cerpen

Lelaki Keramat

Foto: Pinterest.id

Penulis: Hams Hama

”Akhirnya aku tahu, kenapa kau memilih pergi dari janji yang kita sematkan pada kepala kita. Pada hati. Pada Juli atau Juni itu. Apakah ini semacam strategi yang sudah lama kau konsepkan tapi gagal kau nyatakan? Dan aku adalah sosok yang menggolkan idemu itu?”

Kata-katanya memacu bara api di kepalaku. Lelaki keramat itu sudah tak lagi menampakan getar katanya. Tak ada lagi sajak rindunya. Tak terdengar lagi gelak tawanya. Tak ada soneta hati yang menjenguk. Seakan aromanya mengawan dalam lajur waktu yang tak teratur. Remuk. Dan benar-benar hanyut. Ada alasan kenapa aku menjadi laknat pada janji. Meski kini hanya menyisakan bisik syahdunya yang memenjaraku dalam diam dan patah hati. Dan memang luka hati karena ayah lebih hebat dari gerah kata-katanya yang berdaya. Semakin jarak ini membentang, semakin aromanya mengawan. Kabur. Dan tak lagi sedap.

Sebulan waktu merayap sepi. Kutanggung dalam sayap patah yang kian merancu. Bergelimang tanya menggantung pada dinding-dinding kamar yang kian angkuh ini. Apa aku mengirimnya via SMS? Tidak. Dia lelaki keramat yang ingin memanggil masa laluku. Namun, kenapa aku merindukannya? Apa benar rindu itu lebih menyakitkan dari pada kematian seperti anggapanya itu? Ah, persetan dengan lelaki itu. Bagaimana pun aku harus kuat, lebih dari daya kata-katanya yang kini semakin memperdayaku. Sampai kapan resah dada ini mematuk-matuk sepi-Mu Tuhan?

”Menjaga jarak”
Kepadamu perempuan yang apik menyembunyikan asa
Aku merindumu mengumpul jarak. Sebisa inikah kau jaga jarak kita?
Pada mata yang tak lagi mengerdip tatap
Dan bibir yang tak lagi mengucap decak kata?

Apa karena aku memanggil Tuhan yang telah kusembunyi dalam cadar ini hingga lelaki itu kembali? Apa ini pembelaan-Mu setelah bertahun-tahun aku memikul asaku Tuhan? Ah, ini tobatku yang dengan berani menyimpanMu di luar akal dan budiku. Berkali-kali lelaki itu mengontakku. Tapi aku masih tetap Eda yang dulu. Eda yang gemar mencipta jarak. Menjaga masa lalu dengan apik. Eda yang terlanjur menjustifikasi secara sepihak kalau laki-laki memang pengecut dan manusia yang tak bertanggung jawab. Dan ini balas dendamku yang membatu pada sosok Khe lelaki keramat yang gemar memanggil masa laluku. Semakin jarak ini tercipta, semakin diri ini direndam bara.

“Khe kau lelaki keramat milik dunia yang kini jadi milikku”.
”Hai perempuan, bagaimana kabarmu? Sudahkah kampung tengahmu terisi?”
”Hei..namaku bukan perempuan, hehehe nyong e. Ada-ada saja”
“Hahaha, tapi bisakah kita berkenalan? Bagaimana kalau aku menyapamu perempuan saja? Dan aku lelaki saja?”
“Bukankah kita ada nama? Hahaha gara-gara sekali (maaf kalau aku cerewet nyong)”
“Cerewet itu seksi dan aku menyukainya. Nama? Bukankah itu sebuah pemberian manusia? Dan pentingkah sebuah nama untukmu? Hehe”
“Hemm jangan ajak aku untuk berdebat. Bibir ini akan gerah dan mudah terbakar. Paham??”

Tak ada balasan. Lelaki itu sudah off. “Huff dasar lelaki pemalu. Katanya mau berkenalan. Nyatanya bermental kerupuk. Apalagi jika sampai beradu tatap, bergenggam tangan, pasti rupa tampak seperti Udang goreng. Hehehe (sori nyong)”.

Baca Juga :   Kopi Ibu

Malam membayang dalam pekat yang legam. Kuisi catatan harianku ditemani lilin yang berpendar. Jendela kubiarkan tersibak. Angin sepoi-sepoi menelusup. Segelas kopi dingin telah kehilangan aromanya. Keesokan harinya aku melihat ada banyak pemberitahuan baru dalam facebook-ku. Ingatanku langsung pada lelaki yang mengusik kesendirianku. Huff hatiku benar-benar deg deg-an ketika bertengger 5 pesan masuk darinya, juga like dan coment pada foto-fotoku. Rupanya ia tak mau mengalah dengan balasan inboxku kemarin. Dasar laki-laki penguasa dan rakus. Hehehe

”Ha? Bibir? Mudah? Terbakar?
Lelaki pemalu? Bermental kerupuk? Beradu tatap? Bergandeng tangan?
Boleh-boleh saja. Itu kebebasanmu menilai. Aku tak cukup berani dengan maksudmu perempuan. Jadi, suka dengan caraku? Hehehe”
“Huff. Banyak mengomel. Tidak mau jujur jika memang tabiat pemalu hehehe”
“Hemm sudah cek komentarku? Itu serius. Maaf jika tak terima. Hehehe”

Aku terharu dengan sikap lelaki itu. Ada yang lain dari lelaki itu. Aku mulai menaruh sedikit perhatian sembari menjaga kemungkinan-kemungkinan yang mencurigakan. Huff. Komentar-komentarnya semakin memacu jantungku. Ada rasa gugup ketika kata-katanya menjalar menuju memori. Dan hati benar-benar terciut. Ada letupan hati yang menderu bak ombak menghempas karang.

“Senyum yang indah. Kulit yang manis. Tatapan mata yang tajam. Ada apa dengan tatapanmu? Saya suka dengan senyummu orang manis hehehe”. Jujur ini sebuah pujian yang terlampau hiper bagiku. Bagaimana ia menilaiku yang kental hitam. Sebagaimana perempuan Alor yang akrab dengan matahari ini? Bermula dari komentar pada postigan foto-fotoku ada perasaan yang meneduhkan pada sosok lelaki itu. Matanya menyimpan beribu kebohongan. Tapi bibirnya tak tanggung-tanggung seperti oase yang menyejukkan. Dan aku menjadi jatuh hati pada senyum itu. Selanjutnya seakan aku tak bisa berpaling pada sosoknya. Dan cukup menyiksa jika tak ada kabar darinya. Hal yang tak bisa kujelaskan padanya tentang diriku adalah tentang ayahku. Pengalaman traumatis karena ayah memang lebih hebat dari getar kata-katanya. Dan aku masih tak sanggup untuk menceritakan kepada siapa pun tentang ini. Hanya aku dan ibu yang tahu.
“Kau tidak akan pernah mengerti dengan air mataku yang tak habis-habisnya tumpah. Kapankah lelakiku meredamnya di batas rasa yang kini jadi milikmu? Apa engkau sengaja membiarkan mata ini nanah dan hanya iba dengan diammu? Kau benar-benar membuatku menjadi perempuan gila di mata laki-laki”

“Tapi berhentilah menangis. Biarkan diamku yang kakuh menghapus air matamu. Mari sandarlah dalam bahuku dan rasakan detak jantungku dalam dekapmu yang paling erat. Sudihkah?”
“Ini serius. Aku tak sedang bersandiwara. Maaf jika hingga detik ini aku belum sanggup menceritakan semuanya tentangku. Kenapa lelaki sepertimu menginginkan masa lalu yang dihadapi perempuan sepertiku? Sudah kukatakan, kau tak akan mengerti dan akalmu tak seberapa hebat ketika bibir ini dengan jujur menceritakan semuanya. Aku tau kau kecewa. Dan bukan kali ini aku mengecewakanmu. Selalu saja ada yang kusembunyikan. Bisakah kau memahami situasiku ini?”

Baca Juga :   Kepada Fernando

“Aku sadar kita tidak sedang bersandiwara Eda. Bukankah aku sudah berutang janji untuk selalu menerima keadaanmu apa adanya? Pengalamanmu. Traumamu. Aku hanya ingin agar tak ada air mata yang tumpah. Tak ada masa lalu yang dibiarkan membusuk. Dan ingatlah!! Hidup ini adalah kumpulan yang tersisa dari masa lalu. Siapa pun tak akan bisa dengan penuh optimisme memandang masa depannya ketika ia tak pernah berdamai dengan masa lalu. Dan yang terberat adalah masa lalu itu tak terlumpuhkan sebelum seseorang menerimanya dan berdamai dengannya”.

Aku menangis sejadi-jadinya, mengalahkan perempuan-perempuan Manggarai yang Lorang1. Melengking sejadi-jadinya. Tersendu-sendu. Histeris. Bahkan ada rasa jengkel yang berjubel. Namun, semakin aku jengkel dengan sikap lelaki seperti Khe yang sok idealis dan moralis itu sehabis telepon yang kututup dengan air mata, semakin rasaku untuk memeluk, merasakan aroma tubuhnya, dekapannya, deru nafasnya yang menjalar, mendesakku untuk secepatnya bertemu. Dia adalah sosok lelaki keramat yang selalu bisa membuatku menangis dan selalu saja berhasil mengendalikan sesal, sedih dan egoku. Bahkan dalam hitungan menit ia bisa menjadi obat yang ampuh untuk meneduhkan hati yang kacau. Namun, aku aku masih tak terkalahkan oleh kelebihannya menakluk seorang perempuan sepertiku. Aku masih cukup kuat dan tegar pada masa laluku yang pahit. Aku masih tak percaya dengan daya kata-katanya yang memaku sendiri dan sepiku. Dan entahlah, ternyata masih ada lelaki yang ingin mendamaikan hati seorang perempuan yang penuh masa lalu yang menyakitkan. Apakah karena ukuran sakit/menyakitkan itu sesuatu yang subjektif?

Akhir-akhir ini Khe lebih banyak diam. Ada rasa kaku yang mematikan gerah dan rinduku akan suara dan laju kata-katanya saat kutelepon. Dan lebih menyakitkan, ia tak seperti biasanya selalu yang pertama mengabariku. Hal ini semakin membuatku menimbun curiga. Jangan-jangan ada perempuan lain yang menangkap aroma tubuhnya, ada perempuan lain yang bisa menahan lajur kata-katanya, dan aku menjadi perempuan yang kaku tak laku di matanya yang kini semakin kurindu tatap matanya lekat, erat sampai karat. Rindu di sini semakin menjadi-jadi membunuhku dalam sepi yang paling mabuk, melumut bersama waktu.

Rasa curigaku semakin panas dan benar-benar memabukkan. Ingin kumuntahkan semua kepenatan sehabis telephone terakhir kalinya itu. Apa ia gerah dan sudah muak dengan caraku mencintainya? Berkali-kali kukirim inbox tapi ia tak lagi nongol di dunia sosmed. Benar-benar membuatku tersiksa. Apa diam itu adalah benci seperti anggapku? Apakah ia berbohong; diam adalah cinta yang mematikan? Atau diam adalah setia yang paling luhur? Jangan-jangan diam adalah pengkhianatan itu sendiri dan kali ini ia hendak mengkhianatiku? Huff dasar lelaki. Aku harus keluar dari kerancuan ini. Aku adalah perempuan yang tak termakan kata-kata bukan? Tapi kenapa resah dan gerah semakin menghampiriku? Apa karena aku terlanjur banyak mencurigai lelaki itu? Atau apakah ini adalah cinta yang paradoks, rumit serumit waktu?

Baca Juga :   Merawat Jalan Sunyi

Ruteng yang dingin dan kaku tak sabar menampung rinduku pada lelaki itu. Kukirim sebuah ajakan agar secepatnya bertemu.
“Lelakiku, pernahkah aku hadir dalam lajur mimpi-mimpimu? Pernahkah kau tulis puisi rindu tentangku di batas jaga kita sebelum sang waktu mempertemukan kita, mempertemukan rindu-rindu yang tak sempat kupeluk lekat dalam nadar rasaku pada sosok dan aromamu? Atau sudah mengawankah decak katamu kala apik menyembunyikan anganmu, dalam barisan dan imaji? Rindu di sini adalah hakim yang keji. Memakuku pada batas jaga dan resah. Maukah rindu ini menjadi batu? Relakah?”

Sehabis mengirimkan guratan rindu akan hadirnya, rasa legah menjalar dalam dada yang sesak. Yang tersisa seberkas cahaya harapan akan kejutan-kejutan balasan sebagaimana yang sudah lalu. Kesabaran adalah harapan yang tersisa bagiku dalam penantian seperti ini.
“Mungkinkah waktu menjadi milik kita untuk saling beradu tatap, bergenggam tangan atau renyah gelak tawa saat lidah kita berapi mengisi kekosongan itu kelak? Aku takut pada waktu. Aku tidak berjanji. Aku akan mengingatnya. Dan rindu di situ tak kubiarkan membatu. Biarkan rindu itu menjalar dalam darahmu agar tetap hidup dan api cintamu tetap nyala”.

“Huff,takut pada waktu? Itu artinya lelakiku tak ingin menemuiku. Kenapa harus takut menemuiku? Jika takutmu besar pada waktu, bagaimana kalau kita yang menciptakan waktu itu. Bisakah bulan Juni atau Juli kita dipertemukan? Dan dengan apakah rindu itu dicairkan? Apa ini sebuah pembiaran agar rindu menjadi tak berarah. Inikah yang kau diamkan, dalam kakuh dan pelit kata kala kuhubungi? Kau sudah tampak kehilangan manismu. Apa diammu itu adalah usaha membunuh kesendirianku yang kujaga selama 25 tahun?”

“Yah, kurasa ajakanmu tepat. Sekarang Mei hendak di ujung waktu. Jadi mari kita mengumpul rindu dan jarak kita pada Juni atau Juli itu. Dan aku takut jika diburu kesendirianmu yang telah kau jaga sepanjang hidupmu. Maukah dirimu kujumpai untuk membincangkan masa lalumu? Dan aku masih belum layak untuk menyoal kesendirianmu. Kuharap kau memahaminya”

Rupanya Khe mengerti maksudku bahwa aku hendak serius dengan semuanya. Sejak kujanjikan untuk bertemu dengannya, lelaki itu sudah kehilangan gelak tawanya. Mungkinkah ia benar-benar fokus mengumpul rindu pada Juli atau Juni itu? Seperti yang kualami sekarang. Semakin Mei menuju akhir, semakin hatiku dipacu rindu yang membatu, panas, dan aku benar-benar tak tahan akan hari itu. Aromanya seakan menjagaku dalam sepi yang paling menakutkan.

Semua janji menjadi pupus ketika kemarin ibu memintaku untuk pulang ke Kupang. Ibu semakin karat. Sakitnya semakin tak terurus apalagi tak ada siapapun di rumah. Ayah lelaki bejat itu tak mungkin kembali pada ibu. Dan aku tak membutuhkannya. Dia sosok yang paling menakutkan buatku. Aku tersadar ketika Kapal Veri menuju Kupang meninggalkan dermaga Aimere. Aku puas janji di bulan Juni atau Juli itu cukup mengobati sakitku tentang semua lelaki.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button