” Jawabku singkat.
“Besok pulang yah. Bye kak. Luv.” Timpalnya dari seberang. Mati. Tanpa menunggu balasan dariku. Ada apa dengan Lionella? Kenapa dia memintaku pulang? Waktu liburanku satu minggu lagi. Tapi aku tak kuasa menolak permintaannya. Aku menyayanginya lebih dari diriku sendiri. Jika dia memintaku pulang malam ini pun aku pasti pulang.

Kamar tetangga belum terdapat tanda-tanda kehidupan. Kecuali jendelanya yang berjoget teritup angin laut karena semalam dibiarkan terbuka. Kaku. Bisu. Dua orang tak berbalut sehelai benang tengah tertidur pulas. Arthur. Ingin ku lempar dari gedung berlantai dua puluh dua itu.

Bedebah!

Aku bergegas ke Bandara Internasional Barcelona. Lionella pasti menungguku. Pasti ada sesuatu yang ingin dia bicarakan.
Aku mendapatinya tengah tertidur pulas di ruang tengah. Secangkir kopi dan sebuah novel menjaga tidurnya. Aku menunggu dia bangun.
“Kak?” Suaranya yang agak sedikit serak memanggilku sambil mendongak. Aku mengecupnya sambil melempar senyum. Dia kembali tertidur. Pangkuanku kini jadi bantalnya.
“Kak, aku mau kembali membuka hati untuk pria lain.”
Aku terkejut. Tak percaya.
“Aku mau mencari pria seperti kakak. Tulus mencintaiku. Walaupun tak jarang aku membuat kakak kesal dan marah.” sambungnya sembari melingkarkan lengannya di pinggangku. Seperti anak kecil. Aku hanya mengangguk sembari mengelus rambutnnya manja.
Kepergianku selama ini mungkin membuatnya sadar bahwa ia membutuhkan seorang pria selain aku, kakak satu-satunya.
Sekarang dia terlihat kusut. Maklum, selama aku di Barcelona, tak ada yang menggurusinya. Termasuk mengingatinya makan.
Ya,
Semenjak kejadian naas yang menimpanya itu, dia tak lagi bergairah menjalani hidup. Seolah semuanya terbawa oleh mantan brengseknya itu. Bagaimana tidak, pria bule yang pernah mengiasi harinya adalah seorang penikmat wanita. Bertopeng dewa, dia berhasil memikat hati adikku. Setelah dia menikmati Lionella adikku, dia pergi. Hilang tak berjejak. Itulah mengapa aku ingin membuang Arthur dari atas apartemennya. Aku benci mereka yang hanya mau menikmati wanita sesaat saja. Siapapun dan dengan alasan apapun. Aku, yang mempunyai adik perempuan sudah merasakan penderitaannya. Bagaimana adikku mengurung diri selama hampir satu tahun. Bayangkan bagaimana pergumulan batin mereka.

Baca Juga :   Lyan

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button